Di era 90-an sempat populer satu tontonan
film/sinetron di Indonesia yang bertajuk “Sengsara Membawa Nikmat”. Gagasan
pokok film tersebut tidak lain adalah bagaimana berbagai macam penderitaan mengantarkan
seseorang pada kebaikan-kebaikan hidup yang semula sama sekali tidak diduganya.
Berbeda dengan tajuk tersebut, sikap kikir atau bakhil yang hinggap pada
seseorang justru menempatkan hal sebaliknya, yakni justru menjadikan nikmat
membawa sengsara.
Bakhil merupakan sudut pandang yang keliru
mengenai kebaikan suatu hal karena kebakhilan tersebut akan menghalangi
seseorang untuk berbuat baik. Bakhil identik dengan harta benda, uang atau
kekayaan. Akan tetapi apabila kita lihat dari sudut pandang yang luas,
kebakhilan bisa terdapat pada segala bentuk karunia yang Allah anugerahkan pada
manusia. Waktu, tenaga, daya pikir atau potensi apa saja yang dimiliki
seseorang adalah karunia Allah yang apabila hal-hal tersebut tidak digunakan
untuk berbuat baik/amal shaleh, merupakan bentuk kebakhilan.
Gambaran Allah mengenai karakter bakhil
tersebut dapat dilihat pada firman-Nya:
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ؛ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا [٧٠: ٢٠-٢١]
“Apabila
ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia
amat kikir.” (QS 70: 20-21)
Dua ayat tersebut dipahami oleh ahli
tafsir untuk menjelaskan kata yang terdapat pada ayat sebelumnya, yakni
berkeluh kesah ( هلوعا
). Keluh-kesah merupakan sikap yang sama pada seseorang pada dua keadaan yang
berbeda. Dari ayat tersebut sikap bakhil dapat dipahami dalam arti seseorang
diberi kelebihan dalam harta dan lain sebagainya dengan kata menahan diri dari
berbuat baik dengan karunia (kebaikan) yang dianugerahkan kepada Allah. Dalam
hal merasa kekurangan (mendapat keburukan), cenderung menahan diri dari berbuat
baik dengan mengeluhkan hal-hal kekurangan tersebut. Walhasil, dua keadaan
tersebut tidak dapat memberinya kebaikan sama sekali.
Keluh kesah berlaku dalam keadaan baik
(yang disenangi) maupun buruk (tidak disenangi). Keluh kesah bersumber dari sudut
pandang keliru dalam menilai sesuatu. Menahan diri dari menggunakan karunia
Allah untuk beribadah adalah kebakhilan yang dilatarbelakangi dengan pemahaman
yang salah akan hal yang dapat mendatangkan manfaat. Demikian pula dalam
keadaan sebaiknya, keluh kesah hanya akan menjauhkan seseorang dari manfaat
(kebaikan) segala sesuatu yang telah Allah berikan kepadanya.
Allah SWT berfirman:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا
بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ [٣: ١٨٠]
“Sekali-kali
janganlah orang-orang yang bakhil dengan apa yang Allah berikan kepada mereka
dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya
kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan
dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala
warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Ali Imran/3: 180)
_
Ya, boleh jadi ketika seseorang menahan
hartanya dari sedekah hartanya tetap utuh (tidak berkurang) sebagaimana
dipikirnya. Akan tetapi harta benda, yang di dalam Al-Quran ada disebutkan
sebagai kebaikan ( al-khair, lih. QS. 100: 8), apabila seseorang menjadi
bakhil karenanya, kekayaan tersebut bukanlah kebaikan lagi baginya, tetapi sebaliknya
hal itulah yang akan mencelakakannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!