Shalat Istikharah

Shalat istikharah sangat dianjurkan berkaitan dengan berbagai urusan. Dikatakan para ulama yang dimaksud dengan urusan tersebut adalah urusan-urusan yang mubah karena dalam urusan makruh atau haram tuntutannya adalah untuk dijauhi dan dalam perkara sunnah atau fardhu tuntutannya adalah untuk dikerjakan. Hal demikian berlaku apabila seseorang dihinggapi kebimbangan dalam menentukan keputusan atau langkah yang harus ditempuh dalam suatu urusan.

Shalat istikharah dapat dilakukan malam hari atau siang hari, dengan dua rakaat shalat seperti pada umumnya dan tidak ada bacaan khusus di dalamnya. Seusai shalat, hendaklah memuji Allah dan ber-shalawat untuk Nabi s.a.w. dan dilanjutkan berdoa dengan doa yang terdapat pada riwayat di bawah ini.
Rasulullah s.a.w berkata:
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الْأَمْرَ – ثم تسميه بعينه – خَيْرًا لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – قال: أو فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ" (البخاري: ٧٣٩٠)
“Jika seseorang dari kalian merasa bimbang dalam satu urusan, hendaklah ia (shalat) dua rakaat di luar shalat fardhu dan hendaklah ia berdoa: ‘ya Allah, aku memohon pilihan yang terbaik dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kuasa dengan ke-Maha Kuasaan-Mu, dan aku memohon dikaruniai dari kebersaran karunia-Mu karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Berkuasa dan aku tidak ada kuasa, Engkaulah Yang Maha Tahu dan aku tidak mengetahui dan Engkau Maha Mengetahui atas segala perkara yang ghaib. Ya, Allah jika dalam pengetahuan-Mu urusan ini – dan menyebutkan urusan yang dimaksud – adalah lebih baik bagiku di dunia dan di akhirat (atau Nabi s.a.w. mengatakan: untuk agamaku, hidupku dan akibatnya) maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlah jalannya serta berkahilah padanya untukku. Ya Allah, dan seandainya dalam pengetahuan-Mu hal tersebut buruk untukku dalam urusan agamaku, hidupku dan akibatnya (atau Nabi s.a.w. mengatakan: untuk duniaku dan akhiratku), maka jauhkanlah aku darinya dan takdirkanlah untukku pada kebaikan dimanapun kebaikan itu berada, kemudian berikanlah keridhoan-Mu padaku pada hal itu.’” (Riwayat Bukhari: 7390)
Dalam riwayat tersebut Jabir bin Abdullah mengatakan: “Rasulullah s.a.w. mengajari para shabatnya untuk ber-istikharah dalam berbagai urusan seperti halnya beliau mengajarkan kepada mereka tentang satu surat dari Al-Quran.” Hal ini menunjukkan kedudukan penting shalat istikharah bagi seorang hamba.

Dianjurkan bagi seseorang yang ber-istikharah agar melapangkan hati sebelum mengerjakannya dan menjauhkan kecenderungan hati untuk menetapkan pilihan atau mengutamakan hal tersebut, karena jika demikian substansi kepasrahan dalam menyerahkan pilihan terbaik kepada Allah tidak terpenuhi. Shalat istikharah dilakukan untuk menyandarkan kebaikan sesuatu pada ilmu Allah dan perwujudannya sebagai ke-Maha Kuasaan Allah.


Print Friendly and PDF