Alkisah I; Ada seorang alim yang terkenal dengan
segala keshalihannya di sebuah negeri. Orang-orang berdatangan kepadanya dengan
berbagai harapan dan maksud. Seseorang yang haus dengan pengetahuan datang
kepadanya untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik lagi. Seseorang yang
berkuasa datang kepadanya untuk mendapatkan nasihat dan petunjuk yang benar.
Jika ia sedang bepergian maka di belakangnya berjalan mengiringi orang banyak
yang berharap mendapat keberkahan dengan berada di dekatnya. Karena pepatah
mengatakan, bila bersanding dengan sesuatu yang harum, maka engkau akan terbawa
harum pula. Dan karena kemuliaan yang dimilikinya, kemanapun ia berjalan awan
selalu menaunginya dari terik matahari.
Suatu hari sang alim
berjalan di dekat pasar dan orang-orang berkerumun mendekatinya, mengikuti di
belakangnya kemanapun ia melangkah. Tiba-tiba di jalan yang sedang ditempuhnya
terdapat seorang wanita tunasusila yang bermaksud hendak mendekatinya berkata:
“Alangkah mulianya engkau
wahai sang alim! Betapa bahagianya aku bila berada di dekatmu, dan akan
kudengarkan setiap kata-katamu agar aku dapat bertaubat dan aku pastinya akan
terpelihara dari perbuatan-perbuatan maksiat dan tercela.”
“Hus!” Sang alim terperanjat
dan memutar langkah menjauhi wanita tersebut. “Sungguh engkau manusia hina,
sungguh tidak ada pantasnya engkau mendekatiku. Menjauhlah dariku!”
Dengan serta merta awan yang
menaungi sang alim berpindah berada di atas wanita yang dihardiknya.
Alkisah II, Seseorang mengetahui bahwa dalam segala
hal diutamakan untuk mendahulukan kaki atau tangan kanan. Suatu kali ia menumpang
bis kota karena hendak bepergian ke rumah kerabatnya. Saat mendekati tempat
tujuannya ia menghampiri pintu bis sebelum berhenti di sana. Sesaat sebelum itu
kondektur bis mengingatkan untuk mendahulukan kaki kiri di saat ia turun dari
bisa khawatir bis tersebut masih belum benar-benar berhenti. “Ah, agama juga
mengajarkan untuk mendahulukan segala sesuatu dengan yang kanan.” Katanya
dengan tegap.
Saat ia turun dari bis yang
masih melaju dengan pelan, karena memaksakan turun dengan kaki kanannnya, ia terjerembab
jatuh. Kondektur bilang, “Sudah saya bilang dulukan kaki kiri, Pak!”
“Kamu kernet tahu apa. Pakai
kaki kanan saja aku jatuh, apalagi kalau pakai kaki kiri!” tegahnya setengah
berteriak kepada kondektur yang sudah mulai melaju dengan bisnya.
Demikian ia berulang kali
melakukannya dan tidak mau mendengarkan peringatan yang diberikan kondektur
bis, sehingga setiap kali turun dari bis kota dia selalu jatuh tersungkur.
Kesombongan adalah anggapan yang berlebihan
terhadap diri sendiri atau sesuatu yang berhubungan dengan diri yang didasarkan
pada suatu kelebihan atau keutamaan yang dimilikinya. Anggapan tersebut
cenderung berlebihan karena sifat kesombongan cenderung menguatkan terhadap
suatu kelebihan atau keutamaan dalam hal eksistensinya terhadap yang lain. Di
dalam kesadaran, kesombongan dapat membangun sebuah persepsi secara radikal
sehingga dapat menutup pandangan seseorang dalam menilai sesuatu dengan benar.
Dalam kondisi tertentu, di saat seseorang dituntut untuk dapat memandang
sesuatu dengan benar, persepsi tersebut dapat membuatnya celaka karena ia telah
dibuat buta karenanya.
Keengganan
iblis untuk taat kepada Allah saat diperintahkan untuk bersujud kepada Adam
adalah karena persepsi iblis yang mengatakan bahwa api lebih baik dari tanah.
Iblis tidak menyadari bahwa hal yang paling mendasar adalah perintah yang
diberikan Tuhan yang sebenarnya tidak berhubungan dengan nilai tanah atau api,
perintah tersebut menuntut ketaatan tanpa harus mempertimbangkan apapun. Apakah
itu benar atau tidak bahwa api memiliki nilai lebih dari tanah, bukanlah
substansi yang patut menjadi pertimbangan saat itu berhubungan dengan kehendak
Allah SWT.
Hadits dari Iyadh ibn Himar menyebutkan bahwa
Rasulullah s.a.w. bersabda:
إن الله أوحى إلي : أن تواضعوا حتى لا يفخر أحد على أحد ولا يبغوا أحد على أحد
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah
hati, hingga seseorang tidak membanggakan diri terhadap yang lain dan seseorang
tidak berbuat aniaya terhadap yang lain.” (H.R. Muslim)
Benih-benih kesombongan adalah menilai sesuatu
atau orang lain pada tempat/kedudukan yang lebih rendah. Bisa saja dalam satu
kedudukan seseorang ada di bawah seseorang, tetapi hal ini bukanlah dasar untuk
menilai bahwa orang lain lebih rendah dari dirinya atau hina karena penilaian
tersebut yang kemudian membangun persepsi terbalik tentang diri sendiri. Setelah
menjadi kesombongan dalam dirinya, persepsi tersebut membutakannya dari memandang/menilai
sesuatu dengan benar apalagi menerima kebenaran dari orang yang dianggapnya
lebih rendah.
Kebenaran bisa datang dan dikatakan oleh siapa
saja. Saat di dalam hati seseorang terdapat kesombongan, kebenaran itu
terhalang darinya dan akan sangat sulit baginya untuk dapat menerima kebenaran
tersebut.
Rasulullah bersabda:
الكبر بطر الحق و غمط الناس
“Kesombongan itu penolakan terhadap kebenaran dan
penghinaan terhadap manusia.”
Oleh karena itu Nabi s.a.w. juga menegaskan dalam
hadits dari Ibn Mas’ud:
لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من الكبر
“Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan
meskipun seberat dzarrah.” (H.R.
Muslim)
Hal-hal berikut ini merupakan kecenderungan
yang penyebab tumbuhnya adalah kesombongan.
1. lupa
Kesombongan dapat menghalangi seseorang
dari peringatan yang datang padanya sehingga ia menjadi lupa terhadap apa yang
seharusnya dilakukan dengan benar. Lupa terhadap suatu nilai/prinsip juga
dengan sendirinya terkondisikan oleh persepsi yang tumbuh dari perasaan
sombong. (lih. Q.S. ‘Abasa)
2. Lalai dan malas
Sikap lalai atau malas adalah perasaan enggan
terhadap sesuatu yang biasanya didasarkan pada suatu alasan. Alasan tersebut
kadang-kadang terkesan dibuat-buat untuk melakukan pembenaran yang disangkakan
dapat memuaskan hati. Akan tetapi seringkali yang menjadi alasan/pemicu sikap
lalai dan malas terhadap sesuatu adalah karena adanya anggapan menyepelekan.
3. hasud dan dengki
hasud dan dengki adalah kecenderungan tidak baik
dalam menilai kebaikan yang ada di luar diri seseorang. Perasaan ini muncul
karena adanya hasrat (yang tidak tersampaikan) untuk memiliki apa yang ada pada
orang lain atau kebencian. Ketidakmampuan untuk menerima tersebut secara
mendasar datang karena adanya pandangan yang lebih atas diri sendiri dan atau
sebaliknya tidak mampu menghargai sesuatu yang di luar dirinya.
4. Riya
Persepsi yang dibentuk dengan perasaan tinggi hati
cenderung berkaitan erat dengan kesan atau citra seseorang. Di saat seseorang
merasa tinggi hati dengan satu kebaikan yang ada pada dirinya dia memandang
dirinya dalam persepsi yang berbeda yang dikemas dalam pencitraan yang berusaha
dibentuknya. Untuk mempertahankan citra tersebut, kecenderungan untuk
mendapatkan pujian dan pandangan yang lebih baik dari orang lain, sehingga
dalam hal apapun seseorang dapat merasa sia-sia apabila tidak mendapatkan
pujian atau pandangan yang baik tersebut. Sikap riya tersebut mengakar dengan
sendirinya karena seseorang akan cukup kesulitan untuk dapat jujur dengan
dirinya sendiri dan mengandalkan pandangan orang lain yang sebenarnya sebatas
pencitraan yang diciptakannya sendiri.
5. Bakhil
Dalam hubungannya dengan kekayaan, perasaan
memiliki secara berlebihan terhadap harta benda dan atau hasil suatu kerja keras
membentuk egoisme dan pikiran pendek dalam mendermakan sebagian dari harta
bendanya atau bahkan membelanjakannya.
6. Kufur
Dalam berbagai hal kesombongan mendorong seseorang
untuk menolak kebenaran dan segala sesuatu tentang hakikat kehidupan dalam hubungannya
dengan kekuasaan Allah SWT. Sikap sombong yang tumbuh subur dalam diri
seseorang
7. Syirik
Menyekutukan Allah dosa besar yang tidak
termaafkan. Pandangan berlebihan seseorang atas sesuatu yang mengantarnya pada
pengkultusan adalah wujud tertutupnya hati akan kebenaran yang digariskan oleh
syari’at dalam bertauhid. Menolak untuk mempercayai satu-satu sumber kekuatan
(Allah SWT) merupakan kecenderungan yang digambarkan Nabi s.a.w. sebagai
penolakan terhadap kebenaran.
Ibn Taymiyah mengatakan: “Takabur lebih jahat daripada syirik, sebab orang
yang takabur merasa dirinya hebat dari beribadah kepada Allah. Sedangkan orang
yang musyrik masih mau beribadah kepada Allah dan kepada yang lainnya.”
فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ
فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ [16: 29]
“Maka masukilah
pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka Amat buruklah tempat
orang-orang yang menyombongkan diri itu.” (QS Al-Nahl: 29)
Hal lain yang kedudukannya karena perasaan “lebih”
terhadap sesuatu di dalam dirinya adalah perasaan lebih dalam memposisikan
penderitaan (atau segala sesuatu yang menurut pandangan manusia tidak baik). Hal
ini yang disebut dengan keluh kesah. Contohnya seperti kecenderungan
melebih-lebihkan kekurangan diri sendiri (untuk dijadikan alasan), pada
dasarnya merupakan kesombongan. Demikian dapat dilihat ketika perasaan tersebut
telah menghambatnya dari beribadah atau mendengar nasihat yang datang padanya.
Baik kesombongan dalam kaitannya dengan kebaikan
ataupun kaitannya dengan hal yang sebaliknya, sifat kesombongan itu sangatlah
berbahaya ketika dihadapkan dengan Allah SWT, misalnya saat seseorang
mengatakan: Aku tahu Allah memintaku untuk berbuat itu, "tapi bagaimana
lagi....", "tapi apa iya....", "tapi mana bisa..." – dsb., dan sebagainya.
Aku katakan padamu, dan aku mohonkan ampunan
untukku dan untukmu kepada Allah. Wallaah al muwafiq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!