Hijrah tidak berarti
sebatas perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Hal prinsip yang mendasar
dalam momentum hijrah adalah kepentingan dakwah. Apa yang dilakukan oleh
Rasulullah s.a.w. bukan semata-mata dalam rangka membebaskan diri dari ancaman
orang-orang kafir. Kita dapat melihat tujuan hijrah Rasulullah s.a.w. dengan
memaknai peristiwa futuh makkah, disaat Islam menjadi satu-satunya kekuatan
yang dikukuhkan di Mekah. Peristiwa tersebut merupakan satu-satunya peristiwa
penaklukan kota dalam sejarah manusia yang dilakukan tanpa pertumpahan darah.
Dalam perjalanan hijrah
Rasulullah s.a.w., kita dapat melihat kepemimpinan beliau dalam mengutamakan
keselamatan umat. Rasulullah s.a.w., hanya disertai beberapa orang shahabat r.a., adalah yang paling akhir
bertahan di Mekah. Bahkan, dari dua peristiwa hijrah sebelumnya ke negeri Abisina,
Rasulullah s.a.w. tetap bertahan di Mekah. Padahal, tercatat setelah
meninggalnya paman beliau, Abu Thalib, apa yang dilakukan orang-orang kafir
Mekah sangat mengancam keselamatan beliau.
Di pihak lain,
Rasulullah s.a.w. telah memiliki peran penting dalam membina penduduk Yatsrib
(Madinah) secara berangsur banyak yang menyambut dakwah Rasulullah s.a.w. dan
memeluk Islam. Peran Rasulullah s.a.w. yang mulai mengukuhkan terbangunna
kekuatan Islam adalah dalam menghentikan perang saudara antara Aus dan Khazraj.
Dengan berdamainya dua klan tersebut, Islam semakin banyak diterima oleh
penduduk Yatsrib. Dengan melihat perkembangan tersebut, akhirnya Rasulullah
s.a.w. mengizinkan kaum muslim Mekah untuk melakukan hijrah ke Madinah
(Yatsrib)
Sementara kaum muslimin
mulai meninggalkan kota Mekah dalam bentuk kelompok-kelompok kecil menuju
Madinah, Rasulullah s.a.w. masih bertahan menunggu datangnya perintah Allah
SWT. Namun di pihak lain, orang-orang Quraisy yang mengetahui adanya gerakan
yang dilakukan kaum muslimin, dapat menghalau sebagian kelompok tersebut dengan
melakukan intimidasi atas keluarga mereka.
Setelah Rasulullah
s.a.w. mendapatkan perintah Allah SWT, tepat di saat orang-orang Quraisy
merencanakan upaya pembunuhan beliau. Rumah beliau sudah dikepung demi mencegah
ikut hijrahnya beliau menyusul ke Yatsrib. Orang-orang Quraisy sudah bertekad
bulat untuk membunuh Rasulullah s.a.w. karena dengan cara itulah kemudian
orang-orang yang telah masuk Islam dan berhijrah ke Yatsrib akan kembali. Akan tetapi,
siasat yang dilakukan Rasulullah s.a.w. dengan mukjizat yang terjadi, membuat
orang-orang Quraisy tak berdaya sama sekali. Bersahabat Abu Bakar r.a.,
Rasulullah s.a.w. menempuh perjalanan yang tidak mudah sampai akhirnya tiba di Madinah
di sambut orang-orang yang merindukannya.
Dari perjalanan peristiwa
hijrah tersebut, yang kemudian ditetapkan sebagai titik tolak hitungan tahun
Hijriyah, terdapat tiga hal mendasar yang harus diperhatikan dalam berhijrah.
a.
Tertutupnya Pintu Dakwah
Hijrah dilakukan setelah nyata-nyata orang-orang Musyrik
menolak keras keberadaan dakwah Rasulullah s.a.w. dengan mengganggu dan
menyakiti orang-orang yang mengikuti beliau dan upaya-upaya radikal oleh
mereka. Jika sebelumnya Rasulullah s.a.w. beserta kaum muslimin masih dapat
menahan hinaan, rasa sakit dan penderitaan, tiada lain karena beliau beserta
shahabat masih dapat melakukan dakwah. Pengukuhan tersebut ditegaskan dengan
datangnya perintah Allah SWT dan bukannya tanpa perencanaan dan strategi yang
matang.
b.
Tempat Tujuan Strategis
Madinah (Yatsrib), adalah harapan besar dalam melanjutkan
perjuangan dan dakwah. Di sana, berbeda dengan tempat hijrah sebelumnya, adalah
tempat orang-orang yang sudah menerima Islam sepenuhnya meskipun sebagian besar
dari mereka tidak pernah bertemu dengan Rasulullah s.a.w., dan Yatsrib masih
termasuk kalangan bangsa Arab yang akan memudahkan dan melanjutkan dakwah dan
perjuangan di Mekah.
c.
Menjaga Kesatuan dan
Keutuhan
Jika seandainya hijrah dilakukan hanya sekedar untuk
menyelamatkan diri, sudah tentu perintah hijrah tidak akan diarahkan pada satu
tempat saja. Hijrah di sini pula tidak berarti melepaskan diri dari apa yang
terdapat di tempat yang ditinggalkan. Kesatuan keutuhan umat, dengan tujuan
melanjutkan risalah yang diberikan oleh Allah, hijrah adalah upaya untuk lebih
mengokohkan dan mengukuhkan dakwah itu sendiri untuk tetap sampai pada tujuan
yang telah diperintahkan. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!