Ibadah tanpa Syukur

? Bersyukur atas Segala Sesuatu
Sedikit sekali yang bisa bersyukur, demikian ditegaskan di dalam Al-Quran, yang dapat menghadapi kebaikan sebagai ujian. Segala nikmat yang diberikan Allah SWT, bersifat tiada henti dan tidak terbilang, justru dilupakan manusia dan banyak yang dengan pongah menafikan Allah dan perintah-Nya. Kekayaan, disombongkannya sebagai pencapaian yang berhasil dilakukannya sendiri. Ilmu, kehormatan dan banyak nikmat-nikmat lainnya yang justru mendekatkan manusia pada hal yang mencelakakannya; kekufuran.
Substansi syukur adalah keridhoan atas apa-apa yang ditentukan Allah SWT. Seseorang yang dapat bersyukur akan senantiasa mampu menyandarkan segala sesuatu kepada Allah. Salah satu dzikir yang dicontohkan Rasulullah s.a.w. bahkan untuk sesuatu yang tidak disenangi adalah:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Segala puji bagi Allah atas segala sesuatu.”

? Sadar Akan Hilangnya Nikmat
Ungkapan yang cukup populer, bagi penggemar lagu dangdut cukup tahu hal ini didengungkan oleh Rhoma Irama; “Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga...”, boleh jadi setiap orang pernah mengalaminya. Menyadari betapa berharganya sesuatu memang akan sangat terasa di saat hal itu telah tidak ada. Kesehatan, dalam bentuk yang paling kecil sekalipun, ketika seseorang sakit akan dengan mudahnya menyadari betapa nikmatnya sebelum itu.
Menyadari betapa sesuatu itu berharga setelah kehilangannya menunjukkan bahwa seseorang tidak menyadarinya di saat masih ada bersamanya. Boleh jadi, karena hal itu tidak di sadarinya, segala kebaikan yang melekat pada sesuatu itu terabaikan. Hal ini sangat erat dengan kemampuan kita untuk mensyukuri segala sesuatu, yang seringkali sulit untuk dilakukan.
Salah pola ibadah terkait dengan kecenderungan tersebut adalah seseorang yang beribadah dengan khusyuk di saat sedang ditimpa kemalangan. Jika sebelumnya ia tidak meminta kepada Allah, seolah-olah tidak membutuhkan apa-apa dari-Nya, di saat susah – ketika tak memiliki pegangan yang konkret – berdoalah ia dengan sungguh-sungguh. Allah SWT menggambarkan, bahkan setelah kemudian Allah memberikan apa yang dimintanya orang tersebut justru kembali melupakan seolah-olah tidak memintanya.
وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٠: ١٢]
“Dan ketika manusia ditimpa kemalangan, dia berdoa pada Kami dalam keadaan terbaring, atau duduk atau berdiri. Kemudian ketika kami hilangkan kemalangannya, ia berlalu saja seolah-olah tidak pernah meminta (berdoa) kepada Kami untuk (menghilangkan) kemalangan yang menimpanya. Demikianlah orang-orang yang melampaui batas itu dibuat memandang baik apa yang mereka kerjakan. (Yunus/10: 12)

? Syukur sebagai Akhlak yang Mulia
Kebanyakan manusia adalah mereka yang tidak dapat mensyukuri nikmat Allah, sementara Nabi s.a.w. bukanlah seperti yang kebanyakan tersebut. Dalam kaitan dengan nikmat, hanya dua sikap yang ada pada manusia yang keduanya saling bertentangan, yakni syukur dan kufur.
Syukur adalah akhlak para Nabi, orang-orang terpilih yang mendapatkan keutamaan ilmu (wahyu) yang tidak diberikan kepada yang lainnya. Nuh a.s. salam, salah satunya, disebutkan:
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا [١٧: ٣]
“... sesungguhnya dia (Nuh) itu adalah seorang hamba yang pandai bersyukur.” (Al-Isra’/17: 3)
Dan Rasulullah s.a.w., seperti digambarkan oleh Aisyah r.a, yang akhlaknya adalah Al-Quran merupakan sosok yang sifat syukurnya sangatlah utama. Demikian dapat dilihat dari yang ditanyakan Aisyah ketika melihat Rasulullah dengan shalat malamnya yang membuat kakinya sampai bengkak, “kenapa Anda melakukan ini, bukankah Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang sudah berlalu ataupun yang akan datang?” Rasulullah s.a.w. menjawab:
"أَفَلَا أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا"
“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang pandai bersyukur (karenanya)?” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
 Dari Nabi s.a.w. sendiri kita dapat melihat, bagaimana kemudian Allah memuliakannya karena rasa syukurnya. Allah menjanjikan bagaimana jika seorang hamba yang bersyukur akan mendapatkan lipat ganda balasan kenikmatan-kenikmatan dari Allah SWT.
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [١٤: ٧]
“jika kalian bersyukur, sungguh Aku benar-benar akan menambahnya dan apabila kalian kufur sesungguhnya (akan mendapatkan) siksa-Ku yang sangat berat.” (Ibrahim/14: 7)
Ibn Qayim mendefinisikan syukur sebagai; pengakuan seorang hamba kepada Dzat yang telah memberinya kenikmatan dengan wujud ketundukan dan merendahkan diri pada-Nya serta mencintai-Nya.

? Kebaikan (Nikmat) hanya Melekat pada Seorang Mukmin
Ibn Qayim juga memaparkan, bahwa orang yang tidak mengetahui (menyadari) akan nikmat-nikmat yang diterimanya, tidak akan menyadari siapa yang memberinya nikmat dan tidaklah dapat bersyukur atasnya. Fenomena bahwa seseorang cenderung menyadari kabaikan sesuatu justru setelah ia kehilangannya sangat kecil sekali kemungkinannya untuk dapat bersyukur. Bahkan setelah ia menyadari, boleh jadi hanya dapat menyesali atau meratapinya tanpa bisa meraih kebaikan apa-apa lagi darinya.
Rasulullah s.a.w., sebagai contoh dalam kaitan kenikmatan harta benda, mengatakan:
لَيْسَ اْلغِنَى عَنْ كَثْرَةِ اْلعَرَضِ، وَلَكِنَّ اْلغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan itu bukanlah pada banyaknya harta benda, melainkan pada kekayaan jiwa seseorang.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kebaikan dari nikmat-nikmat yang diberikan Allah hanya akan melekat pada pribadi mukmin. Demikian itu ditegaskan Rasulullah s.a.w.:
"عجبا لأمر المؤمن، إن أمره كله خير، وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن، إن أصابته سراء شكر، فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء، صبر فكان خيرا له" مسلم
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, segala sesuatu adalah baik untuk dirinya. Hal seperti itu tidak akan terjadi kecuali kepada seorang mukmin saja, (karena) jika diberi kesenangan maka ia bersyukur dan itu adalah baik untuknya dan jika ditimpa kemalangan ia bersabar maka itu baik untuk dirinya.” (Muslim)
Berbeda halnya dengan orang yang kufur:
فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ (٩: ٥٥)
“Maka janganlah engkau takjub akan harta benda dan anak-anak mereka, sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (At-Taubah/9: 55)

? Dua Karakter Ibadah yang Berbeda
Dalam kaitannya dengan beribadah, Allah menggambarkan kondisi orang yang tidak mensyukuri nikmat itu dalam ayat berikut:
وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [۱٠: ١٢]
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus/10: 12)
Bahkan setelah Allah menolongnya hal itu tidak akan membuatnya mendapatkan kebaikan. Ia sama sekali lupa seolah-olah tidak pernah meminta, padahal sebelumnya ia meminta dengan sangat bersungguh-sungguh, dilakukannya dalam keadaan apapun (sambil berbaring, duduk atau berdiri).
Di dalam ayat ini disebutkan susunan penyebutan keadaan ibadahnya secara berbeda dengan apa yang diperintahkan Allah:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ [٤: ١٠٣]
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring...” (An-Nisa/4: 103)
Pelajaran yang dapat dipetik dari susunan tersebut pada dasarnya menyangkut perihal kesungguhan seseorang dalam beribadah dengan keadaan dirinya. Orang yang beriman (sebagaimana disebutkan dalam surah Aali ‘Imran/3: 191) ibadahnya dilakukan baik dengan cara berdiri (ketika ia sehat, baik-baik saja), atau duduk (karena kepayahan), atau bahkan berbaring (karena uzur/kelemahan fisik), tetap saja konsisten dalam berdzikir kepada Allah. Sementara orang yang kufur (melampaui batas), dapat dipastikan ketika ia menderita untuk meminta dengan berbaring, atau duduk, atau berdiri. Tetapi itu hanya sejauh ia meminta, karena ketika keadaannya baik-baik saja ia lupa (tidak konsisten) dalam mengingat Allah dan berlalu begitu saja tanpa mampu meraih kebaikan apapun.
Wallaahu a’lam.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh"
Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!