Muhammad s.a.w. Tumbuh sebagai Yatim Piatu

Pada Tahun Gajah, demikian Rasulullah s.a.w. diingat tanggal kelahirannya. Terdapat banyak pendapat mengenai tepatnya tahun kelahiran beliau, karena istilah tersebut juga tidak dapat dipastikan bertepatan dengan upaya penghancuran Ka’bah oleh Abrahah  dengan pasukan gajahnya. Demikian pula dengan penentuan tanggal dan harinya, akan tetapi salah satu sumber yang banyak dijadikan rujukan dalam sirah nabi s.a.w., yakni Sirah Ibnu Hisyam, menyebutkan bahwa tanggalnya adalah 12 Rabi’ul Awal.
Muhammad s.a.w. terlahir sebagai anak yatim, karena ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal pada saat beliau berada dalam kandungan. Setelah beliau dilahirkan, sebagaimana tradisi yang berlaku, beliau disusui oleh bani Sa’ad, yang dikarenakan bukan berasal dari keluarga kaya raya, semula tidak mendapatkan ibu susuan yang akan mengambilnya. Abdullah ayah beliau, pada saat meninggal, disebutkan hanya meninggalkan lima ekor unta dan seorang sahaya. Hal ini, meskipun tidak dapat membuatnya dikatakan miskin, tidak pula dapat dikatakan kaya raya untuk ukuran masyarakat saat itu.
Halimah binti Adh-Dhu’aib, dari sekian perempuan dari bani Saad yang datang ke Mekah, semula juga menolak untuk mengambil Muhammad sebagai anak susuannya. Akan tetapi karena tidak ada lagi anak yang dapat diambilnya dan dia enggan untuk pulang ke daerahnya tanpa mendapatkan anak, akhirnya ia mengambil Muhammad. Dan kemudian ternyata, justru dengan mengambil Muhammad sebagai anak susuannya, Halimah merasakan benar bahwa setelah ia mengambilnya ia mendapatkan keberkahan.
Pada saat Muhammad berusia tiga tahun, terjadilah suatu peristiwa yang membuat Halimah dan suaminya dihinggapi kecemasan, yaitu apa yang dikabarkan oleh anaknya sendiri yang sebaya dengan Muhammad bahwa dua orang laki-laki membelah dada Muhammad. Dalam sumber lain juga disebutkan, bahwa apa yang membuat Halimah khawatir adalah bahwa ia pernah didatangi seorang pendeta Nasrani dari Abisina yang dapat melihat tanda-tanda kenabian dari Muhammad. Pendeta itu memintanya untuk dibawa ke negerinya dan dibesarkan oleh raja. Hal ini mendorong untuk mengembalikan Muhammad ke Mekah.
Muhammad dikembalikan kepada ibunya pada usia lima tahun. Tak lama setelah itu ibunya membawanya ke Yatsrib untuk mengunjungi keluarga dari ayah Muhammad, Abdullah. Dalam perjalanan pulang ibunya menderita sakit dan meninggal di Abwa. Muhammad pulang dibawa oleh sahaya yang dibawa serta ibunya, Ummu Aiman. Dan kemudian beliau berada dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muthalib.
 Abdul Muthalib benar-benar mencurahkan kasih sayangnya kepada Muhammad. Dalam hal ini ia sangat terkenang akan anaknya Abdullah yang dibanggakannya. Namun ternyata tak lama kemudian, pada saat Rasulullah s.a.w. berusia delapan tahun, kakeknya pun meninggal dunia dan beliau beralih pada asuhan pamannya, Abu Thalib.
Abu Thalib tidak memiliki kekayaan yang banyak dan memiliki banyak tanggungan dalam keluarganya. Tapi dalam hal mendapatkan Muhammad dalam pengasuhannya, kecintaan Abu Thalib kepadanya tidak berbeda dengan kasih sayang dari kakeknya sebelumnya. Dan terkadang, dimata Abu Thalib, Muhammad lebih diutamakan dari anak-anaknya sendiri. Dan hal ini terus demikian sampai masa kenabian bahkan jauh sesudah itu, sampai menjelang Abu Thalib wafat, ia selalu menjaga dan melindungi keponakannya.

Abu Thalib, selalu melindungi Rasulullah s.a.w.

Dalam pengasuhan Abu Thalib Muhammad tumbuh dan besar dalam kesederhanaan dan ia bekerja sebagai gembala kambing. Akan tetapi, meskipun dengan lingkungan sederhana tersebut, dan Muhammad sendiri tidak terjun dalam pergaulan yang sedang populer di Mekah saat itu dengan segala bentuk pesta pora dan kegemilangannya, dalam pandangan penduduk Mekah sendiri justru beliau memiliki kedudukan istimewa dan orang-orang memberikan gelar “Al-Amin”.


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!