Kaidah:
النص الشرعي لا دلالة له على حكم مفهوم
المخالفة
“Tidak ada dilalah pada
Nash Syar’i atas hukum pada makna tersirat – dari sudut pandang – sebaliknya (mafhum
mukhalafah).”
Apabila satu nash menunjukkan
satu hukum yang sifat batasan (jenis) tertentu, dengan sifat tertentu, memiliki
syarat tertentu, berorientasi pada satu maksud/target atau batasan bilangan, keberadaan
hukum nash tersebut pada kondisi yang sesuai dengan batasan adalah (hukum) yang
tersurat pada nash tersebut. Adapun hukum yang bersifat kebalikan dari batasan
yang ditetapkan disebut sebagai mafhum mukhalafah.
Makna umum dari kaidah ini adalah
bahwasannya pada suatu nash tidak terdapat dilalah hukum mafhum
mukhalafah untuk makna tersuratnya, akan tetapi hukum mafhum mukhalafah yang
didiamkan (maskut ‘anh) dapat diketahui dengan dalil lain dari
dalil-dalil syar’i seperti hukum kebolehan pada segala sesuatu.
Perhatikan Firman Allah SWT:
قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى
طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً [٦: ١٤٥]
“Katakanlah: "Tiadalah aku
peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi
orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah
yang mengalir ...,” (Al-An’am/6: 145)
Hukum yang tersurat (mantuq)
adalah haramnya darah yang mengalir. Adapun kualifikasi darah yang tidak
mengalir merupakah hukum yang tersirat (mafhum mukhalafah) yang tidak
ada dilalah dari ayat ini akan hukumnya. Akan tetapi hukum kebolehan “darah”
yang tidak mengalir diketahui dari hukum asal tentang kebolehan segala sesuatu
atau dalil lain seperti hadits Nabi ﷺ yang menyebutkan,
“dihalalkan kepada kalian dua bangkai dan dua jenis darah. Adapun dua bangkai
ialah ikan dan belalang, dan dua darah ialah hati dan limpa.”.
Bentuk Mafhum Mukhalafah
menurut bentuk pembatasan pada hukum-hukum tersurat (mantuq) terdiri
dari lima macam:
1)
Sifat (Mafhum al-Wasf); seperti
dalam Firman Allah SWT, “...(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak
kandungmu (menantu);” (An-Nisa/4: 23), dengan mafhum mukhalafah pada
sifat untuk anak-anak susuan.
2)
Sasaran/Target (Mafhum
al-Ghayah); seperti pada Firman Allah SWT, “Kemudian jika si suami
mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal
baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain,” (Al-Baqarah/2: 230), dengan mafhum
mukhalafah pada sasarannya suami lain yang mentalaq pada kali ketiga.
_
3)
Syarat (Mafhum al-Syarth);
seperti pada Firman Allah SWT, “... Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah
ditalaq) itu sedang hamil,” (Ath-Thalaq/65: 6), dengan mafhum mukhalafah pada
syaratnya perempuan yang ditalaq yang tidak sedang hamil.
4)
Bilangan (Mafhum al-‘Adad);
seperti pada Firman Allah SWT, “maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan
puluh kali deraan,” (An-Nur/24: 4), dengan mafhum mukhalafah pada
bilangan lebih sedikit atau lebih banyak dari 80.
5)
Gelar (Mafhum al-Laqb); seperti
pada Firman Allah SWT, “Muhammad itu adalah utusan Allah,” (Al-Fath/48: 29),
dengan mafhum mukhalafah pada gelar selain Muhammad ﷺ; atau “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; ...,”
(An-Nisa/4: 23), dengan mafhum mukhalafah gelar selain ibu kalian.
Ringkasan pembahasan
Abdul Wahhab Al-Khallaf dalam ‘Ilm Ushul Al-Fiqh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!