Pernahkan Anda mendengar
orang yang enggan melakukan sesuatu, membantu orang atau menyertai orang dalam kebaikan
dengan mengemukakan alasan yang dibuat-buat? Misalnya bermakmum kepada orang
yang dipandang tidak sekelompok dengannya, atau membantu pekerjaan orang yang
dianggapnya menjadi saingan, atau seperti ungkapan “kirang upami” (ungkapan
halus dalam bahasa Sunda untuk mengungkapkan alasan menolak sesuatu) di saat
sebenarnya ia mampu dan harus melakukannya, jika hal tersebut bukan termasuk
maksiat sesungguhnya alasan tersebut dibuat untuk menutupi sesuatu yang bisa
sangat membahayakan dirinya, yakni ketidakikhlasan.
_
Ikhlas beramal, ia tidak
sesederhana melafalkan niat ikhlas lillahi ta’ala atau mengikrarkan
sumpah untuk mengklaim sesuatu tentang keikhlasannya, sekiranya seseorang banyak
memiliki kepentingan terhadap sesuatu terutama dalam beribadah. Seorang
politisi yang bertandang ke mesjid, seorang
menantu yang tiba-tiba bertandang ke mesjid di saat ada mertua atau yang hampir
sulit untuk dinafikan dari banyak orang; senang ketika diberi dan marah saat
tidak diberi sampai berani mengikrarkan bahwa ia tidak akan bertindak kalau
bukan ia yang diutamakan.
Ketidakikhlasan, terutama
di dalam beribadah, bukanlah persoalan main-main atau sepele. Sikap riya dan
sum’ah, yang dikatakan Rasulullah s.a.w. sebagai syirik kecil, bukanlah
hal kecil sebab soal kemusyrikan meskipun ia kecil ia dapat membatalkan amal
seseorang yang menggunung sekalipun. Di hari kiamat kelak yang cukup identik
dengan dosa musyrik yang berpangkal dari ketidakikhlasan yang paling pertama
didakwa bisa jadi orang yang dianggap luar biasa pada pandangan orang banyak. Disebutkan
bahwa orang yang ahli Al-Quran, orang yang gemar berderma dan yang terbunuh di
medan perang adalah orang-orang yang pertama kali didakwa dan di saat mereka menjawab
tentang apa saja yang telah diperbuatnya, Allah SWT menghardik dengan
mengatakan, “engkau dusta!”
Kepada ahli Al-Quran
dikatakan, “justru engkau hanya ingin dikatakan orang sebagai ahli Al-Quran dan
orang-orang sudah mengatakan demikian.” Kepada orang kaya yang gemar berderma
dikatakan, “justru engkau hanya ingin disebut dermawan ...”. Kepada orang yang
terbunuh dalam peperangan dikatakan, “justru engkau hanya menginginkan orang
menyebutmu sebagai pemberani”. Kepada ketiganya ditegaskan Allah dan para
malaikat-Nya, “justru hari ini kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari Kami.
Terkait tiga kelompok orang tersebut, Rasulullah s.a.w. berkata:
أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّارُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذي والنسائى عن أبى هريرة)
“Tiga (kelompok) makhluk Allah tersebut itulah yang pertama kali
api neraka berkobar oleh mereka (sebagai suluhnya).” (Riwayat Tirmidzi dan
Nasai dari Abu Hurairah r.a.)
Pokok perintah agama
untuk beribadah kepada Allah semata (tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun) merupakan hal paling fundamental. Bagaimana ketidakikhlasan dapat
merusak agama seseorang, tergantung seberapa besar kepentingan seseorang pada
sesuatu. Oleh karena itu kadang-kadang yang ikhlas sering dianggap tak banyak
ambil peduli dengan urusan keuntungan atau hal-hal lain yang banyak di dambakan
orang banyak sebenarnya bukan sebab ia peduli dengan hal tersebut atau tidak
butuh seperti yang lain, tetapi sebab ia tidak menempatkannya mendahului
keikhlasan.
Kepentingan, sebut saja
demikian, baik materil maupun non-materil adalah apa yang diungkapkan
Rasulullah s.a.w. sebagai hal yang dapat dengan mudahnya merusak agama
seseorang, sebagaimana beliau telah mengatakannya:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ أَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ، وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
(رواه أحمد عن ابن كعب بن مالك
الأنصاري، عن أبيه)
“Dua serigala lapar yang
dilepas pada sekawanan ternak tidak lebih dapat merusakkan dari motivasi
seseorang atau harta dan status sosial (yang dapat merusak) terhadap agamanya.”
(Riwayat Ahmad)
Niat itu tersembunyi,
tetapi beberapa hal zhahir dapat menunjukkan ketidakikhlasan seseorang. Di dalam
beribadah, shalat contohnya, apakah dengan atau tanpa melafalkan niatnya tidak
akan membedakan ikhlas dan tidaknya niat seseorang dalam shalatnya. Akan tetapi
Allah SWT menunjukkan bagaimana orang-orang munafik, sebagai contoh karakter
yang sarat dengan ketidaktulusan, diungkapkan shalatnya dalam Firman-Nya:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا
قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا
يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا [٤: ١٤٢]
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah
akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia.
Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa/4: 142)
_
Keengganan, perasaan
malas untuk shalat dan hal-hal lain yang mejadi bagian dari sempurnanya shalat
serta hal-hal yang diutamakan di dalam shalat sejatinya tidak akan terasa
memberatkan dan membuat orang malas jika didasari niat ikhlas lillahi ta’ala.
Sebaliknya, seringan apapun sebuah perbuatan, ia tidak akan pernah mudah ditunaikan
seseorang ketika tidak ada keikhlasan pada dirinya kecuali dia memiliki
kepentingan dalam hal tersebut. Bahkan, di saat ia dengan sukahati
melakukannya, apa yang diperbuatnya tidak akan pernah terasa mudah apalagi
menenangkan dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!