Bakhil; “Nikmat” Membawa Sengsara

_
gambar; id.wikipedia.org
Di era 90-an sempat populer satu tontonan film/sinetron di Indonesia yang bertajuk “Sengsara Membawa Nikmat”. Gagasan pokok film tersebut tidak lain adalah bagaimana berbagai macam penderitaan mengantarkan seseorang pada kebaikan-kebaikan hidup yang semula sama sekali tidak diduganya. Berbeda dengan tajuk tersebut, sikap kikir atau bakhil yang hinggap pada seseorang justru menempatkan hal sebaliknya, yakni justru menjadikan nikmat membawa sengsara.
Bakhil merupakan sudut pandang yang keliru mengenai kebaikan suatu hal karena kebakhilan tersebut akan menghalangi seseorang untuk berbuat baik. Bakhil identik dengan harta benda, uang atau kekayaan. Akan tetapi apabila kita lihat dari sudut pandang yang luas, kebakhilan bisa terdapat pada segala bentuk karunia yang Allah anugerahkan pada manusia. Waktu, tenaga, daya pikir atau potensi apa saja yang dimiliki seseorang adalah karunia Allah yang apabila hal-hal tersebut tidak digunakan untuk berbuat baik/amal shaleh, merupakan bentuk kebakhilan.
Gambaran Allah mengenai karakter bakhil tersebut dapat dilihat pada firman-Nya:

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ؛ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا [٧٠: ٢٠-٢١]
“Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS 70: 20-21)

Dua ayat tersebut dipahami oleh ahli tafsir untuk menjelaskan kata yang terdapat pada ayat sebelumnya, yakni berkeluh kesah ( هلوعا ). Keluh-kesah merupakan sikap yang sama pada seseorang pada dua keadaan yang berbeda. Dari ayat tersebut sikap bakhil dapat dipahami dalam arti seseorang diberi kelebihan dalam harta dan lain sebagainya dengan kata menahan diri dari berbuat baik dengan karunia (kebaikan) yang dianugerahkan kepada Allah. Dalam hal merasa kekurangan (mendapat keburukan), cenderung menahan diri dari berbuat baik dengan mengeluhkan hal-hal kekurangan tersebut. Walhasil, dua keadaan tersebut tidak dapat memberinya kebaikan sama sekali.
Keluh kesah berlaku dalam keadaan baik (yang disenangi) maupun buruk (tidak disenangi). Keluh kesah bersumber dari sudut pandang keliru dalam menilai sesuatu. Menahan diri dari menggunakan karunia Allah untuk beribadah adalah kebakhilan yang dilatarbelakangi dengan pemahaman yang salah akan hal yang dapat mendatangkan manfaat. Demikian pula dalam keadaan sebaiknya, keluh kesah hanya akan menjauhkan seseorang dari manfaat (kebaikan) segala sesuatu yang telah Allah berikan kepadanya.
Allah SWT berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ [٣: ١٨٠]
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan apa yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran/3: 180)

_

Ya, boleh jadi ketika seseorang menahan hartanya dari sedekah hartanya tetap utuh (tidak berkurang) sebagaimana dipikirnya. Akan tetapi harta benda, yang di dalam Al-Quran ada disebutkan sebagai kebaikan ( al-khair, lih. QS. 100: 8), apabila seseorang menjadi bakhil karenanya, kekayaan tersebut bukanlah kebaikan lagi baginya, tetapi sebaliknya hal itulah yang akan mencelakakannya.


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!