I’rab dan Bina (Mu'rab - Mabni)

 

Di dalam ilmu nahwu terdapat satu istilah yang dapat dipandang sebagai satu pengungkapan pokok yang bentuknya tak lebih dari sekedar perubahan kecil pada huruf akhir suatu kata. Istilah tersebut adalah i’rab (banyak juga disebut dengan mu’rab; mengacu pada objek i’rab sendiri, yakni pemberlakuannya pada ism dan fi’l).

_

Pengertian i’rab dalam ilmu nahwu adalah:

تغيير أواخر الكلمة لاضطراب عواملٍ

“Perubahan akhir kata yang dilatarbelakangi/disebabkan oleh perubahan (kedudukan) ‘amil.”

Contoh:

رَسُوْلٌ – رَسُوْلًا – بِرَسُوْلٍ

يَفْعَلُ – أَنْ يَّفْعَلَ – لَمْ يَفْعَلْ

Pada contoh tersebut dapat dilihat bagaimana harakat masing-masing dari contoh ism dan fi’l berganti-ganti/berubah pada huruf akhir, yang sebenarnya menunjukkan kedudukan kata dalam suatu kalimat misalnya apakah ia sebagai subjek pelaku (fa’il) atau objek (maf’ul bih).

I’rab terdiri dari empat bentuk, yaitu raf’, nashb, khafdh dan jazm. Pada ism berlaku i’rab raf’, nashb dan khafdh. Pada fi’l berlaku i’rab raf’, nashb dan jazm.

 

Tanbih; I’rab yang berlaku pada setiap kata dalam merupakan perubahan kedudukan atau pergantian makna (berdasar) kedudukan tersebut. Meskipun bentuknya sekedar umpama perubahan harokat pada akhir kata, maka mengganti harokat secara tidak sesuai kedudukannya dapat merubah makna yang terkandung dalam rangkaian kalimat/jumlah tersebut. Seperti pada contoh ayat berikut:

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”

Bahwasannya jika tertukar harokat akhir pada lafazh الله dan lafazh العلماء , makna maknanya yang terkandung dalam ayat tersebut menjadi terbalik dan menyesatkan.

 

 

Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!