Isa a.s. mengatakan kepada kaumnya,
“...sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku,
yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang
akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Ash-Shaff/61: 6). Maka
dinanti-nantilah kedatangannya. Hal ini ditegaskan pula oleh Rasulullah s.a.w.
ketika beliau ditanya tentang permulaan akan kedatangan beliau s.a.w.: “(aku
adalah) apa yang dipintakan Ibrahim dalam do’anya, (disebutkan) sebagai kabar
gembira oleh Isa a.s., dan yang dimimpikan oleh ibuku yang cahaya yang
meneranggi istana-istana negeri Syam.” (Riwayat Ahmad)
![]() |
| Makkah, tanah kelahiran Muhammad s.a.w. |
Syahdan, di saat Rasulullah s.a.w. mengikuti
pamannya dalam perjalanan dagang ke negeri Syam, seorang pendeta Nasrani
bernama Buhaira yang menjaga kata-kata Isa a.s. dengan berita gembiranya
mengatakan kepada Abu Thalib agar ia menjaga anak tersebut dengan baik karena
boleh jadi di negeri yang akan ditujunya akan dijumpai oleh kelompok orang yang
hendak membinasakannya. Bahkan menurut satu sumber, bahkan di saat beliau
berada dalam asuhan Halimah As-Sa’diyah, seorang pendeta Nasrani pernah datang
memintanya untuk dibawa ke Abisina untuk dibesarkan oleh raja mereka.
Kepribadian Rasulullah s.a.w., sebelum
beliau mendapatkan risalah, diakui oleh orang-orang Makkah dan karenanya mereka
memberi gelar terhormat untuknya, “Al-Amin” (yang terpercaya) dan “Al-Karim”
(yang mulia). Jauh di abad setelah itu, pada Abad ke-20 seorang penulis non-muslim
mengakui kebesaran Nabi Muhammad s.a.w. dengan menempatkannya di posisi pertama
sebagai sosok yang paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah manusia. Akan tetapi
tidak setiap orang yang mengetahui kebenaran tersebut kemudian mengakui dan
meyakininya dan risalahnya walaupun sebenarnya ia adalah sosok yang
dinanti-nanti sebelumnya.
Penantian tersebut menumbuhkan kerinduan
akan tetapi tidak semua orang menantinya dengan sebenar-benarnya penantian. Ada
kelompok orang yang telah ditundukkan oleh hasrat duniawi yang akan menempatkan
kepentingan padanya. Bahwa hal tersebut telah diketahui oleh setiap orang, maka
yang terjadi kemudian adalah klaim dan legitimasi bahkan angan-angan. Karena
kepentingan itulah, ada golongan orang yang kemudian mengklaim bahwa kedatangan
orang yang dinanti itu tidak lain berasal dari kalanganya sendiri. Sehingga di
saat dihadapkan dengan kenyataannya yang berbeda yang apa yang diangan-angankan
atau diklaimnya, alih-alih bisa menerima sosok yang selama dirindukannya justru
yang dihadapkan kemudian adalah sikap penolakan dan dihiasi dengan
tuduhan-tuduhan yang keji.
Demikian itu digambarkan Allah dalam
Firman-Nya:
فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ [٦١: ٦]
“Maka tatkala dia (yang dinanti-nanti itu)
datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti nyata, mereka justru berkata
bahwa ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaff/61: 6)
Rasulullah s.a.w. adalah kebenaran yang
dirindukan setiap orang dan setiap kita diciptakan dengan kodrat merindukan
kebenaran tersebut. Namun, di saat kita dihadapkan dengan kebenaran tersebut,
persoalannya akan sama sekali berbeda apabila apa yang kita lakukan dalam
mencari kebenaran tersebut ternyata ditumpangi oleh niat dan tujuan yang tidak
benar. Kebenaran, seterang apapun keadaannya di hadapan seseorang, jika mata
hati (niat) yang dimiliki telah dibutakan oleh tujuan-tujuan yang tidak benar
hanya akan menempatkan seseorang pada kesesatan (sementara dirinya mengira
berada dalam kebenaran).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!