Syariat Shalat Sunat
Shalat sunat disyari’atkan sebagai penyempurna jika
terjadi kekurangan dalam hal menunaikan shalat fardhu. Nabi s.a.w. berkata:
"إن
أول ما يحاسب الناس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة، يقول ربنا لملائكته، وهو
أعلم أنظروا في صلاة عبدي أتمها أم نقصها؟ فإن كانت تامة كتبت له تامة، وإن كان
انتقص منها شيئا قال: أنظروا هل لعبدي من تطوع؟ فإن كان له تطوع قال: أتموا لعبدي
فريضته من تطوعه، ثم تؤخذ الاعمال على ذلك." (رواه أبو داود)
“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal
perbuatan manusia di hari kiamat adalah shalat mereka. Allah berkata kepada
malaikat, dan Dia yang lebih mengetahui; ‘lihatlah shalat hamba-Ku, apakah itu
sempurna atau terdapat kekurangan.’ Jika shalatnya sempurna maka hal itu
dituliskan sempurna dan ketika didapati ada kekurangan, Allah berkata: ‘lihatlah
apakah dia memiliki amalan sunat?’ Dan ketika didapati ada amalan sunat
tersebut, Allah berkata: ‘sempurnakanlah ibadah fardhunya dengan amalan-amalan
sunat tersebut.’ Kemudian dijadikanlah (sempurnanya) amalan dia dengan cara
demikian.” (Riwayat Abu Dawud)
Keutamaan mengerjakannya di rumah
Rasulullah s.a.w. berkata:
"إذا
صلى أحدكم الصلاة في مسجده فليجعل لبيته نصيبا من صلاته فإن الله عز وجل جاعل في
بيته من صلاته خيرا." (رواه أحمد
ومسلم)
“Jika seorang dari kalian menunaikan shalat di masjidnya,
hendaklah ia menjadikan untuk rumahnya sebagian dari shalat itu karena
sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan di rumahnya dengan shalat tersebut.”
(Riwayat Ahmad dan Muslim)
Dan dalam riwayat lain mengatakan:
"صلاة
المرء في بيته أفضل من صلاته في مسجدي هذا، إلا المكتوبة" (رواه أبو داود)
“Shalat seseorang (yang ditunaikan) di rumahnya lebih
utama dari shalatnya di masjidku ini, kecuali shalat fardhu.” (Riwayat Abu
Dawud)
An-Nawawi berkata: “Shalat sunat dianjurkan untuk
dikerjakan di rumah karena hal itu lebih tersembunyi, jauh dari riya’, lebih
terjaga dari hal-hal yang dapat menggugurkan (pahala) amal perbuatan, untuk
mendapatkan keberkahan di rumah dan dengannya pula turunlah rahmat dan para
malaikat serta menjauhnya syetan-syetan.”
Shalat Sunat Rawatib
Shalat sunat Ratibah dalah shalat sunat yang waktunya
melekat pada waktu-waktu shalat fardhu. Ringkasan secara keseluruhan di
antaranya dapat dilihat dari riwayat berikut ini:
عن ابن عمر قال: حفظت من النبي صلى الله
عليه وسلم عشر ركعات: ركعتين قبل الظهر، وركعتين بعدها، وركعتين بعد المغرب في
بيته، وركعتين بعد العشاء في بيته، وركعتين قبل صلاة الصبح (رواه البخاري)
Dari Ibn Umar r.a., ia
berkata: “aku sungguh mengetahui dari Rasulullah s.a.w. tentang sepuluh rakaat
(sunah ratibah); dua rakaat sebelum dzuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat
setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah isya di rumahnya, dan dua
rakaat sebelum shubuh.” (Riwayat Bukhari)
a)
Shalat Sunat Fajar (Qabla Shubuh)
Adalah dua rakaat yang dilaksanakan
sebelum shalat shubuh. Waktunya adalah di antara adzan dan iqomah. Diriwayatkan
oleh Bukhari, Muslim dan yang lainnya, bahwasannya menyatakan bahwa bagi
Rasulullah s.a.w. tidak ada shalat sunat lain yang lebih ditekuninya secara
teratur dari shalat dua rakaat sebelum shubuh. Dan dalam riwayat lain dari
Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. mengatakan:
"ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها." (رواه أحمد ومسلم والترمذي والنسائي)
“Dua rakaat
(sebelum) shubuh itu lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (Riwayat Ahmad,
Muslim, Turmudzi dan Nasai)
Dan tuntunan dari
Nabi s.a.w. dalam shalat sunat ini adalah diringankan dalam menunaikannya.
Aisyah r.a. disebutkan dalam berbagai riwayat sangat terkesan dengan sifat
ringan pada cara Rasulullah s.a.w. pada shalat tersebut sehingga tampak baginya
tak lebih dari sekadar membaca surah Al-Fatihah. Dalam berbagai riwayat lain
disebutkan bahwa bacaan Rasulullah s.a.w. setelah Al-Fatihah adalah surah
Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas pada rakaat keduanya.
b)
Qabla Dzuhur dan Ba’da Dzuhur
Selain riwayat di
atas yang menyebutkan jumlah rakaat shalat sunah qabla dan ba’da dzuhur adalah
empat rakaat (dua sebelum dan dua sesudahnya), diriwayatkan juga jumlah lain, enam
rakaat dan delapan rakaat.
-
Diriwayatkan dari Ummu Habibah bt. Abu Sufyan,
bahwasannya Rasulullah mengatakan:
"من صلى في يوم وليلة اثنتي عشرة
ركعة بني له بيت في الجنة: أربعا قبل الظهر، وركعتين بعدها، وركعتين بعد المغرب،
وركعتين بعد العشاء، وركعتين قبل صلاة الفجر." (رواه الترمذي وقال حسن صحيح، ورواه مسلم مختصرا)
“Barang siapa yang
mengerjakan shalat (sunat) sebanyak dua belas rakaat dalam sehari semalam, akan
dibuatkan untuknya rumah di surga; empat sebelum dzuhur dan dua setelahnya, dua
setelah maghrib, dua setelah isya serta dua rakaat sebelum shalat shubuh.”
(Riwayat Turmudzi dan dikatakan olehnya hadits ini hasan shahih. Muslim
juga meriwayatkan dalam riwayat yang ringkas)
-
Dan masih dari Ummu Habibah, Rasulullah s.a.w. mengatakan:
"من صلى أربعا قبل الظهر وأربعا
بعدها حرم الله لحمه على النار." (رواه أحمد
وأصحاب السنن وصححه الترمذي)
“Barang siapa yang shalat empat rakaat sebelum dzuhur dan empat
rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkan dagingnya atas neraka.” (Riwayat
Ashabussunan dan dishahihkan oleh Turmudzi)
c)
Ba’da Maghrib dan Ba’da Isya
Setelah maghrib dan
isya masing-masing disunatkan shalat dua raka’at sebagaimana ditunjukkan oleh
riwayat Ibn Umar di atas.
Shalat rawatib di atas adalah sangat dianjurkan dalam
menunaikannya (sunnah muakkadah), dan dari sunat rawatib ada yang
termasuk kategori ghair muakkadah yaitu empat rakaat sebelum ashar.
Hadits Ibn Umar menyebutkan bahwa Rasulullah s.a.w.
berkata:
"رحم
الله امرأ صلى قبل العصر أربعا." (رواه أحمد
وأبو داود والترمذي وحسنه، وابن حبان وصححه، وكذا صححه ابن خزيمة)
“Allah akan merahmati orang yang menunaikan shalat empat
rakaat sebelum ashar.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi, dan Ibn Hibban)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!