Di antara para pembesar
Quraisy yang paling gencar dalam melakukan penghinaan terhadap Rasulullah
s.a.w. adalah Abu Lahab bin Abdul Muthalib, paman beliau sendiri. Puncak
penghinaan Abu Lahab, sosok yang cepat naik darah dan berperawakan gemuk ini, adalah
ketika pertama kali Rasulullah s.a.w. menyampaikan dakwah secara terbuka. Ketika
itu Rasulullah s.a.w. menyeru orang-orang di bukit Shafa dan setelah mereka
datang berkerumun beliau berkata: “Bagaimana jika kukatakan kepada kalian bahwa
di balik bukit ini ada pasukan berkuda, akankah kalian percaya?”
“Tentu,” jawab
orang-orang. “Dalam hal itu engkau tidak dapat disangsikan, belum pernah
mendapati kau berdusta.”
“Aku mengingatkan kalian
semua, semua kalian dihadapkan dengan siksa yang amat berat. Banu
Abd’l-Muttalib, Banu Abd Manaf, Banu Zuhra, Banu Taim, Banu Makhzum dan Banu
Asad Allah memerintahkan aku memberi peringatan kepada keluarga-keluargaku
terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau akhirat. Tak ada sesuatu bahagian
atau keuntungan yang dapat kuberikan kepada kamu, selain kamu ucapkan: Tak ada
tuhan selain Allah.”
Mendengar hal itu, Abu
Lahab bangkit dan berteriak kepada Rasulullah s.a.w., “Celaka kau! Untuk persoalan
seperti inikah kau kumpulkan kami sekalian hari ini?”
Rasulullah s.a.w. terdiam
mendapati sikap pamannya tersebut, akan tetapi kemudian Allah mewahyukan, “Celakalah
kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidak akan berguna
untuknya harta dan apa-apa yang diusahakannya. Dia akan memasuki api neraka
yang bergejolak. Begitu pula istrinya, sang pembawa kayu bakar. Dilehernya ada
tali dari sabut.” (Al-Masad/111)
Demikianlah Abu Lahab, dengan
sikap permusuhan sebagaimana yang terdapat pada diri pemuka-pemuka Quraisy
lainnya, semakin hari semakin gusar dengan perkembangan dakwah Rasulullah
s.a.w. yang jumlah pengikutnya terus bertambah. Akan tetapi sikap dan upaya
mereka tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil dan justru orang-orang
semakin banyak yang memeluk Islam.
Setelah Rasulullah
s.a.w. hijrah ke Madinah dan terjadilah perang Badar yang membuahkan kekalahan
besar bagi orang-orang Mekah. Di sana para pembesar Quraisy tersebunuh seperti
Abul Hakam (Abu Jahal) dan Umayah bin Khalaf. Setelahnya adalah akhir hidup Abu
Lahab justru datang dengan cara yang berbeda. Dalam perang Badar tersebut, Abu
Lahab tidak ikut berperang melainkan menunjuk pengganti untuk dirinya, Ash bin
Hisyam yang berutang kepadanya, dengan kesepakatan bahwa dengan hal itu
kemudian utangnya lunas terbayar.
Diriwayatkan oleh Ibnu
Hisyam dalah sirah-nya dari Abu Rafi’, “Ketika itu aku adalah budak milik Abbas
bin Abdul Muthalib (paman Nabi s.a.w.), dan Islam telah datang kepada kami.
Abbas, Ummu Fadhil (istri Abbas) dan aku sendiri kemudian memeluk Islam. Akan
tetapi karena Abbas sungkan kepada kaumnya dan tidak suka kalau hal itu
diketahui oleh khalayak bahwa ia menyelisihi mereka, maka ia menyembunyikan keislamannya. Dan Abbas
memiliki harta yang terpisah-pisah di tangan-tangan kaumnya. Sementara Abu
Lahab tidak ikut serta dalam perang tersebut dan tempatnya digantikan oleh Ash
bin Hisyam, sebagaimana dilakukan semua pembesar-pembesar Mekah yang tidak
pergi berperang. Maka tatkala datang kabar kekalahan pasukan mereka di Badar,
Allah telah menghinakannya dengan kekalahan. Kami mendapati diri kami merasa
lebih memiliki kekuatan dan keberanian.
Sementara aku adalah
seorang lelaki yang lemah. Pekerjaanku sehari-hari adalah membersihkan
gelas-gelas di bilik/tenda zam-zam. Dan ketika itu aku sedang membersihkan gelas-gelas
dan Ummu Fadhl duduk bersama. Kami sungguh sedang merasa gembira dengan kabar
yang datang. Dan ketika itulah datanglah Abu Lahab, menggusur kedua kakinya
dengan kasar sampai terduduk di sudut tenda. Maka ketika itu kami duduk saling
membelakangi.
Di saat Abu Lahab
terduduk, orang-orang ramai mengatakan, “inilah dia Abu Sufyan bin Harits bin
Abdul Muthallib.” Abu Lahab tersentak karenanya, “demi nama Abu Sufyan
Al-Mughirah, ia telah datang!” Kemudian katanya lagi, “Kemarilah, sungguh
padamu ada kabar tentang kehidupanku!” Kemudian Abu Sufyan duduk di dekatnya
dan orang-orang berdiri mengerumuni. Abu Lahab berkata lagi, “duhai
keponakanku, kabarkanlah kepadaku bagaimanakah urusan orang-orang ini?”
Abu Sufyan mengatakan, “demi
Tuhan, sungguh yang kami jumpai tiada lain bukan sesuatu yang sepadan dengan
kemampuan kami, mereka mengarahkan kami sekehendaknya, menghalau dengan mudah
atas kami sekehendak mereka. Demi Tuhan, itu sama sekali bukan manusia! Mereka
itu pria-pria putih dan menunggangi kuda berkilauan putih di antara langit dan
bumi. Demi Tuhan, tidak ada yang menggantungnya dan tidak menjejak di atas
sesuatu apapun.”
Abu Rafi berkata, “Dengan serta merta aku menyingkap (kain) tenda dan mengatakan, “Itu. Demi Allah, itu adalah malaikat!” Kemudian Abu Lahab mengangkat tanggannya dan memukul wajahku dengan sangat keras. Aku terhuyung padanya dan dia mengangkatku kemudian menjatuhkanku ke tanah. Kemudia dia menindihku dan memukuliku, sedangkan aku adalah seorang yang lemah. Maka Ummu Fadhl menhampiri salah satu tiang tenda dan mengambilnya kemudian ia memukulkannya pada kepala Abu Lahab sampai dapat memecahkannya karena sangat murkanya. Ummu Fadhil berkata, “beraninya kau menindas dia di saat majikannya tidak ada?” Abu Lahab bangkit dengan penuh kehinaan dan demi Allah, setelah itu ia hanya selama tujuh hari saja hidupnya. Allah kemudian membuatnya bernanah seperti sampar dan ia pun terbunuh karenanya.”
Abu Rafi berkata, “Dengan serta merta aku menyingkap (kain) tenda dan mengatakan, “Itu. Demi Allah, itu adalah malaikat!” Kemudian Abu Lahab mengangkat tanggannya dan memukul wajahku dengan sangat keras. Aku terhuyung padanya dan dia mengangkatku kemudian menjatuhkanku ke tanah. Kemudia dia menindihku dan memukuliku, sedangkan aku adalah seorang yang lemah. Maka Ummu Fadhl menhampiri salah satu tiang tenda dan mengambilnya kemudian ia memukulkannya pada kepala Abu Lahab sampai dapat memecahkannya karena sangat murkanya. Ummu Fadhil berkata, “beraninya kau menindas dia di saat majikannya tidak ada?” Abu Lahab bangkit dengan penuh kehinaan dan demi Allah, setelah itu ia hanya selama tujuh hari saja hidupnya. Allah kemudian membuatnya bernanah seperti sampar dan ia pun terbunuh karenanya.”
Dan ditambahkan oleh Baihaqi dalam Dalailun
Nubuwwah, “... Abu Lahab hanya selama tujuh hari saja bertahan hidup setelah
itu dan meninggal dengan nanah bisul seperti wabah. Kedua anaknya membiarkannya
setelah setelah kematiannya itu selama tiga hari sampai bau busuknya menyebar.
Dan orang-orang Quraisy sangat khawatir dengan wabah seperti itu seperti
takutnya pada sampar. Sampai kemudian dikatakan seseorang kepada kedua anaknya,
“apakah kalian tidak malu? Sesungguhnya ayahmu ini telah menebarkan bau busuk
dari rumahnya dan kalian tidak menguburkannya.” Kedua anaknya menjawab, “sungguh
kami sangat takut akan wabah yang ada padanya.” Orang itu mengatakan, “pergilah
kalian, biar aku membantu kalian dalam hal ini.” Dan demi Allah (kata Abu
Rafi), dia sama sekali tidak dimandikan kecuali dengan disiram air dari
kejauhan dan tidak ada yang berani mendekat. Jasadnya kemudian diseret-seret dengan bilah kayu ke
tempat tinggi di Mekah, disandarkan pada sebuah dinding dan orang-orang
menimbunnya dengan melempar-lemparkan batu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!