Ada stigma negatif pada kata pasrah, seperti dalam ungkapan "sekarang aku pasrah saja", seringkali dinilai sebagai ketidakberdayaan atau ketiadaan kebebasan untuk memilih. Pasrah adalah ungkapan untuk "diam"nya seseorang sehubungan dengan potensi atau kemampuan untuk melakukan suatu tindakan. Dari itulah kepasrahan seringkali dikontradiksikan dengan usaha.
Islam sendiri memiliki pengertian kepasrahan. Namun hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan usaha dan kerja keras. Pasrah di dalam Islam bukanlah sikap berdiam diri menunggu sesuatu tanpa berusaha.
وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ [٣: ١٣٦]
"Alangkah nikmatnya balasan bagi orang yang berbuat." (Ali Imran/3: 136)
Usaha atau kerja keras adalah proses yang hasilnya akan sangat beragam. Untuk mendapatkan sejumlah uang apa yang harus dilakukan orang berbeda-beda tingkat kesulitannya bahkan ada yang bisa mendapatkannya tanpa berusaha sekalipun. Akan tetapi rasa nikmat, sebagaimana diungkapkan pada ayat di atas, ada pada orang yang berusaha keras/bekerja. Oleh karena itu pula Islam tidak membenarkan praktek riba dan judi, sebagai contoh, karena pada keduanya menafikan (baca: kontradiktif) dengan nilai dan kedudukan usaha. Bahwa segala rizqi telah ditetapkan oleh Allah, bukankah sama saja apa ia berusaha atau tidak? Bachtiar Natsir mengatakan, pasrah akan ketetapan tidak berarti menafikan/kontradiktif dengan ikhtiyar karena ikhtiyar pada prinsipnya cara menggunakan potensi yang dimiliki sebagai ungkapan syukur.
Kepasrahan di dalam Islam adalah bentuk ketundukan pada segala kehendak Allah.
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ [٢: ١٣1]
"Ketika Tuhannya berkata kepadanya (Ibrahim); 'berserahlah!', ia berkata; aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam." (Al-Baqarah/2: 131)
Dari sudut pandang lain, pada kemampuan seseorang yang dengannya dapat menghasilkan sesuatu dengan jumlah yang sangat besar, tidak pula berarti menafikan kepasrahan kepada Allah. Dalam keberhasilan, nikmat duniawi, seseorang seringkali tidak merasa berurusan dengan kepasrahan bahkan kadangkala cenderung menafikan Allah (baca: kufur nikmat). Padahal, apakah usaha seseorang itu berhasil atau tidak, keduanya merupakan ketetapan Allah.
Sebagai contoh lain, kita cenderung melafalkan dikir "laa hawla walaa quwwata illaa billaah..." ketika mendapati kecilnya atau tidak adanya peluang keberhasilan. Di saat peluang itu terbuka lebar, tidaklah jarang ada orang yang justru menafikan ketetapan Allah SWT.
Kepasrahan kita sebagai pribadi muslim (berserah diri kepada Allah) terdiri dari dua bentuk. Pertama, kepasrahan pada segala ketetapan Allah yang berhubungan dengan nasib dan pencapaian. Kedua, kepasrahan atas segala ketentuan Allah pada wilayah syar'i dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Islam sendiri memiliki pengertian kepasrahan. Namun hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan usaha dan kerja keras. Pasrah di dalam Islam bukanlah sikap berdiam diri menunggu sesuatu tanpa berusaha.
وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ [٣: ١٣٦]
"Alangkah nikmatnya balasan bagi orang yang berbuat." (Ali Imran/3: 136)
Usaha atau kerja keras adalah proses yang hasilnya akan sangat beragam. Untuk mendapatkan sejumlah uang apa yang harus dilakukan orang berbeda-beda tingkat kesulitannya bahkan ada yang bisa mendapatkannya tanpa berusaha sekalipun. Akan tetapi rasa nikmat, sebagaimana diungkapkan pada ayat di atas, ada pada orang yang berusaha keras/bekerja. Oleh karena itu pula Islam tidak membenarkan praktek riba dan judi, sebagai contoh, karena pada keduanya menafikan (baca: kontradiktif) dengan nilai dan kedudukan usaha. Bahwa segala rizqi telah ditetapkan oleh Allah, bukankah sama saja apa ia berusaha atau tidak? Bachtiar Natsir mengatakan, pasrah akan ketetapan tidak berarti menafikan/kontradiktif dengan ikhtiyar karena ikhtiyar pada prinsipnya cara menggunakan potensi yang dimiliki sebagai ungkapan syukur.
Kepasrahan di dalam Islam adalah bentuk ketundukan pada segala kehendak Allah.
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ [٢: ١٣1]
"Ketika Tuhannya berkata kepadanya (Ibrahim); 'berserahlah!', ia berkata; aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam." (Al-Baqarah/2: 131)
Dari sudut pandang lain, pada kemampuan seseorang yang dengannya dapat menghasilkan sesuatu dengan jumlah yang sangat besar, tidak pula berarti menafikan kepasrahan kepada Allah. Dalam keberhasilan, nikmat duniawi, seseorang seringkali tidak merasa berurusan dengan kepasrahan bahkan kadangkala cenderung menafikan Allah (baca: kufur nikmat). Padahal, apakah usaha seseorang itu berhasil atau tidak, keduanya merupakan ketetapan Allah.
Sebagai contoh lain, kita cenderung melafalkan dikir "laa hawla walaa quwwata illaa billaah..." ketika mendapati kecilnya atau tidak adanya peluang keberhasilan. Di saat peluang itu terbuka lebar, tidaklah jarang ada orang yang justru menafikan ketetapan Allah SWT.
Kepasrahan kita sebagai pribadi muslim (berserah diri kepada Allah) terdiri dari dua bentuk. Pertama, kepasrahan pada segala ketetapan Allah yang berhubungan dengan nasib dan pencapaian. Kedua, kepasrahan atas segala ketentuan Allah pada wilayah syar'i dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Dan kepada Allahlah kita memohon pertolongan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!