Sebut saja Kek Alang namanya. Dia datang menemui dokter
mengeluhkan kondisi istrinya. Begitu itu dia lakukan karena dia takut istrinya
tersinggung. Jadi maksudnya datang ke dokter bukan untuk berobat, tapi ingin
konsultasi. Sesampainya di tempat praktek, dia sempat kebingungan karena di
sana seperti tidak ada orang orang yang menunggui sampai setelah tiga kali
mengucap salam seseorang baru datang menghampiri. Dialah sang dokter.
“Wa’alaikum salam,” kata dokter sambil membungkukkan
badan.
“Dokter ini kalau jawab salam kok susah banget,” kata Kek
Alang. Dokter tersenyum saja. Dia lantas mempersilahkan Kek Alang dengan
membentangkan tangannya sambil mengais tangan Kek Alang dengan tangan yang
satunya. Kek Alang menurut saja, mengikuti ke arah dokter membawanya.
“Di sini saja, dokter.” Kata Kek Alang.
“Tidak apa-apa, mari kek.” Kata dokter, selalu dengan membungkukkan
badan dan mendekat pada Kek Alang. Dokter ini sopan sekali, pikir Kek Alang.
“Ada apa, kek?” tanya dokter. “Kakek sakit apa?”
“Tidak usah panggil kakek, saya ini masih muda.” Kata Kek
Alang.
“Iya, bapak ada keluhan apa?”
“Sebenarnya bukan saya yang sakit,” kata Kek Alang.
“Istri saya dokter.”
“Ada apa dengan istri bapak?”
“Istri saya itu, saya bingung bagaimana ngajak dia
periksa ke dokter, sepertinya dia itu agak tuli, dokter.” Jelas Kek Alang.
Dokter itu tertegun sebentar, tampak mengamati keadaan
Kek Alang, tetapi sebentar kemudian tersenyum sambil mendekatkan wajahnya pada
Kek Alang.
“Oh begitu rupanya,” kata dokter. “Bisa jadi parah itu
pak.”
“Iya dokter, takutnya sudah parah sekali. Sering sekali
dia tidak menjawab kalau saya bicara.” Imbuh Kek Alang.
“Begini saja, pak. Bapak bisa cari tahu seberapa parah
tulinya. Nanti saat bapak pulang ke rumah, kira-kira jarak dua puluh meteran
bapak panggil istri bapak. Kalau ternyata ia tidak menjawab, majulah kira-kira
sepuluh meter. Kalau ternyata masih tidak menjawab, maju lagi kira-kira lima
meter. Mungkin belum parah kalau masih mendengar. Tapi kalau masih tidak
menjawab juga, bicaralah saat dekat sekali dan bicara agak keras. Nanti bapak
akan tahu seberapa parah tulinya.” Jelas dokter, dan menatap dalam-dalam pada
Kek Alang. “Mengerti pak?”
“Siap dokter! Saya paham sekali.” Kata Kek Alang.
Setelah itu, Kek Alang pulang ke rumahnya. Dengan cukup
antusias dia mengingat-ingat tip dan trik sang dokter. Setelah kira-kira dua
puluh meter dari rumahnya, dia berkata agak lantang.
“Assalamu’alaikum, ibu...!” katanya sambil meletakkan
tangan di dekat mulutnya untuk memperkeras suaranya. “Ibu sedang apa?”
ditunggu-tunggu tidak ada jawaban dari arah rumahnya.
Kek Alang melangkah lagi sampai kira-kira sepuluh meter,
dari sana dia sudah bisa melihat istrinya dari pintu dapur yang sedang memasak.
Dia kembali memanggil, “assalamu’alaikum ibu, sedang apakah ibu?” katanya
dengan setengah berteriak. Kek Alang masih tidak mendengar jawaban dan
melangkah lagi sampai kira-kira berjarak lima meter dan melakukan hal yang
sama. Kek Alang masih mendapati istrinya tidak menjawab. Akhirnya dia
memutuskan untuk melakukan jurus terakhir, seperti kata dokter, dengan
mendekati istrinya dia berkata dengan lantang.
“Assalamu’alaikum ibu, sedang apakah ibu?” Kek Alang
melihat istrinya tetap terdiam, tapi sebentar kemudian sang istri menoleh
sambil mengerutkan alis.
“Dari tadi juga saya sudah jawab wa’alaikum salam, bapak!
Malah sampai tiga kali, ibu bilang sedang masak. Apa bapak tidak dengar?”
“....*^&%$%#...” Kek Alang tertegun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!