Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ [٣: ١۰٣]
“Dan berpeganglah kamu semuanya
kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ...” (Ali Imran/3: 103
Dalam berpegang teguh (baca: setia) pada Al-Quran, dalam arti takwil ungkapan tali Allah di dalam ayat di atas, di balik sekian aspek yang memudahkan, manusia justru bersikap lalai (20: 26), berpaling dari (43: 36), mengingkari dan bahkan mengolok-olok serta menghalangi orang dari Al-Quran (41: 26). (Sikap tersebut dapat terkait dengan ihwal aktualisasi secara menyeluruh-meliputi dalam segala aspek kehidupan, pengamalan individual, pemahaman atau bahkan sekedar untuk membaca lafazh-lafazh atau mendengarkan bacaannya.
Dalam hal ini membaca Al-Quran dapat
diposisikan sebagai klasifikasi paling ringan, tidak dalam arti menafikan
keutamaan dalam membacanya, keengganan untuk itu apakah dalam sifat lalai,
berpaling dari atau bentuk pengingkaran, bahkan dapat timbul dari pribadi
seorang muslim sekalipun. Di antara sikap enggan tersebut bahkan tak jarang
berupa sikap yang merendahkan, menolak dan memandang membaca Al-Quran sendiri
sebagai hal yang tidak baik. Sementara pada sudut pandang yang berbeda,
sangatlah banyak dari kalangan non-muslim yang mendapatkan kebaikan yang luar
biasa (yakni mendapatkan hidayah untuk menerima kebenaran Islam) justru diawali
dengan membacanya.
Ukuran terbaik dalam membaca
Al-Quran adalah menghafalnya. Demikian itu sebab menghafalnya adalah keadaan
yang menempatkan seseorang tidak melewatkan bagian tekstual Al-Quran meskipun
satu huruf yang sejatinya di dalam satu huruf tersebut menyimpan makna dan
keutamaan yang tidak sepatutnya diabaikan. Betapa tidak, di saat seseorang
membaca Al-Quran sepintas lalu yang tentu saja dengan interpretasi yang
dimilikinya tidak akan dia temui kandungan makna secara utuh apalagi di saat ia
melewatkan, misalnya, satu huruf.
Menghafal Al-Quran itu mudah
tetapi banyak orang yang enggan melakukannya meskipun sebenarnya ia mampu dan bukan
tak memiliki kesempatan. Tak jarang orang yang sedemikian menguasai bacaan
Al-Quran bahkan menghafal sebagian ayat-ayatnya di masa kecil akan tetapi ia
lebih dikuasai oleh keengganan sehingga berhenti membaca Al-Quran pada jenjang
tertentu dari kehidupannya. Bukan hal aneh kemudian orang menjawab tak sempat,
merasa kesulitan atau terlupa akan kebaikan membaca Al-Quran bahkan mengingkari
kebaikannya.
Rasulullah s.a.w. mengatakan:
تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا (رواه البخاري)
“Kuat-kuatkan
keterikatan akan Al-Quran sebab, demi Dzat yang diriku ada dalam kuasa-Nya, ia
lebih mudah terlepas lebih dari seekor unta dengan tali kekangnya.”
Lafazh تعاهد berarti membuat
persetujuan, perjanjian, atau penjagaan. Dalam ungkapan lain, berkomitmen,
adalah bentuk pengukuhan yang akan mengkondisikan seseorang tidak terpengaruh
situasi dan keadaan tertentu yang dapat mengganggu atau memalingkan dari apa
yang semestinya ditunaikan. Dari ungkapan hadits tersebut jelas sekali
pentingnya membuat komitmen dengan Al-Quran sebab jika tidak, seseorang akan
dikuasai keengganan yang membuatnya menjadi berpaling dari Al-Quran.
Untuk dapat membaca, sekali lagi
dalam kaitan refleksi terhadap Al-Quran bahwa membaca adalah klasifikasi paling
mudah untuk dipenuhi, banyak orang yang seolah menjadi sangat kesulitan untuk
dapat menunaikannya. Menghafal, sebagai bentuk aktivitas membaca yang paling
utama, meskipun mudah dan Allah SWT memang telah membuatnya sedemikian mudahnya
(lih. bagaimana Allah mengulang-ulangnya dalam QS. 54: 17, 22, 32 dan 40), tidak
didapati sekian banyak orang dalam melakukannya atau bahkan ada yang pernah
mencoba akan tetapi kemudian seperti berlalu begitu saja.
_
Dalam berkomitmen untuk menghafal
Al-Quran dapat dimulai dengan bentuk yang sangat mudah. Seorang Ummu Aiman
memulai hafalannya di usia 70 tahun dengan menelusuri lafazh Allah di dalam
Al-Quran, ia diperkenankan Allah untuk dapat mengafal Al-Quran. Akan tetapi di
atas segalanya, komitmen awal yang harus dipenuhi dengan benar adalah niat. Di
dalam niat ada tujuan dan terkandung pula maksud tertentu yang hendak dipenuhi.
Maka, meskipun tidak terbayangkan “bagaimana bisa saya menghafalkan Al-Quran
seutuhnya” sebagai komitmen awal dengan Al-Quran seseorang harus memiliki niat
yang benar.
Berikutnya adalah menentukan
langkah awal yang dapat dipenuhi dalam skala waktu tertentu secara konsisten
sebagai komitmen mudah yang penulis maksud. Apakah itu menghafal satu halaman
setiap hari, satu ayat, satu baris atau pembagian-pembagian lain dari lembaran
mushaf Al-Quran. Kesibukan secara umum banyak dikeluhkan sebagai kendala dalam
menghafal Al-Quran tidak berarti seseorang tidak dapat meluangkan waktu sama
sekali untuk menghafal Al-Quran. Akan tetapi jika memang benar demikian, bahwa
misalnya seseorang tidak dapat menyisihkan waktu sedikit saja dari hari-harinya
untuk dapat menghafal Al-Quran, sejatinya ia harus mengevaluasi kembali sifat
dan orientasi kesibukan yang telah menghalanginya dari membaca Al-Quran.
Di dalam satu hadits qudsi Allah
SWT mengatakan:
يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي
أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ
شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
(رواه
الترمذي وصححه الباني)
“Wahai hamba-hamba-Ku, luangkanlah
untuk beribadah kepada-Ku! Maka Aku akan memenuhi jiwamu dengan kekayaan dan
akan kuakhiri kefakiranmu. Tetapi jika tidak kau lakukan (meluangkan waktu) itu,
maka aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan kefakiran yang tidak
berkesudahan.” (Riwayat Tirmidzi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!