Hal-hal yang Mewajibkan Mandi

Di dalam bersuci, Islam mensyariatkan mandi wajib yang diberlakukan pada beberapa keadaan lebih akrab dikenal dengan istilah mandi janabah atau mandi junub. Istilah ini digunakan sehubungan dengan asal perintah yang mewajibkannya di dalam Al-Quran.
Mandi junub secara syar’i berarti meratakan air ke seluruh tubuh termasuk ke sela-sela rambut. Mandi ini populer juga dengan istilah mandi keramas, karena cenderung membedakannya dengan mandi secara umum yang dilakukan tanpa membasahi rambut.
Mandi junub diwajibkan atas beberapa keadaan yang antara lain:
a.    Janabah (keluar mani) baik dalam keadaan terjaga maupun tidur
Dari Said Al-Khudriyi r.a., Rasulullah s.a.w. berkata:

الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ (مسلم)
Air (mandi) itu wajib karena adanya air (mani) (Riwayat Muslim)

Dan dari Ummu Salamah r.a., bahwasannya ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Ya Rasul, sesungguhnya Allah tiada malu atas kebenaran, apakah seorang perempuan wajib mandi apabila ia bermimpi basah?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Ya, jika ia mendapati keluar mani.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

b.   Berhubungan kelamin
Hal ini berdasarkan pada ayat di atas (5: 6). Berkenaan dengan itu Asy-Syafi’i mengatakan bahwa di dalam Bahasa Arab kata junub (janabah) secara mutlak menunjukkan pada hubungan kelamin walaupun tidak sampai mengeluarkan air mani. Demikian itu berdasarkan perkataan Rasulullah s.a.w.:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ (أحمد ومسلم)
“Apabila ia duduk di antara empat bagian (tangan dan kaki) dan masuk di (kemaluan) perempuan, maka wajib mandi baik keluar mani atau tidak.” (Riwayat Ahmad dan Muslim).

Dan pada riwayat lain beliau s.a.w. mengatakan: “Apabila bertemu yang dikhitan (dari laki-laki) dengan yang dikhitan lainnya (dari perempuan), maka wajib mandi.” (Riwayat Ahmad dan Malik)

c.    Selesai dari Haid dan Nifas
Berdasarkan firman Allah SWT:

وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ [٢: ٢٢٢]
“...dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS. Al-Baqarah/2: 222)  


d.        Orang kafir yang masuk Islam
Berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a.:

أن ثمامة الحنفي أسر، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يغدو إليه فيقول: ما عندك يا ثمامة؟ فيقول: إن تقتل تقتل ذا دم، وإن تمنن تمنن على شاكر، وإن ترد المال نعطك منه ما شئت، وكان أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم يحبون الفداء ويقولون: ما نصنع بقتل هذا؟ فمر عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فأسلم، فحله وبعث به إلى حائط أبي طلحة وأمره أن يغتسل، فاغتسل وصلى ركعتين، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (لقد حسن إسلام أخيكم (ابن خزيمة)
bahwasannya Tsumamah Al-Hanafi menjadi tawanan dan Rasulullah s.a.w. mendatanginya dan berkata: Apa yang kaumiliki Tsumamah?Ia berkata, “jika Anda hendak membunuh maka akulah yang memiliki darah (hidup), jika Anda hendak berbuat baik (mengampuni) Anda berbuat baik pada orang yang berterima kasih, jika Anda menghendaki harta maka akan aku berikan berapapun yang Anda inginkan.” Sementara para shahabat menghendaki agar dimintakan tebusan darinya dan mengatakan, “apa untungnya dengan membunuh orang ini?” Rasulullah s.a.w. kemudian berlalu mengampuninya maka masuk Islam-lah Tsumamah. Maka dilepaslah Tsumamah dan diserahkan kepada Haith Abi Thalhah dan beliau memerintahkan agar ia mandi. Maka mandilah ia dan shalat dua rakaat. Rasulullah s.a.w. kemudian berkata: “Sungguh baik cara berislamnya saudara kalian ini.” (Ibnu Huzaimah)




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!