Menjelang Ramadhan, Hati-hati dengan Tabi'at Ahli Kitab yang Satu Ini


Rasulullah s.a.w. mengatakan:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ، لَتَبِعْتُمُوهُمْ "، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: " فَمَنْ؟ (رواه أحمد عن أبي هريرة ومسلم عن أبي سعيد الخدري)
“Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan ketika masuk ke dalam lubang biyawak sekalipun, kalian akan mengikutinya.” Para shahabat bertanya, “apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Rasalullah s.a.w. menjawab, “siapa lagi?” (Riwayat Ahmad, dari Abu Hurairah r.a.; Muslim, dari Abu Said Al-Khudriy)

_
Banyak diungkapkan di dalam Al-Quran bagaimana perilaku umat terdahulu, ahli kitab, dalam mensikapi dakwah para rasul yang diutus kepada mereka dengan membawa syari’at Allah. Sikap menentang, memelintir fakta-fakta kebenaran bahwa mendustakan ayat-ayat Allah. Gambaran lain mengenai sikap mereka adalah kecenderungan untuk berselisih setelah mendapat petunjuk yang jelas yang merupakan ironi yang sangat nyata yang tidak lain dipicu oleh kecenderungan untuk mengikuti kebencian yang ada pada mereka. Bahkan hal tersebut dijelaskan di dalam Al-Quran, salah satunya mengenai kebenaran Al-Islam yang telah mereka ketahui akan tetapi kemudian mereka menyelisihinya karena kebencian pada kelompok orang yang berada di luar kelompok mereka (lih. QS. 3: 19).
Al-Quran juga mengungkapkan bagaimana mereka saling menuduh satu sama lain dalam berhujjah:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ [٢: ١١٣]
“Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu.” (QS. 2: 113)

Sikap saling menyalahkan di dalam ayat tersebut ditegaskan pula sebagai karakter orang-orang yang tidak berilmu dalam berhujjah. Fenomena tersebut salah satunya dapat dilihat pada saat menjelang dan atau selama bulan Ramadhan, dimana ada sekelompok orang yang suka memunculkan perbedaan paham yang mengarah pada perselisihan atau perpecahan. Dengan keleluasaan yang sangat luas untuk menyemarakkan bulan yang agung tersebut dengan berbagai amal-ibadah, kajian-kajian tak jarang diisi dengan bentuk pembahasan menyangkut perbedaan paham yang bersifat furu’iyah, dihiasi dengan kecenderungan saling menyalahkan dan tidak mau kalah. Dari perbedaan tersebut itu pula kemudian tidak jarang menyulut permusuhan atas nama kelompok, pengikut madzhab atau sebatas antar individu.
_
Ramadhan adalah bulan penuh barokah (mubarak), padanya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk dan penjelas akan petunjuk serta pembeda yang haq dari yang bathil. Dalam berpuasa di bulan tersebut banyak hikmah yang luas bagi kesatuan dan persatuan umat. Alangkah ironisnya apabila ternyata bulan tersebut justru menjadi ajang untuk saling bertikai, saling menjatuhkan dan menyebabkan putusnya tali silaturahim (ukhuwah) yang seharusnya semakin kuat dikukuhkan.



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!