Pengobatan Cara Nabi s.a.w. (Ath-Thibbun Nabawi)

Penyakit atau sakitnya manusia saat ini dipandang telah menjadi sangat beragam dan semakin kompleks (baca: tidak dapat disembuhkan). Salah satu belanja keluarga yang cenderung terus meningkat saat ini adalah biaya pengobatan. Dan sebagai pandangan yang keliru, tingginya biaya pengobatan seringkali diyakini sebagai jaminan akan mendapatkan kesembuhan.



Penyakit timbul dalam dua keadaan yang terjadi pada tubuh manusia, yaitu terjadinya kerusakan organ/gangguan fa’al tubuh dan atau karena keberadaan zat/benda asing pada tubuh manusia. Pengobatan dilakukan untuk memperbaiki keadaan/fa’al tubuh pada keadaan semula. Satu hal yang mendasar yang tidak dapat dipahami secara utuh oleh ilmu medis adalah peranan kejiwaan (rohani) dalam proses penyembuhan. Sebagian paham mengasumsikan hal demikian sebagai sugesti (saja) yang mengkondisikan bekerjanya fungsi-fungsi material unsur-unsur ragawi. Padahal, dalam tubuh yang hidup terdapat substansi yang akan selalu menjadi rahasia bagi intelegensi manusia, yaitu ruh sebagai sumber kehidupan dan, tentunya, termasuk segala elemen yang membangun tubuh itu sendiri.
Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, demikianlah satu hal mendasar yang harus diyakini oleh setiap pribadi muslim. Demikian itu telah ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w.:
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه مسلم)
“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat mengenai penyakit, niscaya sembuhlah (dari penyakit itu) dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (Riwayat Muslim)
Ada empat hal yang disebutkan Ibn Qayim dalam karangannya “Ath-Thibbun Nabawi”, sebagai cara Rasulullah dalam menyembuhkan penyakit:
a.         Rasulullah s.a.w. tidak pernah menggunakan obat kimia sebagaimana diprakarsai bangsa Romawi dan Yunani dengan farmatologi, melainkan konsisten dengan menggunakan obat-obat alami. Beliau mendapatkan wahyu sehubungan dengan obat-obatan tersebut seperti air (zamzam), madu lebah, jintan hitam (habbatus saudah), minyak zaitun, dan sebagainya.
b.        Rasulullah s.a.w. memilih jenis-jenis makanan tertentu yang dapat menjadi penawar gangguan penyakit. Merupakan hal mendasar yang diakui dunia kedokteran, bahwa segala penyakit yang dapat disembuhkan dengan asupan makanan atau sebaliknya dengan diet makanan (pantangan), maka pada dasarnya tidak membutuhkan obat khusus dalam penyembuhannya.
c.         Rasulullah s.a.w. senantiasa mendawamkan dzikir, doa, membaca Al-Quran, memperbanyak shalat, berpuasa, senantiasa bertaubat, berbuat baik kepada sesama dan banyak bersedekah; yang merupakan hal-hal mendasar dalam memperkuat kejiwaan (ruhani). Dengan kekuatan tersebutlah kemudian diperoleh kekuatan tubuh karena kekuatan sel-sel tubuh dan daya tahan tubuh.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Said Al-Khudriy, bahwasannya seseorang datang kepada Nabi s.a.w. dan berkata: “Sesungguhnya saudaraku sedang sakit perut.” Rasulullah s.a.w. berkata: “Minumkan padanya madu.” Maka orang itu pergi dan kembali lagi dan mengatakan, “aku telah memberikannya madu.” Disebutkan bahwa orang itu sampai melakukannya dua atau tiga kali pergi dan kembali kepada Rasulullah s.a.w. mengadukan dan berkata demikian dan Rasulullah s.a.w. selalu mengatakan: “Minumkanlah padanya madu.” Dan beliau mengatakan pada kali ketiga atau keempatnya orang itu kembali (dan mengatakan telah melakukan apa yang diminta Rasulullah s.a.w.): “Maha benar Allah dan berdusta perut saudaramu itu. Minumkanlah padanya madu.” Dan orang itu kembali lagi meminumkan madu pada saudaranya dan sembuhlah ia. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Demikianlah salah satu prinsip yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. dalam mengobati penyakit. Hadits di atas tidak hanya menunjukkan bagaimana seseorang harus berusaha keras dalam mengobati sakit dan tetap konsisten pada cara yang diperoleh Rasulullah s.a.w. melalui wahyu.
يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ [١٦: ٦٩]

“... Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (An-Nahl/16: 69)
Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!