Rasa bosan atau jenuh adalah hilangnya simpati (rasa
suka) terhadap sesuatu karena terjadinya pengulangan atau terlalu sering.
Kunjungan seseorang biasanya merupakan hal yang disukai, akan tetapi hal itu
bisa jadi berbeda apabila kunjungan tersebut dilakukan secara terus-menerus. Menyukai
sesuatu yang baru (seperti smartphone, tablet, sepeda motor, mobil)
dapat membuat kita betah berlama-lama menggunakannya, akan tetapi ada batas
dimana seseorang akan merasa bosan dengannya dan berhenti menggunakannya dan
bahkan menyingkirkannya jauh-jauh (baca: menjualnya).
Akan tetapi berbeda dari kebanyakan hal lain yang
bersentuhan dengan manusia, dalam berinteraksi dengan Al-Quran manusia tidak
pernah dihinggapi kebosanan. Semakin sering seseorang membacanya, semakin betah
ia dibuatnya. Kita boleh jadi hanya dapat membaca (menghapal) sebagian kecil
saja dari Al-Quran, akan tetapi yang sebagian kecil itu tidak pernah berhenti
dibacakan. Faktanya, betapa banyak orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa
Al Quran (bahasa Arab), akan tetapi ia selalu membacanya dan terus-menerus
mengulangnya. Banyak orang yang dapat memahami, faktanya ia tidak dapat
berhenti dari merenungi, menelaah, mengambil pelajaran bahkan dari satu bagian
terkecil sekalipun. Dalam kapasitas yang lebih besar (intelektualitas,
aktualitas bahkan dalam perkembangan sepesat gadget sekalipun), Al-Quran
tetap hadir sebagai sesuatu yang digandrungi, dinikmati dan tidak membosankan.
Kebosanan dapat diidentifikasi dengan berhentinya melakukan/menggunakan
sesuatu. Pengulangan (yang tidak dibutuhkan) menjadi pemicu pokok berhentinya
sesuatu itu dan selebihnya adalah kehadiran sesuatu yang dipandang dapat
menggantikannya. Akan tetapi orang yang berhenti membaca Al-Quran bukanlah
karena rasa bosan yang menghinggapinya. Semakin sering seseorang membaca
Al-Quran, bukanlah kebosanan yang dirasakannya, melainkan hasrat untuk terus
melakukannya. Meninggalkan Al-Quran, dalam ukuran yang beragam, dapat
dipastikan sangat terkait erat dengan konsistensi (istiqomah) seseorang dengan
keimanan. Tidak ada yang dapat membandingi jumlah cetakan yang sudah dicapai
oleh Al-Quran dalam bentuk mashaf. Tidak ada sesuatu yang dibaca secara
berulang-ulang dan itu dilakukan oleh banyak orang seperti cara Al-Quran itu
dibaca, bahkan kitab suci yang lain.
Selain karena keseringan, rasa bosan juga muncul karena
ada sesuatu yang dapat menggantikan atau yang lebih baru yang menawarkan
hal-hal yang lebih mengasyikkan. Keseringan atau terlalu sering dapat dipahami
sebagai sesuatu yang intensitasnya melebihi ihwal kebutuhan (memandang sesuatu
itu baik untuk sendiri). Selama masih melekat sifat dibutuhkan pada seuatu hal
maka rasa bosan tidak muncul. Adapun munculnya sesuatu yang menggantikan atau
dianggap lebih baik secara mutlak berlaku pada sesuatu dapat dipastikan akan mendatangkan
rasa bosan dan hal ini lagi-lagi karena pandangan/anggapan yang melekat sebagai
kebaikan/kebutuhan tidak lagi melekat padanya. Demikian itu disebutkan di dalam
Al-Quran:
لَّا يَسْأَمُ الْإِنسَانُ مِن دُعَاءِ
الْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ [٤١: ٤٩]
“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka
ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Fushilat/41: 49)
Rasa membutuhkan (kebaikan) yang melekat pada Al-Quran
dan tidak adanya sesuatu yang dapat menandingi terlebih menggantikannya
merupakan alasan kenapa Al-Quran berbeda dengan yang lainnya, tidak pernah
menjadi sesuatu yang membosankan. Jangankan untuk menandingi (menyamai) secara
keseluruhan, sebagaimana Al-Quran menantang segenap makhluk untuk bersatu padu,
sesuatu yang dapat menyamai Al-Quran dalam bentuk seukuran satu surat saja
tidak pernah dan tidak akan pernah ada yang mampu membuatnya selamanya.
