Disimpanlah uang itu di bawah kasur, dan setelah satu tahun saja, ia bertambah bahkan jadi berlipat-lipat. Kok bisa?
"Tuyul!"
Bukan, itu karena dia suka menolong orang. Siapapun yang butuh uang, pasti dia kasih pinjam.
"Semua orang dapat pinjam?"
Ya, semua orang. Asal ada kepastian bayarnya.
"Ya, mestinya kan begitu."
Bukan mestinya, tapi pastikan!
"Oh, begitu. Bukankah uangnya hanya disimpan dikasur saja?"
Jelas tidak. Tapi bukankah itu sama dengan di bawah kasur?
"Ya, memang. Bahkan lebih aman."
Lebih dari sekedar aman! Bahkan bertambah.
"Ibarat di bawah kasur tapi bertambah?"
Ya. Itu semacam tanda terima kasih.
"Bukankah itu menolong, tidak cukupkah ucapan terima kasih atau doa kebaikan untuk orang yg menolong?"
Ya.., masa iya cuma begitu saja? Bahkan orang yg ditolong bisa dapat keuntungan.
"Bukankah dalam menolong tidak ada pamrih?
Ya, tanya saja mereka, pasti merasa tertolong dan diuntungkan.
"Kalau misal ia rugi atau bangkrut atau pinjaman itu tudak cukup menolong, apa tetap ada tanda terima kasih?"
Tetap saja, ini soal jumlah pinjaman, bukan soal untung rugi.
"Lho, katanya tadi tanda terima kasih itu karena ada untungnya, kok soal ruginya ia seperti nggak mau tahu?"
Begini saja, pinjaman itu kan jika diputarkan untuk usaha oleh pemiliknya, pasti ada lebihnya kan? Katakan saja kelebihan itu sebagai kompensasinya.
"Jadi, yang kelebihan yang harus dibayar itu hanya karena jika, bukankah katanya tadi itu ibarat disimpan di bawah kasur?"
Memang, lantas kenapa?
"Nah, itu dia, yang ngasih pinjam tuh aslinya tidak berbuat sama sekali."
Kan itu jika saja!
"Nah lho...!"
"And those who are guided - He increases them in guidance and gives them righteousness." (47: 17)
Membayar "Kerugian" Karna Jika
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!