Fitroh dan Pencarian Jatidiri

Ada semacam jargon yang mengakar dalam kesadaran “akademik” atau ruang lingkup “pendidikan” anak-anak dan generasi penerus, yang justru memutarbalikkan logika yang sebenarnya ditegaskan di dalam Al-Quran. Ungkapan tersebut sangatlah tidak asing, bahwa ‘siapa yang mengenal dirinya sendiri dia akan mengenal Tuhannya’, yang seringkali cenderung pada cara mengagumi diri sendiri. Dengan pemahaman demikian, dengan mengagumi diri, alih-alih membuatnya dapat mengenal Tuhannya yang terjadi justru kecenderungan selfistik dan lupa diri. Karena pada prinsipnya, kesadaran ilahiyah hanya akan ditemukannya ketika seseorang dapat melihat dirinya memiliki banyak kekurangan, terbatas, lemah dan fana dan bukan sebaliknya. Jadi substansinya tidak mengakar pada apa yang ditemukan (baca: potensi) dirinya melainkan sebaliknya. Dialah Allah, Dzat yang tidak menyerupai sesuatu apapun dan tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya.
Maka apabila kita memperhatikan urutan yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah sebaliknya, yakni dengan mengenal Allah-lah justru seseorang akan mengenal dirinya, jati dirinya. Dan sebaliknya, dengan mengingkari Allah atau tidak mengesakan-Nya merupakan bentuk pengingkaran akan hakikat keberadaan dan identitas diri. Rumusannya sederhana, orang yang menolak Allah hanya akan menjadi sosok yang lupa diri dan kehilangan arah. Demikian itu ditegaskan Allah SWT:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ [٥٩: ١٩]
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr/59: 19)

Dua orang anak berdialog tentang jagoan masing-masing. Salah satunya menyebutkan sosok superhero yang ada di film, dijawab oleh yang lain bahwa itu akan dikalahkannya dengan jurus maut yang dimiliki oleh jagoannya. Yang satu mendatangkan jagoan baru, dihadapkan dengan jagoan lainnya. Sampai kemudian muncul pernyataan dari salah satunya bahwa semuanya akan dapat dikalahkan oleh Allah. Beberapa saat keduanya sama-sama terdiam, sama-sama mengakui kebenaran tersebut. Akan tetapi tiba-tiba lawan bicaranya menjawab, “Allah itu tidak punya uang, dia akan kalah oleh ayahku karena ayahku banyak uang!” Dialog keduanya mengalami kebuntuan karena kemudian arah pembicaraan berubah menjadi persoalan tentang hal-hal yang dapat dibeli dengan uang.

Hak di atas cukup memberi gambaran bagaimana nilai ketuhanan tertanam pada kesadaran masing-masing anak. Akan tetapi di sisi lain kita juga dapat melihat bahwa kesadaran tersebut teralihkan oleh logika keuangan yang sudah tertanam pada masing-masing benak kedua anak tersebut. Dari peristiwa tersebut kita dapat melihat satu indikasi tercerabutnya fitroh ilahiyah dari jiwa seseorang, dari keberagamaannya atau dari Allah sendiri; yaitu UANG.
Sejauh mana uang dapat memalingkan seseorang dari aqidahnya, kita sudah mengetahui fakta-fakta orang yang mendewakan uang lebih berani melanggar hal yang sangat ditakuti atau bahkan sangat ditentang olehnya. Hal ini tidak hanya menyangkut sifat bermasalah (baca: kekurangan) dengan uang, bahkan orang yang mapan dalam keuangannya akan bermasalah dengan dirinya sendiri. Dan yang menjadi pangkal persoalannya adalah bahwa ia melupakan, mengabaikan dan boleh jadi mengingkari Allah dan mengingkari pengesaan-Nya.
Uang adalah salah satu bentuk propaganda syetan dan hanya syetan-syetanlah yang mengarahkan seseorang untuk meningkari jatidirinya yang kita kenal dengan istilah fitroh, ad-diin, Islam atau agama yang lurus (hanif). Dalam satu hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:

"خَلَقْتُ عِبَادِي جَمِيعًا حُنَفَاءَ فَاجْتَالَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ عَنْ دِينِهِمْ" (رواه أحمد ومسلم)
“Aku menciptkan hamba-hambaku semuanya dengan berada di jalan lurus (Islam), maka kemudian syetan-syetan memalingkan mereka dari agamanya.” (Riwayat Ahmad dan Muslim)



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!