Keturunan Ibrahim

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. 37: 102)
Konteks ungkapan di atas berhubungan dengan perintah Allah atas Ibrahim a.s. yang dilontarkan kepada Ismail a.s., pada saat menjelang usia dewasa. Apa yang diperintahkan di atas bukanlah hal yang menyenangkan bagi sang anak, akan tetapi Ibrahim seolah “membebaskan” anaknya untuk memilih. Sekiranya kita ditempatkan pada posisi Ibrahim, atau dengan konteks perintah agama, boleh jadi jawaban anak-anak akan jauh dari apa yang diharapkan.
Ismail a.s. menjawab pertanyaan ayahnya, “wahai ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. 37: 102)
Dari penggalan kisah Ibrahim dan Ismail a.s. di atas, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana seharusnya menempatkan perintah Allah di atas segala-galanya. Totalitas yang dilakukan Ibrahim dan anaknya a.s. tidak hanya sebatas perkataan, mereka berdua benar-benar akan melakukan hal tersebut. Padahal, kita memahami bagaimana kronologi kelahiran Ismail dan perjuangan berat yang telah dilewatinya sampai Ismail beranjak dewasa. Akan tetapi, tanggapan dari keduanya sama sekali tanpa ada rasa keberatan sama sekali.

Ketentuan agama, tidak jarang, oleh sebagian orang justru dipertanyakan bahkan ditentang. Penolakan, alasan-alasan dan keberatan muncul di saat kita memiliki pertimbangan atau penilaian sendiri tentang perintah tersebut. Hal yang paling mendasar seringkali dikontradiksikan dengan penalaran akan kegunaan atau tujuan dari sesuatu hal. Padahal, Allah tidak semata-mata memerintahkan sesuatu hal kecuali hal tersebut akan membawa kebaikan bagi kita.
Kompromi dalam menerima perintah agama berarti menempatkan prioritas lain sejajar dengan atau bahkan di atasnya. Maka tidak mengherankan bahwa ada orang yang berkeberatan untuk shalat berjamaah, menolak perintah agama dan membenarkan tindakan-tindakan yang dilarang agama.
Hal yang banyak dikeluhkan orang tua atas anak-anak salah satunya adalah kecenderungan anak dalam beragama. Sikap Ismail a.s. merupakan hal yang sulit ditemukan pada anak-anak. Bahkan, berbeda dengan sikap Ismail dalam konteks ayat di atas saat ia menjelang dewasa, kedewasaan seringkali dijadikan dalih untuk “secara bebas” memilih antara taat dan tidak taat di saat orang tua meminta sang anak untuk menjalankan perintah agama. Sebagai contoh, jawaban tersebut seperti, “Ayah/Ibu, aku ini sudah besar. Aku sudah tahu mana yang harus kulakukan dan yang tidak boleh kulakukan,” demikian misalnya di saat orang tua mengingatkan anaknya untuk shalat.
Dalam hal mensikapi hal demikian, boleh jadi kesadaran orang tua hanya terpaku pada sikap anak saja (baca: menjustifikasi anak). Padahal, boleh jadi dan secara mendasar telah ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w. bahwa yang pertama kali merubah fitroh keagamaan seorang anak adalah orang tuanya sendiri.
Jawaban Ismail a.s. kepada ayahnya adalah hasil pendidikan yang diterapkan oleh Ibrahim a.s. yang nyata-nyata bukan seorang ayah yang suka berkompromi dalam beragama. Sebaiknya kita memperhatikan bagaimana ketika seorang anak bertanya kepada ayahnya yang tidak shalat berjama’ah di masjid dan memberikan jawaban bahwa ayah sedang sibuk, sang anak menafsirkan bahwa kesibukan dapat dikompromikan dengan keharusan shalat berjamaah. Atau, yang patut diperhatikan disaat sang ayah menegur anak yang enggan pergi shalat atau mengaji dengan teguran keras bahwa ia menentang ayahnya, sang anak menafsirkan bahwa shalat itu dilakukan karena diperintah sang ayah bukan dari Allah SWT.
Ismail a.s., sosok yang menerima begitu saja perintah untuk disembelih, adalah anak dari seorang ayah yang bernama Ibrahim a.s.. Nama Ibrahim disebutkan di dalam Al-Quran sebanyak 63 kali. Frekwensi tersebut sebanding dengan gagasan-gagasan besar yang melekat pada Ibrahim, seperti ketauhidan, rujukan agama Allah (millah), ujian kehidupan dan lain sebagainya. Dari nama besar Ibrahim tersebut kemudian terjadi klaim-klaim yang dilakukan generasi setelahnya dalam memperebutkan legitimasi kebenaran, yaitu klaim yang bersumber dari arogansi dan penolakan atas kebenaran. Padahal, sosok Ibrahim digambarkan Allah SWT sangat bertentangan dengan pengklaim “kebenaran” Ibrahim.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ [١١: ٧٥]
     “Sesungguhnya Ibrahim itu ialah seorang penyantun, rendah hati dan suka kembali (kepada Allah).” (QS. 11: 75)



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!