Gerhana Matahari Total; Tidak Takut?

Saat terjadinya gerhana, baik gerhana matahari atau gerhana bulan, kesan mencekam seringkali menghinggapi perasaan kita. Kita dapat merasakan bagaimana langit menjadi lebih gelap meskipun terjadi di malam hari. Pandangan orang-orang dulu kejadian tersebut sering dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang mengerikan atau luar biasa yang menakutkan. Banyak pantrangan-pantrangan atau tradisi yang dilakukan orang-orang dahulu yang pada dasarnya merupakan bentuk ungkapan ketakutan.
Gerhana Matahari. ( Sumber: news.liputan6.com )
Adanya ketakutan demikian merupakan sifat naluriah yang ditetapkan oleh Allah, akan tetapi gambaran di atas bukanlah bentuk ketakutan yang dibenarkan. Abu Musa Al-Asy’ari mengatakan: “Pernah suatu kali terjadi gerhana matahari, Nabi s.a.w. lantas berdiri dengan dihinggapi ketakutan, (yakni) ketakutan akan terjadinya kiamat. Maka beliau datang ke mesjid, kemudian shalat dengan berdiri yang lama pada shalatnya, ruku’ dan sujud yang panjang yang aku sendiri tidak pernah melihat beliau berbuat demikian sebelumnya. Dan (setelah itu) beliau s.a.w. berkata:
هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ، لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ (البخري رقم ١٠٥٩)
“Sesungguhnya tanda-tanda kekuasaan Allah ini yang ditunjukkan-Nya, tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikannya untuk menanamkan rasa takut pada diri hamba-Nya. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk mengingat Allah (dengan shalat), berdo’a dan memohon ampun kepada-Nya.” (Riwayat Bukhari No. 1059)
Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah r.a., beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah s.a.w.. Lantas beliau bangkit dan mengimami orang-orang dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda:
"إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا" ثم قال: "يَا أمةَ مُحمَّد، والله مَا مِنْ أحَد أغْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً" (البخاري رقم ١٠٤٤)
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” Nabi selanjutnya berkata: ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (Bukhari, No. 1044)
Gerhana matahari memang merupakan fenomena alam yang “unik”, yang kini dengan perkembangan teknologi, informasi mengenai peristiwa tersebut dengan mudah dapat diketahui dan tersebar luas. Banyak yang mendorong dirinya untuk tidak melewatkannya dengan menyaksikan atau mengabadikannya dengan alat/media yang dimilikinya atau berkumpul menyaksikannya bersama-sama. Kini, dengan tradisi narsis atau selfie yang sedang trend, bisa jadi justru yang dilakukan orang malah sibuk mengabadikan penampakan-penampakan atau aksi-aksi dengan latar belakang fenomena tersebut. Padahal, sebagaimana telah kita ketahui dari Rasulullah s.a.w., peristiwa seperti ini seharusnya membuat kita semakin merasa takut kepada Allah SWT, semakin mengkhawatirkan berakhirnya kehidupan (kiamat) terjadi dengan tiba-tiba.
Dengan pengetahuan dan perkembangan yang kita miliki saat ini, bisa saja kita bisa melanggar mitos-mitos yang diyakini orang-orang dahulu dengan sikap menertawakan atau justru menantang dengan segaja melakukan pantrangan tersebut. Namun, apabila yang kita lakukan ternyata bertentangan dengan apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya s.a.w., dengan menanggalkan rasa takut (kepada Allah dan hari kiamat), meninggalkan dzikir dan apa-apa yang dicontohkan Rasulullah s.a.w. dalam mensikapinya, bukanlah tindakan bijaksana dari pribadi seorang muslim terlebih dengan melakukan maksiat kepada Allah SWT sebagaimana disinyalir oleh perkataan Rasulullah s.a.w. pada khutbahnya. Naudzubillah...


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!