Di dalam sholat ada hal-hal yang disunahkan yang dengan
melakukannya seseorang akan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak
mengapa dan tidak membatalkan sholat.
Pengertian sunnah memang mensiratkan kebolehan (yakni,
tidak berdosa) untuk meninggalkannya. Akan tetapi dalam melakukan sunnah dan
hal itu bukan yang sulit untuk dilakukan, tidaklah bijaksana untuk tidak
melakukannya terlebih apabila tidak ada udzur sama sekali. Di antara
sunnah-sunnah dalam sholat antara lain:
a.
Mengangkat tangan (takbir)
Mengangkat tangan
pada sholat disunnahkan pada empat tempat; takbiratul ihram, saat hendak ruku’,
bangun dari ruku’ dan saat bangkit untuk raka’at ketiga. Adapun tatacara
mengangkat tangan memiliki banyak riwayat dan yang menjadi pendapat jumhur
ulama adalah mengangkat tangan sejajar bahu dengan ujung-ujung jarinya berada
di atas telinga dengan jari-jemari yang mengembang. Dan sifat mengangkat tangan
dapat dilakukan secara bersamaan dengan pelafalan takbir atau mendahului
pelafalan.
b.
Meletakkan tangan di dada
Setelah takbiratul
ihram, disunnahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada.
Terdapat banyak varian yang dilakukan oleh para shahabat mengenai tempat
meletakkan tangan, seperti di bawah pusar, di atasnya atau di antara keduanya
(tepat di pusar). Akan tetapi banyak periwayatan yang disandarkan langsung kepada
Rasulullah s.a.w. mengungkapkan bahwa beliau meletakkannya di dadanya.
c.
Membaca doa Istiftah dan melafalkannya secara sirr
(pelan)
Ber-tawajjuh
( artinya; bersiaga ) dan membaca do’a istiftah secara sirr
(pelan) setelah takbiratul ihram sebelum memulai membaca Al-Fatihah.
d.
Ber-isti’adzah (Membaca ta’awudz) Secara Sirr
(pelan)
Membaca ta’awudz
dilakukan setelah bacaan istiftah sebelum memulai membaca Al-Fatihah.
e.
Mengucapkan “Amin”
Melafalkan aamin
disunnahkan dalam setiap sholat baik untuk imam maupun ma’mum, berjama’ah atau
munfarid, setelah selesai membaca Al-Fatihah. Dalam bacaan zhahar
(keras) pelafalannya dilakukan secara zhahar dan dalam bacaan sirr
(pelan) pelafalannya dilakukan secara pelan.
f.
Membaca ayat setelah Al-Fatihah
Disunnahkan setelah selesai membaca
Al-Fatihah (dan mengucapkan aamin) untuk membaca surat atau ayat apa
saja dari Al-Quran pada dua raka’at shubuh dan sholat jum’at, dua raka’at yang
pertama pada sholat dzuhur, ashar, magrib dan isya, serta pada setiap raka’at sholat-sholat
nafilah (sunat).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!