Seseorang boleh jadi jarang melihat atau mungkin
tidak pernah sama sekali melihat situasi Palestina sehingga masih nyaman
berkeluh kesah atau mempersoalkan hal remeh temeh atau memiliki kesibukan yang
selalu membuat nyaman untuk mengatakan tak ada waktu untuk melakukan satu
kebaikan yang sangat mudah dan memudahkan urusannya, yakni menghafal Quran.
Walhasil, dari sekian alasan yang dapat dibuat tersebut, jangankan untuk
menghafal membacanya saja entah menjadi prioritas nomor berapa dari sekian
banyak hal yang dianggap penting setiap harinya. (Baca juga; kenapa harus
menghafal Quran). Sementara di belahan lain kehidupan kita, di Palestina,
terdapat orang yang senantiasa membaca dan menjadi penghafal Quran dari
berbagai kalangan usia, dari yang usia enam tahun dan enam puluh tahun.
Dari keadaan genting yang menjadi menu keseharian mereka, di Gaza, lahir daurah hafalan Quran seperti Darul Quran was Sunnah dari berbagai kalangan usia terutama anak-anak. Mereka belajar tidak seperti di sekolah atau pesantren yang terdapat di Indonesia dengan segala fasilitas dan kenyamanannya atau majlis-majlis ilmu dan kegiatan keagamaan yang banyak diikuti masyarkat kita. Setiap harinya mereka harus selalu berhadapan dengan ledakan bom, ancaman dan penyiksaan yang seringkali menyerang secara tiba-tiba.
Salah seorang instruktur daurah hafalan Quran di
Gaza, Syekh Abdurrahman Jaber, memperkenalkan metode yang diterapkan yang
sejauh pengetahuan penulis lebih dikenal dengan metode pengulangan yang secara
umum dalam prakteknya membutuhkan banyak waktu. Dalam memperkenalkan metode
Gaza Syekh Abdurrahman Jaber memaparkan empat pilar utama dalam menghafal yang
meliputi tahap persiapan (isti’dadat), pilihan media pendukung (wasail),
hafalan (tahfizh) dan pengulangan (muraja’ah). Teknik pelaksanaannya
membutuhkan banyak variabel, banyak waktu dan keseksamaan yang luar biasa. Kesemua
itu dapat diaktualisasikan dengan kesan begitu mudah sehingga daurah seperti
Darul Quran was Sunnah telah meluluskan ribuan alumni penghafal Quran dalam
situasi tersebut.
![]() |
| Gbr. www.fadhilza.com |
Sekedar untuk mengambil ibrah dari gambaran
tersebut, kiranya cukup bagi kita untuk bertanya sesulit apa keadaan hari ini
bagi kita sehingga membuat kita melewatkan Al-Quran untuk menghafalnya. Kenapa
menghafal? Karena menghafal itu bukan membaca sepintas lalu yang seringkali
menimbulkan gagal paham. Karena menghafal lebih memberikan kita keleluasaan
untuk dapat memahami kandungannya sebab ia telah tersimpan dalam ingatan untuk
dapat direnungkan setiap saat. Karena dengan menghafalnya kita akan lebih dekat
dengan bimbingan Al-Quran yang menyertai setiap gerak langkah bahkan di ranah
alam bawah sadar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!