Keutamaan Akhlak Nabi; Selalu Bersyukur

Kebanyakan manusia adalah mereka yang tidak dapat mensyukuri nikmat Allah, sementara Nabi s.a.w. bukanlah seperti yang kebanyakan tersebut. Dalam kaitan dengan nikmat, hanya dua sikap yang ada pada manusia yang keduanya saling bertentangan, yakni syukur dan kufur.
Syukur adalah akhlak para Nabi, orang-orang terpilih yang mendapatkan keutamaan ilmu (wahyu) yang tidak diberikan kepada yang lainnya. Nuh a.s. salam, salah satunya, disebutkan:
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا [١٧٣]
“... sesungguhnya dia (Nuh) itu adalah seorang hamba yang pandai bersyukur.” (Al-Isra’/17: 3)
Dan Rasulullah s.a.w., seperti digambarkan oleh Aisyah r.a, yang akhlaknya adalah Al-Quran merupakan sosok yang sifat syukurnya sangatlah utama. Demikian dapat dilihat dari yang ditanyakan Aisyah ketika melihat Rasulullah dengan shalat malamnya yang membuat kakinya sampai bengkak, “kenapa Anda melakukan ini, bukankah Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang sudah berlalu ataupun yang akan datang?” Rasulullah s.a.w. menjawab:

"أَفَلَا أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا"
“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang pandai bersyukur (karenanya)?” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

 Dari Nabi s.a.w. sendiri kita dapat melihat, bagaimana kemudian Allah memuliakannya karena rasa syukurnya. Allah menjanjikan bagaimana jika seorang hamba yang bersyukur akan mendapatkan lipat ganda balasan kenikmatan-kenikmatan dari Allah SWT.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [١٤٧]
“jika kalian bersyukur, sungguh Aku benar-benar akan menambahnya dan apabila kalian kufur sesungguhnya (akan mendapatkan) siksa-Ku yang sangat berat.” (Ibrahim/14: 7)

Ibn Qayim mendefinisikan syukur sebagai; pengakuan seorang hamba kepada Dzat yang telah memberinya kenikmatan dengan wujud ketundukan dan merendahkan diri pada-Nya serta mencintai-Nya.



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!