Penistaan Terhadap Nabi Muhammad s.a.w.

Sejak beliau mendakwahkan risalahnya, penistaan terhadap Nabi s.a.w. selalu muncul dan pada prinsipnya tidak ada bentuk penistaan tersebut yang dilandasi dengan penilaian yang benar. Sejak pertama kali Rasulullah s.a.w berdakwah secara terbuka, Abu Lahab, paman beliau sendiri, melontarkan kata-kata yang menistakan beliau s.a.w. dengan mengatakan: “Celaka kamu Muhammad, apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami semua?” Allah kemudian membalas celaan yang dilontarkan Abu Lahab dengan menurunkan ayat (Al-Lahab/111). Sebuah celaan yang datang dari Allah SWT adalah suatu celaan yang mutlak yang menempatkan orang pada keadaan yang sangat tercela dan sangat hina.

Dari gambaran tersebut kita dapat memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang tercela pada diri Nabi s.a.w. dan celaan yang dilontarkan kepada beliau hanyalah datang dari orang-orang yang sangat tercela. Dan terbukti, bukan hanya adzab di neraka, kematian Abu Lahab terjadi dengan sangat mengenaskan. Ia sakit parah setelah dipukul oleh seorang perempuan dan dari tubuhnya keluar bau busuk sampai anak dan istrinya enggan untuk memeliharanya. Setelah kematiannya jasadnya dibiarkan membusuk selama tiga hari dan dikuburkan dengan tidak pantas karena orang-orang takut tertular wabah dan tidak tahan dengan bau busuknya.
Namun dari sudut pandang lain, celaan dan penistaan yang memang sudah sewajarnya akan menyulut kemarahan dan kebencian umat Islam, merupakan fitnah yang dapat menjerumuskan kita pada perilaku tidak adil. Allah SWT berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ [٥: ٨]
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah/5: 8)

Dalam menghadapi celaan atau penistaan yang ditujukan kepada Rasulullah s.a.w., terhadap Al-Quran atau atas Islam secara keseluruhan hendaklah mengutamakan sikap adil dan hati-hati karena bisa jadi apabila kita mensikapi dengan cara yang keliru akan menempatkan diri pada keadaan yang terhina.

Umar bin Khaththab r.a. suatu kali dihadapkan dengan orang-orang Makkah yang menyampaikan tantangan kepada Rasulullah s.a.w., sebagai siasat mereka untuk menistakan Rasulullah s.a.w., agar menunjukkan berbagai mukjizat seperti yang telah ditunjukkan oleh nabi-nabi sebelumnya agar mereka dapat mencela beliau. Umar r.a. tidak serta merta mengikuti apa yang dikatakan oleh mereka melainkan menjawab tantangan tersebut dengan mengatakan, “apakah setelah kalian melihat semua mukjizat itu kalian akan percaya? Tidak! Kalian hanya akan mengatakan ini sihir yang menyilapkan mata. Bukankah kalian juga mengetahui hal-hal seperti itu dari orang-orang Yahudi Yatsrib dan kalian tahu bagaimana Firaun dan umat Musa a.s. tetap kufur meskipun telah melihat berbagai mukjizat. Aku cukup tahu bahwa kalian benar-benar mengetahui bahwa Muhammad hanya mengatakan kebenaran, akan tetapi hati kalian telah diliputi kesombongan.”

Celaan dan caci maki kepada Nabi s.a.w. tidak lain datang dari orang-orang yang kehabisan akal untuk menghalangi menebarnya kebenaran risalah beliau. Maka dengan memutarbalikkan fakta, dengan membuat ukuran-ukuran sendiri tentang nilai ideal, dengan membesar-besarkan berita bohong tentang Nabi s.a.w., dan lain sebagainya, mereka melakukan penistaan. Akan tetapi penistaan itu hanya akan menjadikan diri mereka dalam kenistaan dan semakin jauh dari kebenaran.




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!