| Mekah, tanah gersang yang dimintakan Ibrahim a.s. dilimpahi buah-buahan |
Namun demikian,
harta benda justru seringkali menjadi hal yang mencelakakan manusia, bahkan
dengan ketiadaannya. Di dalam Al-Quran banyak disebutkan yang menyebabkan
kekafiran seseorang adalah kekayaannya. Al-Quran mencela prilaku menumpuk-numpuk
( تكاثر )(Al-Takatsur: 1); juga kebiasaan
menghitung-hitungnya (Al-Humazah: 2) yang di dalam kedua surat tersebut
ditetapkan ancaman yang keras.
Dari uraian di
atas tampak bahwa kekayaan seolah-olah bertolak belakang dengan keimanan;
manusia dibuat celaka, kufur dan mendapatkan siksa neraka karena prilaku yang
berhubungan dengan kekayaannya. Di dalam Al-Quran juga banyak ditemukan
ayat-ayat yang meluruskan pandangan manusia dalam hal menilai harta benda,
seperti:
-
Mengira bahwa kekayaan dapat
membuatnya kekal (Al-Humazah: 3)
-
Mengira bahwa dengan kekayaan akan
terwujud kedamaian (al-Anfal: 63)
-
Mengira bahwa banyak atau tidaknya
kekayaan menunjukkan bahwa Tuhan memuliakan atau menghinakannya (Al-fajr: 15-16
)
-
Dekatnya kekayaan dengan kemusyrikan
(Al-Kahfi: 37-38)
Apakah Islam
melarang hidup kaya raya?
Kehendak Allah
dengan menganugerahkan kenikmatan merupakan ujian ( ابتلاء ) yang sama dengan musibah di sisi lain. Apakah menerimanya
dengan sabar dan syukur atau dengan kufur, yang akan menunjukkan bahwa
seseorang dapat melewati atau gagal dalam pengujian tersebut. untuk sikap
syukur dan sabar, Allah menjanjikan kebaikan dan kemudahan bahkan nikmat yang
terus bertambah (Ibrahim: 7).
Bagaimanapun, sejauh
apapun perolehan manusia atas kepemilikan harta benda tidak akan dapat
mengantarkannya pada keadaan kaya ( الغني ) secara hakiki karena kodrat makhluk akan senantiasa
membutuhkan ( الفقر) dan
hanya Allah-lah yang Maha Kaya yang tidak pernah membutuhkan suatu apapun.
Dalam batasan kehidupan, Rasulullah memberikan petunjuk dalam hal keadaan kaya:
"ليس
الغنى عن كثرة العرض، ولكن الغنى غنى النفس" رواه البخاري ومسلم وغيرهما عن
أبي هريرة
“Bukanlah kekayaan itu berupa banyaknya harta benda,
melainkan kekayaan itu adalah yang kaya jiwanya.”
Keimanan dan Jaminan Allah
Keimanan dan
harta benda seringkali menempatkan manusia dalam peperangan/kontradiksi yang
cukup pelik. Karena hasrat atau dorongan tertentu, kontradiksi tersebut bisa
menempatkan manusia untuk menanggalkan keimanan terlebih dalam keadaan tertentu
yang menyudutkan atau dianggapnya sangat berat. Harta benda seringkali dinilai
melebihi apapun, bahkan kepercayaan manusia terhadapnya bisa melebihi
kepercayaan dalam hal keimanan.
Penolakan Al-Quran
terhadap pandangan manusia mengenai harta benda di atas merupakan kelemahan
anggapan tersebut. Berkenaan dengan persoalan hidup dan problematikanya, Allah
memberikan jaminan bahwa ketakwaan dapat memberikan penyelesaiannya (bahkan di
saat seseorang menilai tidak mungkin ada jalan keluar) dengan cara yang tidak
pernah diduganya (Al-Thalaq: 2-3).
Syari’at dan
Kesejahteraan Umat
Menempatkan kaya
atau miskin secara sejajar bukanlah hal yang mudah sehingga menjadikan
kesadaran seseorang dapat menghadapi dua keadaan tersebut dengan baik. Kekayaan
cenderung dianggap sebagai hal baik dan sebaliknya dengan kemiskinan, sehingga
dua hal tersebut seringkali disikapi dengan sikap yang salah. Bukan hal sulit
untuk menilai kemiskinan sebagai ujian tetapi tidak demikian dalam menilai
kekayaan sebagai hal yang sama. Sebaliknya, menilai kebaikan di dalam keadaan
miskin akan lebih sulit bila dibandingkan dengan keadaan sebaliknya.
Allah telah
memberikan petunjuk-Nya tentang hal tersebut (Al-Fajr: 15-16) dan di dalam
syari’at yang diberikan Allah terdapat hikmah yang dapat membantu kita agar
tetap mampu menilai kaya atau miskin dengan sejajar. Hikmah zakat, sebagai
contoh, dalam hal kedudukannya sebagai pranata sosial Islam yang dapat
meringankan penderitaan fakir-miskin (menyerupai jaminan) sehingga manusia
masih dapat menilai kebaikan dalam ujian kemiskinan tersebut. Akan tetapi lain
halnya apabila jaminan tersebut tidak terpenuhi (karena zakat tidak berfungsi),
barangkali memang akan cukup sulit untuk dapat menilai kebaikan dalam
kemiskinan karena pastinya kemiskinan tersebut hanya memberikan hari-hari yang
berat bagi fakir-miskin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!