Rasulullah Teladan Terbaik

Kata ‘uswah’ dengan akar kata أسا – الأسا والإساء secara harfiyah berarti pengobatan, terapi juga berarti kesedihan (حزن). Pada bentuk/wazn أفعل kata ini berarti memperbaiki, mendamaikan ( أصلح ). Kata uswah sendiri telah populer artinya sebagai teladan, yakni maniru atau untuk menjadi sepertinya. Dalam menjadikan seseorang sebagai teladan (artinya lebih jauh dari sekedar mengidolakan), arti pengobatan atau terapi mensiratkan adanya sifat perbaikan dan membersihkan diri dari hal-hal yang tidak baik.

Di dalam Al-Quran kata ‘uswah’ disebutkan sebanyak tiga kali, dengan konteks penyebutan dilekatkan pada Ibrahim a.s. beserta orang-orang yang bersamanya (Al-Mumtahanah/60: 4, 6)  dan pada Nabi Muhammad s.a.w. (Al-Ahzab/33: 21).
Sebagai umatnya, menempatkan beliau sebagai teladan merupakan suatu hal mutlak yang harus menghias setiap perilaku dan tindak tanduk kita. Keteladanan tidak dapat diraih dengan klaim, seremonial, gema nyanyian atau yel-yel yang diteriakkan lantang-lantang. Terkadang muncul apologi dari kita yang sebenarnya bisa jadi merupakan bentuk “penolakan” tidak langsung atas keteladanan beliau dengan mengatakan bahwa diri Rasulullah s.a.w. itu berbeda dengan kita. Alih-alih dapat mengikuti beliau dengan sungguh-sungguh, ungkapan demikian justru cenderung akan menempatkan kita jauh dari risalah yang dibawanya.
Secara sederhana kita dapat mengistilahkan teladan Rasulullah s.a.w. dalam istilah sunnah (dapat diartikan sebagai kebiasaan). Ungkapan kebiasaan dalam hal ini sudah tentu mencakup apa yang dalam istilah hukum syar’i disebut dengan fardhu/wajib, mustahab, atau hal-hal lain yang dijaga oleh Rasulullah s.a.w. dalam melakukannya. Kita memang tidak akan mampu menempati kedudukan beliau dan mengikutinya secara sempurna, akan tetapi bukankah salah satu tujuan Allah mengutusnya dari jenis manusia sendiri agar manusia mampu mengikutinya?
Teladan berbeda dengan idola. Dalam mengidolakan terdapat sudut pandang subyektif yang menempatkan sosok yang diidolakan sebagai objek. Sehingga, berbeda sekali dengan teladan, idola belum tentu diikuti akan tetapi tragisnya pengidolaan seringkali menempatkan pada sikap mendewakan (melampaui batas). Menjadikan Rasulullah s.a.w. teladan dalam satu sisi sudah pasti akan menempatkannya sebagai idola akan tetapi tidak dengan cara pandang subjektif dan berlebihan (pendewaan).

Meneladani Rasulullah s.a.w. bukanlah sekedar sikap mengagumi. Akan tetapi apa yang dituntut dari setiap pribadi yang mengaguminya adalah mengikutinya dan cara tersebut adalah tiada lain merupakan perwujudan cinta kepada Allah yang sudah tentu menafikan adanya pengkultusan atas makhluk termasuk diri Rasulullah s.a.w.. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 
[٣: ٣١]
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran/3: 31)

Ada semacam penolakan dari sebagian orang Islam atas apa yang dinisbatkan kepada Rasulullah s.a.w. sebagai sunnahnya dengan sandaran bahwa tidak semua hal yang dinisbatkan kepada beliau merupakan hal yang harus diikuti. Boleh jadi demikian, dan karena di samping itu pula Rasulullah s.a.w. memberi kebebasan terutama dalam urusan duniawi, akan tetapi ketika apa yang menjadi sunnah Rasulullah s.a.w. diabaikan akan menempatkan seseorang pada kesesatan. Na’udzubillah, karena Rasulullah s.a.w. sendiri telah memperingatkan:

وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ (رواه مسلم: ٦٥٤)
“Dan apabila kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan tersesat.” (Riwayat Muslim; 654)

Maka, dengan mengetahui bahwa Rasulullah adalah sosok yang lemah lembut kepada sesama, tidak pernah menghardik orang (bahkan) terhadap pelayan sekalipun, atau kelembutan yang disebutkan Muawiyah tentang bagaimana beliau mengajarinya shalat dengan cara yang sangat baik, tidak ada alasan bagi siapa saja yang menjadikannya teladan untuk selalu menunjukkan perangai kasar, keras hati atau menghinakan orang dengan dalih disiplin atau tegas dalam beragama. Bahkan terhadap seorang lelaki Yahudi buta yang selalu menghinanya dengan semena-mena, Rasulullah s.a.w. tetap menyantuninya dan menunjukkan kasih sayang. Dan kita dapat melihat bahwa lelaki tersebut kemudian memeluk Islam.
Apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. tentang tolong-menolong sungguh di luar, bahkan bagi para shahabatnya, adalah hal yang menakjubkan. Beliau mengatakan:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا (البخاري؛ ٢٤٤٤)
“Tolonglah saudaramu baik berbuat aniaya ataupun dianiaya.” (Bukhari; 2444)



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!