? Manusia Bebas (Berkehendak)
Manusia disebutkan sebagai makhluk yang
paling baik penciptaannya, sehingga dengannya pula ia dijadikan khalifah Allah.
Malaikat, sebut saja sebagai simbol kepatuhan dalam penghambaan yang identik
dengan kesucian, ternyata bukanlah makhluk yang dipilih Allah untuk mendapatkan
kehormatan tersebut. Allah menegaskan, meskipun benar Allah menghendaki
penghambaan dari segenap makhluk-Nya seperti halnya tercermin dari jalan hidup
malaikat, bahwasannya permasalahannya lebih dari apa yang diungkapkan malaikat
sebagai “protes” atas kehendak Allah.
Manusia diciptakan agar menghamba
(Adz-Dzariyat/51: 56) akan tetapi Allah tidak menjadikannya seperti malaikat
yang serta merta dalam totalitas ketundukan. Hal itu karena Allah Maha Kaya,
meskipun sangat mencintai ketundukan makhluk-Nya Allah sendiri tidaklah membutuhkan
ketundukan tersebut (14: 8).
Sebuah totalitas, termasuk penghambaan,
tidaklah lebih dari sebuah pola statis yang bersifat kuantitas. Demikianlah gambaran
yang melekat pada penciptaan malaikat. Sementara di sisi lain, yakni bersifat
kualitatif, adalah apa yang terdapat dalam penghambaan yang dilakukan seorang
manusia. Bobot kualitatif ini tidak bergantung pada kapasitas kuantitatif
melainkan pada relativitas yang terbangun kemudian. Setiap jiwa (manusia)
diciptakan secara sempurna dengan potensi baik-buruk (91: 7-8) dan yang menjadi
ukuran penilaian bagi Allah adalah bagaimana makhluk-Nya berkendak untuk
menghamba kepada-Nya.
? Kebebasan yang Tidak Membebaskan
Persepsi yang salah dalam menilai
kebebasan, dalam hal kaitan dengan keberagamaan, seringkali mendorong manusia
untuk memilih jalan yang tidak benar dan atau menganggap benar sesuatu yang
tidak benar (karena persepsinya sendiri). Inilah yang disiratkan Al-Quran
sebagai orang-orang yang paling rugi dengan ‘kebaikan-kebaikan’ yang mereka
lakukan:
هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ
أَعْمَالًا ؛ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ
يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا [الكهف\١٨: ١٠٣-١٠٤]
“Katakanlah: "Apakah akan Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?";
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (18: 103-104)
Kekeliruan dalam memaknai kebebasan telah
mengantarkan manusia pada hal-hal yang mencelakakan dirinya. Bebas tanpa aturan
dalam pandangan manusia seringkali menjadi keadaan yang diidam-idamkan sehingga
mereka sangat terganggu dengan adanya pembatasan dalam hal berpakaian,
makan-minum, bersuka ria dan lain-lain sebagainya yang identik dengan hal-hal
yang dianggapnya menyenangkan (baca: nikmat). Padahal, dalam hal-hal yang
dianggap nikmat tersebut bukanlah hal-hal yang membebaskan dirinya melainkan
sebaliknya. Nilai kebebasan atau rasa nikmat apakah, sebagai contoh, yang dapat
diraih manusia dengan bebas mabuk-mabukan yang hanya memberikan imajinasi
perasaan bebas dan kehilangan kesadaran sementara secara lahiriyah saja ia
menanggung resiko yang sangat mengancam keselamatan hidup (nikmat yang sebenarnya).
? Manusia dan Kebebasan
Kebebasan mensiratkan pengertian lepas
sama sekali, tidak terhalang, tidak terganggu sehingga dapat bergerak secara
leluasa. Sifat terkekang, terbelenggu – baik secara fisik atau non-fisik –
merupakan kebalikan dari arti bebas. Keterikatan termasuk kondisi yang
seringkali dianggap bertentangan dengan kebebasan. Dalam pengertian tanpa
batas, dari segala bentuk batasan yang mengikat manusia, adalah hal yang
mustahil terjadi dalam kehidupan. Bahkan di ‘buminya’ sendiri, manusia tidak
dapat dengan bebas bernafas di air, melayang di udara atau sekedar menembus
dinding yang dibuat dengan tangannya sendiri.
Di dalam Al-Quran makna bebas terdapat
pada beberapa kata seperti ( براءة ) berarti terlepas, merdeka ( حرّ ) dari perbudakan, dan terlepas dari
konsekuensi ( حطّة
) dosa, keluar ( خرج
) dari penjara, atau pembolehan ( حلّ ) dari suatu larangan. Dari
kata-kata yang digunakan tersebut tidak ada ada satu katapun yang secara total
mensiratkan ketidakterikatan manusia pada segala sesuatu melainkan dari kondisi
tertentu saja yang secara kodrati menempatkan manusia pada keadaan terbelenggu.
Kebebasan identik dengan kehendak. Tanpa
dihubungkan dengan konsekuensi atau kondisi tertentu yang berkaitan dengan
kehendak itu sendiri, kehendak terkesan mensiratkan makna totalitas kebebasan.
Hal seperti ini yang disebutkan oleh Al-Quran dengan kebebasan manusia untuk
memilih jalan hidupnya:
فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ [١٨: ٢٩]
“... maka barangsiapa yang ingin (beriman)
hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir."
(18: 29)
Akan tetapi sifat membebaskan pilihan
tersebut tidaklah berarti membebaskan manusia dari konsekuensi yang harus
dihadapinya. Memilih beriman atau kafir bukanlah dua hal yang sama melainkan
masing-masing memiliki konsekuensi yang sama sekali berbeda. Masih di ayat yang
sama Allah menegaskan bahwa bahwa bagi orang yang memilih jalan kufur
disediakan “...neraka, yang gejolaknya mengepung mereka”, dan tidak menyebutkan
secara langsung konsekuensi jalan lain (dengan beriman).
Sampai di sini kita dapat menyimpulkan,
bahwa selain sebagai negasi untuk kondisi-kondisi yang membelenggu manusia,
kebebasan menafikan konsekuensi yang akan ditanggung oleh manusia sebagai
akibat dari perbuatannya. Pengertian ditanggung mensiratkan apa-apa yang harus
dibayarkan oleh seseorang dan bukannya diperoleh, sebagai konsekuensi yang
berbeda untuk orang beriman yang tidak lagi menjadi tanggungan melain apa yang
akan diperolehnya secara bebas dan membebaskan jiwanya.
Al-Quran mengisyaratkan jalan hidup yang
dipilih oleh manusia dengan ungkapan yang diambil dari akar kata “sa-ba-la”.
Dari akar kata ini juga datang kata untuk air hujan sebelum sampai ke tanah,
batang padi, hidung, dan jalan. Dalam bentuk kata kerja dari akar kata tersebut
terdapat arti caci maki, menurunkan, bercucuran, menuangkan dan arti-arti
lainnya yang secara umum menggambarkan sifat proses perpindahan air (dari atas
ke bawah). Dari proses tersebut mensiratkan makna selalu searah atau cara yang
sama, mengarah pada, dan arah yang pasti. Maka, dengan melihat makna
harfiahnya, jalan hidup yang ditempuh haruslah dapat mengantarkan ke arah
tujuan dengan pasti dan jalan itu adalah sesuatu yang konsisten.
Apakah itu terkait dengan persepsi, hasrat
atau pengaruh dari luar diri seseorang, setelah ia dapat melihat berbagai jalan
dan bebas untuk menentukan langkah, menusia dapat menjadi salah arah dan
menjauh dari tujuan hidup. Dalam hal ini, kebebasan yang dimilikinya bukan lagi
potensi atau kenikmatan bagi dirinya. Sebaliknya, disaat dirinya terbebas dari
persepsi, hasrat atau pengaruh dari luar (yang tidak benar), dan boleh jadi ia
dipandang tidak selayaknya manusia bebas dalam bertindak, justru ia menempuh
jalan benar dan menjadi manusia bebas (meraih kemenangan) dan terhindar dari
konsekwensi yang tidak baik (azab).
Kebebasan berarti terlepas dari
konsekuensi (yang tidak disukai), dan tidak ada satupun dari tindakan manusia
yang tidak memiliki konsekuensi. Dalam pengertian terbatas (azab, beban)
konsekuensi hanya berlaku pada tindakan yang tidak benar. Dalam tindakan benar,
konsekuensinya tidak lagi dalam pengertian beban dan akibat buruk (azab), akan
tetapi kebaikan yang didapatkan dan dapat berupa kebaikan yang tidak terbatas.
Hal inilah yang disebut dengan kebebasan yang dapat diraih oleh manusia,
sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Quran:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ؛ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ [٧٤: ٣٩-٤٠]
“Setiap jiwa akan dibebani dengan apa yang
telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan.” (74: 39-40)
? Kebebasan dan Fitrah
Keinginan yang tidak dibatasi oleh sesuatu
apapun identik dengan kebebasan dan pilihan yang dibuat dalam menghambakan diri
seringkali dipandang bertolak belakang dengan kebebasan. Paradigma tersebut
terkait erat dengan kekeliruan manusia dalam memahami kebebasan, apa yang
diraihnya dengan kebebasan dan apa yang dapat memberi kebebasan. Memaknai
kebebasan sebagai terpuaskannya hasrat (nafsu) merupakan hal yang mendasar yang
mendorong manusia terjebak dengan pandangan yang keliru. Dalam batasan tertentu,
kebebasan yang dinilai dengan kadar kebaikan yang didambakan, seringkali
mengalami reduksi nilai.
Sifat terpuaskan pada diri manusia pada
dasarnya merupakan hal yang sangat sederhana. Dalam hal ihwal makanan, sebagai
contoh, rasa terpuaskan pada dasarnya cukup dengan tercukupinya kebutuhan akan
asupan makanan pada tubuhnya secara baik. Hasrat seksual, sebagai contoh lain,
sampai pada titik terpuaskan pada batasan yang sangat sederhana dengan mencapai
klimaks. Dan hal-hal lain yang ditetapkan Allah dalam kehidupan di dunia adalah
ukuran-ukuran yang sangat sederhana dan mudah untuk dipenuhi. Akan tetapi ada
kecenderungan pada diri manusia untuk membangkang (melanggar) kodrat kehidupan
yang diungkapkan di dalam Al-Quran:
وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا [١٨: ٥٤]
“... sesungguhnya manusia adalah makhluk
yang paling gemar untuk membangkang.” (18: 54)
Apa yang dilanggar oleh manusia dapat
mencapai pada substansi yang paling penting dalam dirinya yaitu fitrah,
yang merupakan kodrat penciptaan manusia yang tidak dapat (dan tidak boleh)
tergantikan oleh sesuatu apapun. Fitrah adalah kenisbian yang melekat pada
hidup manusia, yang dengannyalah manusia diciptakan untuk meraih kebahagiaan.
Fitrah dalam pengertian syar’i berarti ketauhidan dan keislaman yang
substansinya adalah penghambaan kepada Allah SWT yang telah menciptakannya dan
segala sesuatu yang berkaitan dengan perikehidupannya.
Fitrah seseorang akan dihadapkan pada
konsekuensi yang menyengsarakan, menghilangkan kebaikan hidup yang dapat
diraihnya, menghalanginya memperoleh kenikmatan tanpa batas (tidak terbatas
pada sifat material atau kuantitatif); ketika fitrah tersebut telah tereduksi
atau tergantikan oleh sesuatu yang lain yang tidak sejalan dengan ketentuan
yang ditetapkan Allah SWT.
فَأَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ
عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [٣٠: ٣٠]
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus
kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (30: 30)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!