Tata Cara Shalat Gerhana

Shalat gerhana (bulan dan matahari) berdasarkan kesepakatan para ulama merupakan shalat sunat muakkad, artinya sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah s.a.w., bahwa dengan terjadinya Allah hendak menanamkan rasa taku pada diri hamb-Nya (Riwayat Bukhari No. 1059), hendaklah kita melaksanakannya dengan penuh kekhusu’an dengan merendahkan diri dan mengingat segala kebesaran Allah dan adzabnya yang sangat besar (baca juga: tentang gerhana dan rasa takut ). Sebagai wujud ketundukan dan rasa takut kepada Allah, Rasulullah s.a.w. memerintahkan:
"... فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ" (البخري رقم ١٠٥٩)
“...Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk mengingat Allah (dengan shalat), berdo’a dan memohon ampun kepada-Nya.” (Riwayat Bukhari No. 1059)  
Shalat gerhana terdiri dari dua raka’at, demikian disepakati oleh para ulama, akan tetapi terdapat perbedaan pendapat dalam tata cara pelaksanaannya. Satu pendapat mengatakan bahwa dua raka’at tersebut dilakukan sebagaimana shalat secara umum dilakukan, dan sebagian lain berpendapat dalam setiap raka’atnya terdiri dari dua kali ruku’. Pendapat kedua merupakan pendapat mayoritas (jumhur) ulama.
Berikut ini merupakan gambaran ringkas tata cara pelaksanaan shalat gerhana:
a.       Dimulai dengan meluruskan niat karena Allah
b.      Takbiratul ihram, dilakukan seperti dalam shalat secara umum.
c.       Membaca do’a istiftah dan berta’awudz
d.      Membaca surat Al-Fatihah dan membaca surat yang panjang (seukuran bacaan surat Al-Baqarah) pada kali berdiri yang pertama. Bacaan dalam shalat gerhana dapat dilakukan secara zahar atau sirr, akan tetapi sebagaimana diungkapkan oleh Al-Bukhari, menzaharkan bacaan adalah lebih tepat (shahih).
e.       Ruku’, dilakukan dengan memanjangkannya (lebih lama dari ruku’ yang biasa dilakukan).
f.       Bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan “sami’allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd” dan (tidak langsung sujud) dilanjutkan dengan membaca kembali surat Al-Fatihah dan surat dengan kadar yang lebih pendek dari bacaan sebelumnya.
g.      Ruku’, dengan lamanya ruku’ lebih sebentar dari ruku’ sebelumnya dan bangkit dari ruku’ (i’tidal) dengan bacaan yang biasa dilafalkan.
h.      Sujud dengan memanjangkan sujud dengan kadar lamanya yang sama dengan lamanya ruku’, kemudian duduk di antara dua sujud dan kembali sujud.
i.        Bangkit berdiri dari sujud dan mengerjakan raka’at kedua sebagaimana tata cara pada raka’at pertama; dengan dua kali ruku’ dan sampai dua sujud sebagaimana shalat biasa.
j.        Tasyahud dan salam.
k.      Setelah itu imam menyampaikan khutbah.
Dalam pelaksanaan shalat gerhana Rasulullah mencontohkan pelaksanaannya (dengan panjangnya bacaan, ruku’ dan sujudnya), sehingga dapat menghabiskan waktu dari awal terjadinya gerhana sampai berakhir. Berikut ini salah satu riwayat yang menggambarkan tata cara pelaksanaan shalat gerhana:
عَنْ عَائِشَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ، فَكَبَّرَ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقَامَ وَلَمْ يَسْجُدْ، وَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِيَ أَدْنَى مِنَ القِرَاءَةِ الأُولَى، ثُمَّ كَبَّرَ وَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ قَالَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِثْلَ ذَلِكَ، فَاسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ، وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ، ثُمَّ قَامَ، فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: «هُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ» (رواه البخاري ومسلم)
“Dari Aisyah r.a., istri Nabi s.a.w., ia berkata: “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa hidup Rasulullah s.a.w., maka ia pergi ke mesjid (untuk shalat) dan orang-orang membentuk shaf di belakang beliau. Beliau s.a.w. memulai dengan takbir (takbiratul ihram), kemudian melafalkan bacaan (Al-Quran, Al-Fatihah dan surat) dengan bacaan yang panjang, kemudian takbir untuk ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, kemudian bangkit berdiri dan tidak (dilanjutkan) bersujud. Beliau s.a.w. kembali membaca (Al-Fatihah dan surat) dengan bacaan yang panjang pula, akan tetapi durasinya di bawah bacaan sebelumnya. Kemudian beliau takbir untuk ruku’ dengan ruku’ yang panjang tetapi lebih sebentar dari ruku’ sebelumnya. Kemudian beliau mengucap ‘sami’allahu liman hamidah – robbana wa lakal hamd’, dan bersujud dengan sujud. Kemudian kembali dengan raka’at  yang akhir (kedua), dengan tata cara pada raka’at sebelumnya. Maka sempurnalah (shalatnya) dengan empat ruku’, empat sujud, sementara matahari telah kembali tampak (bergulir) sebelum beliau beranjak (selesai) dari shalatnya. Beliau s.a.w. kemudian berdiri (menyampaikan khutbah), dimulai dengan memuji Allah dengan sangat baik, kemudian beliau s.a.w. berkata: “Keduanya (gerhana matahari dan bulan) merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah, tidak terjadi gerhana itu karena meninggalnya seseorang atau hidupnya. Maka apabila kalian melihat kedua fenomena tersebut maka segerakanlah (mendirikan) shalat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!