Ini cerita tentang Laila Majnun versi era messenger
saat mereka sedang dipadu asmara yang menggebu-gebu. Ceritanya sejoli yang
kasmaran menginginkan senantiasa get connected by all the times, tidak
pernah terputus dalam berkomunikasi. Katanya, masalah komunikasi adalah
permasalahan pokok yang dapat merusak suatu hubungan sampai pada kehancurannya.
Maka jadilah gawai (gadget) mereka selau on, connected,
berlangganan paket dan nyaris tidak pernah dimatikan.
Siang, tak ada waktu untuk tidak terhubung. Selalu saja
ada kata untuk setiap kesempatan, “met pagi kanda,” di jawab “met pagi dinda.” Berlanjut,
“sudah sarapan, kanda?” dijawab (selalu dan harus selalu), “sudah, dinda. Dinda
sudah sarapan belum?” berbalas, “belum kanda, ini baru mau. Kanda sarapan apa?”
dijawab, dan terus bersahutan sampai seolah tak ada jeda sampai haripun
berganti malam. Selalu ada tanya, selalu ada kata, atau barangkali kata-kata
itu tak jadi membosankan di saat pertanyaan yang sama selalu rutin berlompatan
kesana-kemari bertukar arah atau tidak sama sekali.
“Sudah tidur kanda?” busyet! Kalau memang sudah
tidur bagaimana bisa jawab. Dan ternyata, asmara memang mampu menciptakan
keluarbiasaan yang tidak terduga, pertanyaan itu ternyata juga dijawab, “sudah
dinda, ayo kita tidur...” luar biasa!
Lantas berbunyi dengkling sebuah jawaban, “sebentar lagi kanda, dinda baru
shalat. ini baru sujud yang kedua.. hehe!” Nah lho!
#Soimah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!