Agar Anak Cinta Al-Quran

 

Saya (pen.) pernah dibuat terharu oleh seorang anak yang sedang mengikuti halaqah hapalan Quran, ketika ia ditanya tentang motivasi terbesarnya dalam menghapal Quran, ia menjawab, “saya ingin orang tua saya dipakaikan mahkota dan jubah kemuliaan kelak di akhirat.”

Rasulullah s.a.w. bersabda:

من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن (رواه حاكم)

“Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim)

_

Kemuliaan tersebut tentu terkait dengan wasilah peran orang tua dalam mendidik anaknya sehingga anaknya menjadi ahli Quran. Dalam kaitan tersebut, dalam artikel ini saya akan sedikit berbagi tentang bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Quran pada anak. Tak jarang dijumpai anak-anak yang diberi kemudahan dalam menghapal Quran akan tetapi tak lebih dari sekedar keterlibatannya dalam kelas mengaji Al-Quran atau pada jenjang usia tertentu saja. Bukankah tidak sedikit anak yang berhenti membaca Al-Quran di usia SMP, SMA, atau pada jenjang-jenjang seterusnya?

Seorang ahli Al-Quran tidak akan pernah berhenti bermulazamah dengan Al-Quran. Sebagai pengajaran, Al-Quran sendiri merupakan sesuatu hal yang tidak akan pernah selesai dipelajari dan dari itu barangkali dapat disimpulkan bahwa orang tua yang dipakaikan jubah kemuliaan karena anaknya menjadi ahli Quran bukanlah dari anak yang berhenti mengaji di usia tertentu dari hidupnya.

Yang membuat seorang anak tidak pernah berhenti belajar (dan seterusnya mengajarkan) kepada orang lain adalah kecintaannya terhadap Al-Quran. Tanpa cinta Al-Quran, seorang anak boleh jadi hanya membaca atau menghapal Al-Quran hanya sebagai beban yang harus dijalaninya – misalnya – selama mengaji di masjid, di madrasah, belajar di pesantren dan sebagainya.

 

a.    Memperkenalkan keutamaan Al-Quran dan kekhususannya;

Ihwal keutamaan barangkali tak sedikit yang sulit untuk dipahami begitu saja oleh anak. Misalnya, bagi anak tidak akan dengan mudah membedakan tentang fakta Al-Quran yang datangnya dari Allah dengan fakta bahwa dirinya, orang tuanya juga diciptakan (yang senada maknanya dengan datang dari) Allah SWT. Akan tetapi potensi anak dalam kemudahan menerima satu informasi akan memudahkan bagi orang tua menyampaikan ihwal tersebut. Sifatnya pengenalan dapat disesuaikan dengan logika dan sangat sederhana, seperti syafaat dimaknai dengan istilah menyelamatkan dari penderitaan (baca: neraka), Al-Quran yang menentramkan hati dimaknai tidak sedih hati, Al-Quran sebagai obat dari sakit sesederhana meminum obat disaat ia demam. Untuk menggambarkan keutamaan Al-Quran juga dapat dilakukan dengan menunjukkan kebaikan orang-orang yang ahli dan atau banyak membaca Al-Quran kepada sang anak.

 

b.    Menginformasikan hal-hal menarik dari Al-Quran dan menjadikan Al-Quran sebagai media kompetisi;

Sejatinya Al-Quran sendiri adalah hal yang menarik dengan segala keistimewaannya. Bagi anak-anak, hal tersebut dapat dimulai dengan menyampaikan kisah-kisah yang ada di dalamnya. Pada tahapan lanjutan dapat perkenalkan dengan fakta-fakta otentik, bukti ilmiah dan keterkaitan hal-hal besar dengan Al-Quran. Informasi Al-Quran tentang Ka’bah sebagai bangunan pertama di muka bumi dengan faktanya sebagai tempat yang sampai saat ini merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi manusia di dunia. Variabel lain yang akan menarik bagi anak adalah aspek numerik Al-Quran. Dimulai dengan jumlah juz, jumlah surat-suratnya, jumlah ayat dari surat-surat tertentu dan penomeran lainnya.

Ada apa dengan aspek numerik? Sebab aspek numerik merupakan satu fakta otentik yang paling mudah untuk dipahami sebab ia hanya terdiri dari pilihan benar dan salah (true and false), sehingga lebih mudah pula untuk dipahami karena informasinya dapat dengan mudah ditemukan dari berbagai bentuk penomeran di dalam Al-Quran.

_

Hal-hal menarik tersebut kemudian dijadikan materi perlombaan atau bentuk sifat kegiatan kompetitif lainnya yang sekali waktu dapat diimbuhi dengan memberikan award dan reward khusus. Dalam hal ini penulis membatasi aspek kompetitif untuk menghindari pemberian hadiah (reward) untuk aktivitas membaca Al-Quran sendiri sebagai antisipasi tujuan (niat) yang tidak benar yang tertanam dalam kesadaran anak dalam membaca atau menghapal Al-Quran.

 

c.    Penghayatan isu-isu pokok Al-Quran dalam keseharian;

Diantara isu-isu pokok tersebut seperti dibuat rumusan syukur berarti bertambah nikmat di saat mengajarkan anak untuk selalu mengucapkan lafazh alhamdulillah. Dapat juga dilakukan dengan menyampaikan ancaman-ancaman Al-Quran atas perilaku tidak baik dalam bentuk siksa neraka atau bentuk-bentuk adzab lain secara spesifik termasuk konsekuensi hukum yang ditetapkan di dalam Al-Quran seperti mencuri dipotong tangan dan lain-lain sebagainya. Hal ini tentunya dilakukan secara berulang-ulang, bertahap dan aplikatif. Anak dapat diperkenalkan dengan istilah mubadzir ketika tidak menghabiskan makanan yang termasuk sikap tidak bersyukur kemudian diberlakukan konsekuensi pengurangan uang jajan dan sebagainya.

 

d.    Menciptakan suasana akrab dengan Al-Quran dan memberi perhatian khusus;

Mengkondisikan suasana yang mengakrabkan dan identik dengan Al-Quran dapat dilakukan dengan banyak cara seperti memutar bacaan Al-Quran, menempatkan berbagai instrumen Al-Quran, tempat penyimpanan khusus, kaligrafi ayat-ayat pilihan, termasuk menciptakan keseragaman dalam berkomitmen dengan Al-Quran atau teladan dari orang tua. Hal tersebut dimaksudkan sebagai pendampingan dalam menjaga konsistensi aktivitas membaca dan penguatan komitmen membaca (atau menghapal) sendiri. Jika tugas pengajaran dilakukan orang lain, orang tua dapat secara berkala melakukan cek-ricek terkait aktivitas dengan bacaan Al-Qurannya.

 

Dengan kecintaan terhadap Al-Quran yang tumbuh alami dalam diri anak merupakan modal besar baginya untuk lebih jauh mempelajari, mengamalkan dan mengajarkannya. Kedudukan tersebut, sekiranya orang tua sang anak sekalipun tidak dianugerahi nikmat besar sebagaimana didapat anaknya, tentu akan menjadi kebahagiaan tak terkira manakala hal tersebut memposisikan kedua orang tua sebagaimana diungkapkan dalam hadits Rasulullah s.a.w. di atas.

 

 

 

 

Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!