Rahmat Allah adalah kebaikan. Dalam pengertian
konsekuensi yang diterima manusia, sebaliknya dari rahmat adalah adzab (siksa).
Secara kodrati, manusia bukan hanya sekedar dapat menginginkan melainkan
membutuhkan kebaikan atas dirinya. Kebaikan identik dengan rasa nikmat dan
menyenangkan dan hal itulah pada dasarnya yang diidam-idamkan manusia.
Dalam pengertian Al-Quran, dengan
melekatkan keutamaan manusia atas makhluk lainnya yakni anugerah akal-pikiran,
orang-orang yang menempuh jalan salah (bertentangan dengan agama) adalah
orang-orang yang tidak berpikir. Dan orang-orang yang memilih jalan benar (baca:
bertakwa) banyak disebut Al-Quran sebagai kelompok orang yang berpikir (ulul
albab). Dan dalam pandangan manusia sendiri, meskipun dengan sifat
menafikan wahyu Allah, berpikir merupakan cara untuk mendapatkan suatu ‘kebaikan’
yang akan diperolehnya.
Islam merupakan kerangka kebaikan (baca:
rahmat Allah) yang substansinya melampaui kemampuan berpikir manusia. Manusia
boleh jadi memiliki satu pandangan yang menurutnya dapat mendatangkan kebaikan
padahal hal itu justru mencelakakan. Manusia boleh jadi menilai sesuatu sebagai
hal buruk pada hal itu merupakan kebaikan. Hal demikian ditegaskan oleh Allah:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن
تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ [٢: ٢١٦]
“... boleh jadi kalian membenci sesuatu
padahal itu baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu
buruk bagi kalian. Dan Allah paling mengetahui (segala sesuatu) dan kalian
tidaklah mengetahuinya.” (Al-Baqarah/2:)
Dalam hal mendapatkan kebaikan (rahmat Allah) inilah manusia membutuhkan suatu panduan yang benar-benar dapat menyampaikannya pada rahmat Allah dan itu adalah risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w., demikian itu ditegaskan oleh Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ [٢١: ١٠٧]
“Dan tidaklah kami mengutusmu melainkan
sebagai rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya/21: 107)
Dalam pengertian sebagai rahmat bagi
semesta alam berarti bahwa apa yang terkandung dalam risalah Nabi Muhammad
s.a.w. (baca: Islam) adalah kebaikan yang bersifat universal. Memaknai kebaikan
secara sempit (terbatas pada satu sudut pandang atau paradigma tertentu saja)
jelas-jelas bertentangan dengan substansi risalah yang dibawa oleh Nabi
Muhammad s.a.w., karena kebaikan Islam bersifat menyeluruh.
Kemenangan (secara politis), sebagai
contoh, merupakan suatu kebaikan. Akan tetapi tidak serta merta dengan dasar hal
tersebut, asal untuk meraih kemenangan, merupakan legitimasi untuk melakukan
hal-hal yang melampaui batas (ketentuan agama) dengan menghalalkan segala cara
seperti berbuat zhalim atas orang lain.
![]() |
| Muhammad Rasulullah s.a.w. |
Risalah Nabi Muhammad adalah rahmat bagi
semesta alam, secara subtantif mengandung pengertian bahwa risalahnya hanya
membawa kebaikan bagi semua manusia, bukannya menimbulkan bentuk kezhaliman. Bahkan,
suatu kali Rasulullah mendapat pengaduan dari shahabatnya agar beliau mendoakan
kebinasaan atas orang-orang musyrik, Rasulullah s.a.w. mengatakan:
"إِنِّيْ لَمْ أُبْعَثْ لِعَانًا
، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً" رواه مسلم
“Sesungguhnya aku tidaklah diutus sebagai
laknat (atas segolongan manusia), akan tetapi aku diutus sebagai rahmat.” (Riwayat
Muslim)
