Diantara gambaran keutamaan membaca
dan menghapal Al-Quran, meliputi ihwal Al-Quran sendiri, aktivitasnya dan
kedudukan orang yang melakukannya, dapat dijumpai dari hadits-hadits Rasulullah
s.a.w. sebagai berikut:
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ (رواه مسلم)
“Bahwasannya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah.”
(Riwayat Muslim)
خيركم من تعلم
القرآن وعلمه (رواه البخاري)
“Sebaik-baik kalian
adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (Riwayat Bukhari)
_
Adakah orang yang membaca atau menghapal Quran yang tidak baik? Tentu saja ada orang yang membaca atau menghapal Quran (baik sebagian-sebagian saja atau secara keseluruhan) yang perilakunya tidak baik atau sama sekali bertentangan dengan Al-Quran, contohnya orang munafik. (baca juga artikel terkait: banyak orang yang membaca Al-Quran tetapi Al-Quran Melaknatnya di sini).
Rasulullah s.a.w. sendiri menyampaikan hal
tersebut:
إِنَّ أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي
قُرَّاؤُهَا (رواه أحمد)
“Sesungguhnya kebanyakan orang munafik dari umatku adalah (sebagian kalangan)
para penghapal Quran.” (Riwayat Ahmad)
Akan tetapi hal ini tidak berarti
bahwa menghapal Al-Quran sebagai sesuatu yang tidak berguna atau lebih jauh
lagi, dianggap sebagai sebab munculnya kemunafikan atau hal-hal buruk lainnya. Sebagaimana
pernah sekali waktu pernah penulis dapati pernyataan yang mempertanyakan kegunaan
menghapal Quran, “Apa gunanya banyak membaca Al-Quran kalau kelakuannya tidak
sesuai dengan Al-Quran?”
Dalam ilmu logika hal seperti ini
termasuk kekeliruan berpikir atau cacat logika yang disebut dengan argumentum
ad hominem atau hasty generalization karena bisa saja sebab ia
memang telah menjumpai satu atau sejumlah orang yang hapal Quran akan tetapi
perilakunya tidak baik atau fakta banyaknya orang berperilaku buruk meskipun
banyak membaca Al-Quran sebagai sifat kesia-siaan dari menghapal quran yang
sebenarnya bukan fakta yang bias atau bahkan tidak benar sama sekali.
Meningat apa yang diungkapkan di
awal artikel ini, sebenarnya tidak sepatutnya kemudian mempertanyakan kebaikan membaca
atau menghapal Al-Quran karena sejatinya ungkapan-ungkapan diatas bersumber
dari Dzat yang telah menciptakan dan mengatur kehidupan ini. Keistimewaan
membaca dan menghapal Al-Quran terkait dengan kehidupan dengan segala aspeknya
adalah mutlak kebenarannya dan akan membawa kebaikan yang tak terhingga dalam
kehidupan itu sendiri.
Membaca dan menghapal Al-Quran (yang
pada prosesnya secara umum dilakukan dengan mengulang-ulang bacaan dengan
bilangan yang tidak sedikit) sangatlah keliru apabila dipandang sebagai
perbuatan sia-sia atau bahkan merugikan (baca: tidak baik). Sebagai rangkaian
kata-kata, tak ada uraian kata-kata yang dilafalkan atau dibaca yang lebih baik
dari Al-Quran. Sebagai pedoman hidup, tak ada pedoman dan tuntunan yang lebih
baik dari Al-Quran. Dari itu seyogyanya dapat dipahami dengan mudah bahwa
sejatinya tak ada perkataan, bacaan, pedoman hidup yang lebih berhak untuk
dibaca dan didahulukan dari kata-kata, bacaan dan pedoman yang lain selain
Al-Quran.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ
وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً
يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ [٣٥: ٢٩]
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” (Fathir/35: 29)
Sebagai kebaikan hidup yang
selayaknya didamba-dambakan oleh manusia, jika harus dibandingkan dengan yang
lainnya, tak ada yang dapat dibandingkan kedudukannya dengan Al-Quran.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم
مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ
لِّلْمُؤْمِنِينَ ؛ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ
فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ [١٠: ٥٧-٥٨]
“Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan
rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya
itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".” (Yunus/10: 57-58)
Bahkan, sebagai gambaran betapa mulianya
aktivitas membaca Al-Quran, bagi orang yang tetap konsisten membacanya meskipun
dengan susah payah karena kurang menguasai cara membacanya, Rasulullah s.a.w.
mengatakan:
وَالَّذِي يَقْرَأُهُ وَهُوَ يُتَعْتِعُ
فِيهِ وَهُوَ شَاقٌّ عَلَيْهِ فَلَهُ أَجْرَانِ (رواه النسائي)
“... dan orang yang terbata-bata
membacanya dan (Al-Quran) itu terasa sulit maka untuknya ada dua pahala.”
(Riwayat An-Nasa’i)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!