Air merupakan limpahan nikmat yang sangat besar dari
Allag SWT yang semestinya dapat memjadikan hamba-Nya selalu bersyukur
kepada-Nya. Tertundanya turun hujan merupakan ujian agar hamba-Nya dapat
kembali dari dosa-dosa dan maksiat kepada ketaatan, taubat dan banyak
beristighfar. Keadaan kekurangan air merupakan pengingat kepada makhluk-Nya
akan kebutuhan yang sangat mendesak dan bersifat terus menerus di dalam
kehidupan, yang seyogyanya dapat mengingatkan seseorang tentang penciptaan,
kelangsungan hidup, penjagaan dan kelapangan yang dianugerahkan Allah SWT.
_
Seyogyanya kekurangan air juga dapat mengingatkan kita akan
rahmat – kasih sayang – Allah yang dengannya pula disyari’atkan satu ibadah shalat
dan doa untuk mendatangkan hujan kepada Allah Yang Maha Memiliki, yang
menguasai ihwalnya secara mutlak dengan mengikrarkan sempurnanya sifat kekayaan
Allah dan keadaan kita sebagai makhluk yang sangat membutuhkan (faqir).
Shalat Istisqa hukumnya sunnah muakkadah untuk
ditunaikan di saat/musim kekurangan air, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Disunnahkan
secara berjama’ah, akan tetapi sah pula ditunaikan secara munfarid. Doa istisqa
(memohon turun hujan) dapat dilakukan dengan atau tanpa shalat. Disunnahkan
di lapangan yang jauh dari keramaian pemukiman, akan tetapi sah pula di masjid
dan doa tersebut juga sunnah dipanjatkan pada waktu shalat Jumat. Shalat
istisqa dapat dilaksanakan kapan saja selain pada waktu-waktu terlarang untuk
shalat.
عَنْ عَبْداللهِ بن
زَيْدٍ المَازِنِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه
وسلم - إِلَى المُصَلَّى يَسْتَسْقِي، وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ، فَصَلَّى
رَكْعَتَيْنِ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ. (متفق عليه)
Dari Abdullah bin Zaid Al-Mazini r.a., ia berkata:
Rasulullah s.a.w. berangkat ke mushalla untuk memohon turun hujan, kemudian
menghadap kiblat, shalat dua rakaat dan membalik serempangnya. (Muttafaq ‘Alaih)
Disunnahkan bagi kaum muslimin ketika berangkat untuk
shalat istisqa untuk berangkat dengan merendahkan diri, penuh rasa tawadhu’,
tunduk dan khusyu’ dan dapat menunjukkan sifat membutuhkan (faqir) secara
total kepada Allah SWT baik dalam berkata-kata maupun tingkah laku. Oleh karenanya
tidak dianjurkan untuk berhias diri dan bermewah-mewahan.
إن رسول الله - صلى
الله عليه وسلم - خرج متبذلا متواضعا متضرعا حتى أتى المصلى فلم يخطب خطبتكم هذه
ولكن لم يزل في الدعاء والتضرع والتكبير وصلى ركعتين كما كان يصلي في العيد. (أخرجه أبو داود والترمذي عن ابن عباس رضي الله عنه)
Bahwasannya Rasulullah s.a.w. berangkat dengan tunduk
merendahkan diri sehingga sampai di tempat shalat. Beliau s.a.w. tidak pernah
berkhutbah seperti khutbah yang satu ini, melainkan ia senantiasa berdoa,
merendahkan diri dan bertakbir (mengagungkan Allah). kemudian shalat dua raka’at
seperti shalat ‘ied. (Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dari Ibn Abbas r.a.)
_
Di dalam doa istisqa, disunnahkan mengangkat tangan
tinggi-tinggi sebagaimana Rasulullah s.a.w. melakukannya sampai terlihat putih
ketiaknya. Setelah berdoa kemudian membalikkan serempang dari kanan ke kiri dan
atau sebaliknya. Berikut ini adalah doa-doa istisqa yang terdapat dalam sunnah
Rasulullah s.a.w. antara lain:
الحَمْدُ للهِ رَب
العَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ اللهمَّ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
الغَنِيُّ وَنَحْنُ الفُقَرَاءُ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الغَيْث وَاجْعَلْ مَا
أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلاَغاً إِلَى حِينٍ. (أخرجه أبو داود)
اللهمَّ أَغِثْنَا،
اللهمَّ أَغِثْنَا، اللهمَّ أَغِثْنَا. (متفق عليه)
اللهمَّ اسْقِنَا،
اللهمَّ اسْقِنَا، اللهمَّ اسْقِنَا. (أخرجه
البخاري)
اللهمَّ اسْقِنَا
غَيْثاً مُغِيثاً مَرِيئاً مَرِيعاً نَافِعاً غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ.
(أخرجه أبو داود)
اللهمَّ اسْقِ
عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ المَيِّتَ. (أخرجه مالك وأبو داود)
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang, Yang Menguasai hari pembalasan. Tidak ada tuhan
selain Allah, Dzat yang (selalu) melakukan apapun yang dikehendaki-Nya. Ya
Allah, Engkaulah Allah (yang) tiada tuhan selain Engkau yang Maha Kaya,
(sedangkan) kami sangat faqir; Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa
yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan kesampaian pada waktu tertentu. (Abu Dawud)
Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah,
turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah turunkanlah hujan pada kami. (Muttafaq ‘alaih)
Ya Allah, berilah kami hujan, berilah kami hujan. Ya
Allah, berilah kami hujan. Ya Allah berilah kami hujan. (Bukhari)
Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan yang mengalir serta
menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, dengan segera dan tidak
ditangguhkan. (Abu Dawud)
Ya Allah, berilah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan
binatang-binatang, tebarkanlah rahmat-Mu dan hidupkanlah bumi-Mu yang mati. (Malik
dan Abu Dawud)
Sumber: At-Tuwaijiri, Mausu’ah al-fiqh al-islamiy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!