Memupuk rasa Takut kepada Allah

Di antara golongan manusia yang banyak disebutkan di dalam Al-Quran, yang notabene merupakan orang-orang yang lebih dulu mengenal wahyu Allah, adalah ahli kitab. Namun meskipun demikian, ahli kitab ternyata justru merupakan kelompok orang yang paling hebat dalam membagkang apa yang dikandung kitab-kitab Allah yang ada pada mereka.

Kekeliruan ahli kitab yang paling fatal adalah kecenderungan mereka memutarbalikkan kebenaran bahkan pada sifat yang paling mendasar yakni tentang kebenaran mengenai Allah. Allah bagi ahli kitab cenderung dipandang secara legitimatif, merubah hukum-hukum Allah dan cenderung mematerialisasi nilai-nilai ilahiyah. Bagi ahli kitab, kedekatan dengan Allah dipandang sebagai legitimasi untuk melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan. Kedekatan dengan Allah dipandang sebagai otoritas untuk memutarbalikkan benar-salah, mendapatkan keuntungan (materil) yang sebesabesarnya.
Dari cara pandang tersebut, lahirlah kecongkakan dalam mensikapi adzab yang akan menimpa mereka:
وَقَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَةً ۚ  [٢: ٨٠]
“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” (Al-Baqarah/2: 80)
Sebuah lagu ‘mencemooh’ rasa takut seseorang pada siksa neraka sebagai bentuk ketidakikhlasan, yang pada liriknya mengungkapkan sebuah pengandaian, “jika surga dan neraka tak pernah ada...”. Ungkapan ini terkesan menyepelekan siksa neraka.
Ketakutan pada neraka atau keinginan untuk masuk surga tidaklah bertentangan dengan keikhlasan. Neraka adalah bentuk siksaan yang dinisbatkan kepada Allah, yang rasa sakit atau pedihnya jauh berlipat-lipat dari rasa sakit yang paling menyiksa di dunia.
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ [٧: ٩٩]
“Apakah mereka merasa aman dari adzab Allah? Sesungguhnyalah tidak akan merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang celaka.” (Al-A’raf/7: 99)
Takut akan azab Allah adalah bentuk ketakutan kepada-Nya karena mustahil bagi Allah adanya sifat-sifat buruk yang harus ditakuti. Perjumpaan dengan Allah adalah nikmat yang tidak akan ada bentuk kenikmatan yang pantas untuk dibandingkan dengannya. Sebagaimana digambarkan tentang kebahagiaan (baca: nikmat) yang akan dijumpai orang berpuasa (baca: bertakwa). Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
"... فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ" (رواه البخاري وغيره)
“... yaitu kesenangan di saat berbuka, dan kesenangan lain di saat bertemu dengan Tuhannya.” (Riwayat Bukhari dan perawi lainnya)

Semakin dekat seseorang dengan Allah semakin besar pula rasa takut pada-Nya, dan bukan sebaliknya. Gambaran seperti ini disebutkan di dalam Al-Quran sebagai sifat para nabi.
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ [٢١: ٩٠]
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.” (Al-Anbiya/21: 90)
Rasulullah s.a.w. menegaskan, di saat seorang shahabat memiliki anggapan bahwa bertanya kepadanya tentang kebolehan berpuasa dalam keadaan junub. Ketika Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahwa tidak mengapa untuk memulai berpuasa meskipun masih dalam keadaan junub, shahabat tersebut berkata, “Anda berbeda dengan saya, dosa-dosamu sudah diampuni baik yang lalu ataupun yang akan datang.” Rasulullah s.a.w. menjawab:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَعْلَمُكُمْ بِمَا اتَّقِي (رواه مسلم وغيره)
“Demi Allah, (jika memang hal itu adalah dosa) aku adalah orang yang akan menjadi orang yang paling takut kepada Allah dan paling tahu dengan cara bagaimana untuk berhati-hati (bertakwa) dalam hal tersebut.” (Riwayat Muslim dan perawi lainnya)
Shahabat Umar r.a. menyampaikan perumpamaan, “jika saja ada suara dari langit yang mengatakan bahwa semua orang akan masuk surga kecuali satu orang saja; aku sangat khawatir kalau-kalau yang satu orang itu adalah aku.”
Dan Al-Quran juga menegaskan bahwa orang-orang yang mewarisi para nabi, orang-orang yang mendalam dalam ilmunya, adalah orang-orang yang akan merasa takut kepada Allah.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ  [٣٥: ٢٨]

“Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang memiliki pengetahuan.” (Fathir/35: 28) 
Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!