Pernahkah Anda merasa iri terhadap seorang pendosa? Barangkali mengalami hal demikian, tak banyak yang menyadari perasaan iri atau hasud pada hal demikian. Berbeda dengan hasud secara umum, dimana orang juga menginginkan hal yang membuatnya iri hati, hasud pada perbuatan dosa tidaklah disertai motovasi seperti itu.
Hasud sendiri berarti mengharapkan hilangnya nikmat dari seseorang karena ia sendiri tidak mendapatkannya. Iri hati tidak melulu timbul pada orang yang tidak mampu mendapatkan apa yang ada pada orang lain yang dalam bahasa populer sering diungkapkan bahwa sirik/iri tanda tak mampu. Bentuknya pun tidak melulu dengan hasrat/angan-angan akan hilangnya nikmat dari orang lain tetapi bisa berupa sikap menghakimi atau melontarkan tuduhan yang secara tersirat mengungkapkan bahwa orang tersebut tak layak mendapatkannya. Misalnya tatkala seseorang berhasil dengan usahanya, orang hasud seolah mencari fakta lain di balik hal tersebut, misalnya bahwa hal itu didapat dengan tidak benar, hal itu tidaklah baik atau sekedar memandang bahwa orang tersebut sedang beruntung saja.
Hasud pada pendosa atau perbuatan dosa sejatinya tak jauh berbeda. Bentuknyapun beragam, sampai dalam bentuk perasaan tidak senang yang tidak dapat dipahami dengan mudah yang kemudian membuat ia bersikap reaktif dan melakukan kesalahan atau dosa yang tidak disadarinya semisal mengghibah, tajassus bahkan melontarkan tuduhan lain dari selain apa yang dilihatnya. Dalam kasus seperti ini pula terkadang terjadi pada seorang pendakwah, yakni alih-alih mengingatkan atau mengajak pada hal benar ia justru mencaci maki, memvonis secara berlebihan, keras hati atau sikap destruktif lainnya.
Allah SWT berfirman:
قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [ ... ]
"Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (5/Al-Maidah: 100)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ [ ٥: ١٠٥]
"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tidaklah orang yang sesat itu akan memberi madarat pada kalian sekira kalian mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya, maka Dia akan memberitahukan atas segala yang kalian perbuat. (5/Al-Maidah: 105)
Selain maraknya perbuatan dosa, yang memicu timbulnya iri hati atau hasud pada perbuatan dosa adalah bahwa seorang pendosa tampak begitu nyaman dengan perbuatannya bahkan tampak "bahagia" dengan itu dan segala apa yang melekat pada dirinya dari berbagai kenikmatan. Saat keadaan seseorang sedang merasa tidak baik-baik saja, hasud akan lebih kuat menguasai dirinya bahkan sampai mendorong pada arah untuk mengikuti prilaku dosa serupa.
Ma'aadzallah...
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!