Saat terjadinya gerhana, baik gerhana matahari atau
gerhana bulan, kesan mencekam seringkali menghinggapi perasaan kita. Kita dapat
merasakan bagaimana langit menjadi lebih gelap meskipun terjadi di malam hari. Pandangan
orang-orang dulu kejadian tersebut sering dihubung-hubungkan dengan hal-hal
yang mengerikan atau luar biasa yang menakutkan. Banyak pantrangan-pantrangan atau
tradisi yang dilakukan orang-orang dahulu yang pada dasarnya merupakan
bentuk ungkapan ketakutan.
Adanya ketakutan demikian merupakan sifat naluriah yang
ditetapkan oleh Allah, akan tetapi gambaran di atas bukanlah bentuk ketakutan
yang dibenarkan. Abu Musa Al-Asy’ari mengatakan: “Pernah suatu kali terjadi
gerhana matahari, Nabi s.a.w. lantas berdiri dengan dihinggapi ketakutan,
(yakni) ketakutan akan terjadinya kiamat. Maka beliau datang ke mesjid,
kemudian shalat dengan berdiri yang lama pada shalatnya, ruku’ dan sujud yang
panjang yang aku sendiri tidak pernah melihat beliau berbuat demikian
sebelumnya. Dan (setelah itu) beliau s.a.w. berkata:
هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ، لاَ تَكُونُ
لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ،
فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ
وَاسْتِغْفَارِهِ (البخري رقم ١٠٥٩)
“Sesungguhnya tanda-tanda kekuasaan Allah ini yang
ditunjukkan-Nya, tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan
tetapi Allah menjadikannya untuk menanamkan rasa takut pada diri hamba-Nya. Jika
kalian melihat gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk mengingat Allah
(dengan shalat), berdo’a dan memohon ampun kepada-Nya.” (Riwayat Bukhari No.
1059)
Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah r.a., beliau
menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah s.a.w..
Lantas beliau bangkit dan mengimami orang-orang dan beliau memanjangkan
berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau
berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari
berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’
tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud
dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau
mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai
mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau
berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah,
kemudian bersabda:
"إِنَّ
الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ
أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ،
وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا" ثم قال: "يَا أمةَ مُحمَّد، والله
مَا مِنْ أحَد أغْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني
أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً
وَلَبَكَيتم كثِيراً" (البخاري
رقم ١٠٤٤)
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di
antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian
seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah
kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” Nabi
selanjutnya berkata: ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun
yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki
maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian
mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak
menangis.” (Bukhari, No. 1044)
Gerhana matahari memang merupakan fenomena alam yang “unik”,
yang kini dengan perkembangan teknologi, informasi mengenai peristiwa tersebut
dengan mudah dapat diketahui dan tersebar luas. Banyak yang mendorong dirinya
untuk tidak melewatkannya dengan menyaksikan atau mengabadikannya dengan alat/media
yang dimilikinya atau berkumpul menyaksikannya bersama-sama. Kini, dengan
tradisi narsis atau selfie yang sedang trend, bisa jadi justru yang dilakukan
orang malah sibuk mengabadikan penampakan-penampakan atau aksi-aksi dengan
latar belakang fenomena tersebut. Padahal, sebagaimana telah kita ketahui dari
Rasulullah s.a.w., peristiwa seperti ini seharusnya membuat kita semakin merasa
takut kepada Allah SWT, semakin mengkhawatirkan berakhirnya kehidupan (kiamat)
terjadi dengan tiba-tiba.
Dengan pengetahuan dan perkembangan yang kita miliki saat
ini, bisa saja kita bisa melanggar mitos-mitos yang diyakini orang-orang dahulu
dengan sikap menertawakan atau justru menantang dengan segaja melakukan
pantrangan tersebut. Namun, apabila yang kita lakukan ternyata bertentangan dengan
apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya s.a.w., dengan menanggalkan rasa
takut (kepada Allah dan hari kiamat), meninggalkan dzikir dan apa-apa yang
dicontohkan Rasulullah s.a.w. dalam mensikapinya, bukanlah tindakan bijaksana dari
pribadi seorang muslim terlebih dengan melakukan maksiat kepada Allah SWT
sebagaimana disinyalir oleh perkataan Rasulullah s.a.w. pada khutbahnya. Naudzubillah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!