Seorang ayah adalah
kebanggaan, ia menjadi figur bagi anak dan keluarganya. Tanggung jawab dan
kepemimpinannya merupakan andil besar yang menumbuhkan rasa percaya dan
kebanggaan. Kemampuan untuk menjamin hajat hidup dan membawa pada arah yang
didamba-dambakan, memberinya legitimasi untuk berdiri di muka dan diikuti. Maka
dari itu Al-Quran mengistilahkan para pendahulu dengan istilah ayah-ayah ( آباء ), yang membuat para
generasi pengikutnya menolak satu kebenaran yang datang setelahnya.
بَلْ قَالُوا
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم
مُّهْتَدُونَ [٤٣: ٢٢]
“Bahkan
mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut
suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan
(mengikuti) jejak mereka". (Az-Zukhruf/43: 22)
_
Lukman adalah seorang
ayah yang memiliki kedudukan istimewa sehingga ia diabadikan dalam satu surah
dari Al-Quran. Ia bukan seorang nabi dan tidak menerima wahyu, menurut pendapat
jumhur, akan tetapi ia dikaruniai hikmah. Ath-Thabari menyimpulkan
mengenai hikmah yang didapat Luqman sebagai sifat memahami agama, berfikir
rasional dan kemampuan dalam berkata benar.
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ
أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن
كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ [٣١: ١٢]
“Dan
sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu; "hendaklah
bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak
bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".”
(Luqman/31: 12)
Perkataan Luqman kepada
anaknya ditegaskan sebagai bentuk mau’izhah (pembelajaran) yang
menunjukkan hal prinsip yang senantiasa ditransformasikan kepada (mendidik) anak.
Prinsip pembelajaran dimaksud dapat dilihat nasihat-nasihatnya yang diungkapkan
Al-Quran pada ayat 13, 16, 17, 18 dan 19 yang hendaknya menjadi acuan dalam
pendidikan anak, yang meliputi pokok-pokok pelajaran sebagai berikut:
a)
Tidak menyekutukan Allah
(ayat 13)
Menjauhkan anak dari keyakinan, perilaku dan sikap
mempersekutukan Allah [LINK] (syirik/musyrik). Bahwa tidak ada yang lain
untuk disembah, beribadah padanya dan menyandarkan segala urusan (syirik
rububiyah dan uluhiyah), tetapi hanya boleh dinisbatkan kepada
Allah. Kemusyrikan nyaris menyerupai keimanan karena ia menyangkut keyakinan
seseorang sehingga tidak sedikit orang yang merasa berada dalam keimanan
padahal yang ia yakini adalah perkara yang menghancurkan keimanannya sendiri.
Oleh karena itu kemudian Luqman menegaskan kedudukan syirik sebagai satu
kezhaliman yang sangat besar.
b)
Tidak menyepelekan dosa
sekecil apapun (ayat 16)
Kecenderungan menyepelekan dosa seringkali dilakukan
manusia untuk membebaskan diri dari beban kesalahan yang berlaku atasnya.
Kecenderungan seperti ini merupakan sikap membodohi diri sendiri dan akan
menempatkan manusia cenderung merasa nyaman dalam perbuatan dosa. Dalam hal ini
Luqman mengingatkan bahwasannya Allah akan memperhitungkan
dosa/kesalahan-kesalahan tersebut. Yang paling harus dikhawatirkan adalah
munculnya perasaan bangga dengan dosa-dosa dan kecenderungan kuat untuk selalu
menentang kebaikan.
c)
Kewajiban Prinsip (ayat
17)
Shalat lima waktu, merupakan tolok ukur [LINK] yang akan
menentukan tindakan dan perilaku seorang anak manusia dalam beribadah. Al-Quran
di satu sisi telah memperingatkan ancaman akan generasi yang mengabaikan shalat
yang merupakan akar kesesatan (lih. QS 19: 59).
Amar ma’ruf nahy munkar, merupakan substansi kebersamaan
dalam mewujudkan kebaikan sesama dan secara bersama-sama. Keterikatan seorang
individu (anak) akan lebih kuat dengan sifat saling tolong menolong dalam
bentuk ajakan dan perintah untuk berbuat baik dan benar serta mencegah
perbuatan-perbuatan munkar.
Dan sangat penting untuk menanamkan kesabaran dalam ketaatan dan amar
ma’ruf nahy munkar, mengingat berbagai kendala, tantangan dan godaan untuk
berpaling dari kebenaran (beribadah) datang dari berbagai ruang lingkup dengan
berbagai cara.
_
d)
Tidak sombong, sikap
sederhana dan lemah lembut (ayat 18 dan 19)
Kesederhanaan nyaris tidak pernah menjadi tren atau gaya hidup populer.
Anak dan remaja sangatlah identik dengan ikon-ikon populer dan trendi, yang
seringkali menafikan prinsip-prinsip hidup Islami seperti gaya hidup sederhana.
Tetapi sebaliknya, saling menyombongkan diri dan sikap pamer seringkali
menggejala dengan kuat sehingga tidak sedikit orang tua yang cukup kelabakan
dalam menghadapi pola hidup anak-anaknya. Menanamkan sikap sederhana dapat
dimulai dengan menempatkan segala sesuatu secara adil dan sesuai dengan
kegunaannya. Anak dan remaja (baca: generasi muda) juga sangat identik dengan
watak keras dan reaktif.
Hikmah yang didapat oleh
Luqman adalah satu petunjuk bagi setiap orang tua dalam tanggung jawabnya
terhadap anak-anak. Banyak sudut pandang dan paradigma yang melatarbelakangi
berbagai pola pengasuhan dalam membesarkan anak, yang apabila tidak didasari
dengan prinsip-prinsip yang benar bisa jadi orang tualah yang pertama kali
menyesatkan anak-anak dari fitroh mereka. Ma’aadzallaah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!