Keimanan ter-"Update"

Waktu yang melaju secara linear akan menggilas siapa saja yang berjalan berputar-putar yang tidak memiliki tujuan pasti. Dan konon, satu hal yang senantiasa mengikuti alur waktu yang linear tersebut adalah apa yang diungkapkan dengan kata ‘update’. Kata update merupakan kata yang tidak akan pernah ketinggalan zaman. Setiap masa dengan berbagai inovasi dan pengembangannya akan diikuti dengan update-update yang terus bergulir.

Update mengandung pengertian memperbaharui atau sifat membaharui, yang dalam KBBI diartikan dengan kata ‘memodernkan’. Dalam konteks kekinian, kata modern sendiri rupanya sudah mulai tertinggal dan dengan demikian kata update tidak dapat lagi dimaknai sebagai modernisasi.
Dan kini, kata update berlaku terjadi setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik – atau mungkin sepersekian detik. Dalam konteks tersebut, boleh jadi apa yang Anda lakukan sebagai update beberapa saat lalu sudah tidak update lagi. Akan tetapi di samping update-update tersebut ada sesuatu yang tidak pernah berubah dan tidak boleh berubah, yaitu Al-Quran. Kami di sini tidak akan membahas update- update yang akan membuat Anda senantiasa tertinggal, karena hal itu menyerupai kesia-siaan karena sebentar kemudian boleh jadi update tersebut sudah tidak update lagi. Pusing? Mari kita lupakan sejenak kata update- update yang demikian, karena ada suatu “update” yang tidak akan tergerus oleh update-update tersebut, yaitu apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w.;

«جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟ قَالَ: «أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ» (رواه الحاكم)
“Perbaruilah iman kalian.” Para shahabat bertanya, “ya Rasulallah, bagaimana kami dapat memperbarui iman kami?” Rasulullah s.a.w. berkata, “perbanyaklah mengucapkan laa ilaaha illa Allah.” (Riwayat Al-Hakim)
Memperbaharui iman di sini bukan berarti memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan zaman akan tetapi memurnikan keimanan dari pengaruh-pengaruh yang datang bersama update-update sepanjang zaman. Kita dapat mencermati bagaimana degradasi terjadi baik bersifat individual maupun universal. Secara individual bukan berarti bahwa setiap individu mengalami degradasi tersebut, akan tetapi betapa kepribadian (iman) kita dapat tereduksi dengan maraknya berbagai hal-hal baru yang senantiasa bermunculan. Kondisi demikian (kini) secara masif sangat mudah sekali menyebar dan berkembang, sehingga dalam secara universal kemudian berlaku dan diikuti individu-individu di dalamnya. Bahkan, dalam sikap menolak sekalipun, hal tersebut justru mendapat kekuatan besar untuk degradasi itu sendiri. Dan yang dimaksud dengan universalitas disini adalah popularitas. Dari itulah Al-Quran mengingatkan:

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [١٩: ٥٩]
“Maka datanglah sesudah mereka (orang-orang yang diberi petunjuk dan terpilih), generasi (yang jelek) yang mengabaikan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”

Kesesatan terjadi karena menyimpangnya keimanan (meskipun masih melekat) dan membuat generasi tersebut tidak memahami kedudukan shalat dan bahanya mengikuti hawa nafsu. Substansinya adalah keimanan yang terkikis yang boleh jadi disebabkan karena manusia terlalu sibuk meng-update hal-hal lain selain keimanan.
Perkataan, sebagaimana disebut dalam langkah update keimanan tersebut, adalah satu pencapaian peradaban manusia yang kini, seperti halnya disitir beberapa tahun lampau seorang pengagum pemikiran (Albert Camus) bahwa, “kini kata-kata diberangus!”
 
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal...” (Al-Jumu’ah/62: 5)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah/98: 6)




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!