Kisah Musa dan Khidir

Ilmu pengetahuan akan menempatkan orang pada kedudukan yang tinggi. Pandangan orang selalu mengacu pada kedudukan tersebut, bertanya dan menunggu apa yang seharusnya dilakukan kepadanya. Kedudukan tersebut, boleh jadi menjadi semu dan membuat lupa apabila ia hanya justru berpangku pada cara orang melihatnya. Berbangga diri dengan pengukuhan dan kenyataan bahwa semua orang ternyata tidak seperti dirinya, adalah hal yang membutakan dan membuatnya memandang dengan cara yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Allah mengingatkan Musa bahwa seseorang memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang tidak diketahuinya. Allah memberitahukan bahwa orang itu dapat ia jumpai di tempat bertemunya dua lautan.


Dengan disertai seorang muridnya, Musa mempersiapkan perjalanan yang tidak pernah dilakukannya. Kepada muridnya dia berkata, “sungguh aku tidak akan berhenti sampai tiba ditempat yang ditunjukkan Allah atau sampai aku benar-benar menghabiskan seluruh sisa waktu yang kumiliki.”
Demikianlah tekad Musa, ia memulai perjalanan bersama muridnya dengan berbekal tekad besar. Bahwa ia tidak mengetahui dimana tepatnya tempat itu dan seberapa lama perjalanannya akan ditempuh, sama sekali tidak menyurutkan niatnya. Manakala ia dan muridnya, dan tanpa disadarinya, sebenarnya telah sampai di tempat tersebut bekal ikan yang dibawa oleh muridnya melompat keluar dan merayap menuju air. Menyaksikan terkesima melihat kejadian itu dan tidak mampu mengatakan apa-apa atau sekedar menghalau Musa. Perjalananpun terus dilanjutkan sampai beberapa lama kemudian Musa menghentikan perjalanan. Ia berkata,” kita berhenti dulu di sini, kemarikan bekal yang kita bawa. Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan.”
Muridnya berkata, “ingatkah ketika kita tadi sampai di tempat bebatuan tadi? Sesungguhnya aku hendak memberitahukannya kepadamu, dan aku menyadari betul bahwa setan benar-benar membuatku lalai untuk memberitahukannya. Di samping itu, ikan yang kita bawa melompat keluar dengan cara yang sangat aneh.”
Musa sontak berkata, “Itulah tempat yang kita tuju!”
Maka mereka kembali menyusuri jalan yang dilalui menuju tempat tersebut. Di sanalah ia bertemu dengan seorang hamba Allah yang diberitahukan kepadanya. Ialah orang yang nyata-nyata tampak padanya bagaimana rahmat Allah telah dicurahkan atasnya dan dianugerahi pengetahuan dan kebijaksanaan. Musa berkata kepada orang tersebut, “bolehkan kiranya aku ikut serta denganmu sehingga engkau bisa mengajarkan pengetahuanmu kepadaku?”
“Kau tidak akan dapat bersabar jika ikut serta denganku,” jawab hamba Allah tersebut. Ia kemudian berkata lagi, “bagaimana bisa kau akan bersabar atas hal-hal yang berada di luar pengetahuan dan kebijaksanaan yang kau miliki?”
Musa berkata, “insyaallah, kau akan mendapatiku memiliki kesabaran tersebut. Dan aku berjanji tidak akan menentangmu sama sekali atas apapun yang akan kau katakan kepadaku.”
Hamba Allah tersebut kemudian berkata, “baiklah kalau demikian. Akan tetapi selama engkau mengikutiku jangan pernah bertanya tentang apapun sampai aku memberitahukan itu kepadamu.”
Maka mereka berdua berjalan. Kemudian sampailah mereka menaiki sebuah perahu dan tiba-tiba hamba Allah tersebut melubangi perahu tersebut. Musa terperangah dan memprotes, “kenapa kau melubangi perahu ini? Sungguh engkau telah melakukan satu kesalahan besar!”
“Bukankah telah kukatakan kalau kau tidak akan cukup bersabar dalam mengikutiku?” kata hamba Allah.
Musa berkata, “maafkan aku. Janganlah kau menghukumku karena aku terlupa akan hal itu. Dan aku mohon, jangan bebankan hal yang menyulitkan dalam urusanku.”
Mereka berdua kembali melakukan perjalanan. Maka sampailah mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki dan hamba Allah tersebut kemudian membunuhnya.
“Kenapa engkau begitu berani membunuh jiwa yang bersih dan ia tidak pula membunuh orang? Sungguh engkau benar-benar telah melakukan satu kemungkaran!”
Hamba Allah berkata, “bukanlah telah aku katakan kepadamu bahwa kau tidak akan bisa bersabar untuk ikut menyertaiku?”
Musa berkata, “maafkan aku. Setelah ini, jika ternyata aku masih bertanya tentang sesuatu hal kepadamu jangan lagi mengikutsertakan aku bersamamu.”
Mereka pun kembali melakukan perjalanan dan sampailah di sebuah desa. Di desa tersebut, mereka menemui penduduknya dan meminta untuk sekedar mendapatkan makanan di sana. Penduduk desa itu menolak untuk menjamu mereka. Setelah itu, mereka berdua menemukan sebuah dinding yang hampir roboh. Hamba Allah itu memperbaikinya sampai kembali tegak. Musa berkata kepadanya, “kau kau mau, atas apa yang kaulakukan itu kita bisa meminta upah darinya.”
Hamba Allah itu berkata, “inilah akhir kebersamaan kita. Akan aku beritahukan kepadamu tentang hal-hal yang telah membuatmu tidak bisa bersabar menghadapinya.”
“Tentang perahu yang aku lubangi, itu karena perahu tersebut merupakan milik sekelompok orang miskin dan merupakan mata pencaharian mereka. Maka aku membuat perahu itu cacat karena di luar sana ada seorang penguasa yang suka merampas perahu apa saja yang ditemukannya.”
“Adapun anak lelaki yang aku bunuh, karena kelak ia akan durhaka kepada orang tuanya yang kedua-keduanya beriman dengan kedurhakaan yang melampaui batas dan kufur, maka Allah hendak memberikan pengganti untuk mereka dengan yang lebih baik dalam kesuciannya dan lebih dalam kasih sayangnya.”
“Adapun dinding yang aku perbaiki, itu adalah milik dua orang anak yatim dibawahnya terpendam harta mereka. Ayah kedua anak itu adalah seorang yang sholeh. Allah menghendaki agar mereka mencapai usia dewasa untuk mengambil harta tersebut sebagai limpahan rahmat dari Allah.”
“Semua itu aku lakukan bukanlah atas keputusanku, melainkan kehendak Allah. Itulah hal-hal yang aku katakan bahwa engkau tidak akan pernah bisa bersabar atasnya.”




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!