Ibadah adalah tujuan
penciptaan. Aktualisasi segala bentuk perintah dan larangan adalah ibadah. Namun meskipun meskipun ibadah
tersebut ditujukan kepada Allah, maksud yang terkandung dari ibadah sendiri
tiada lain adalah kemaslahatan makhluk. Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Kaya,
tidak membutuhkan sesuatu apapun termasuk penyembahan makhluk-Nya, kedudukannya
sama sekali tidak terpengaruh oleh ketaatan atau kedurhakaan makhluk.
Dalam sebuah hadits
qudsi dikatakan:
لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ
وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ،
مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا (رواه مسلم)
“... seandainya (dari)
yang awal dari kalian sampai yang terakhir, atau dari seluruh manusia dan jin,
mereka semua dengan ketakwaan orang yang hatinya paling bertakwa dari kalian,
sama sekali tidak akan menambah sesuatu apapun pada kerajaan-Ku.” (Riwayat
Muslim)
Ibadah diambil dari kata
abada (عبد), berarti menyembah; mengabdi; menghinakan diri, yang
oleh Al-Isfahani dijelaskan sebagai totalitas sikap merendahkan diri atau
ketundukkan. Pelaku tindakan tersebut disebut’abd (hamba). Pengertian tersebut
memiliki sifat merendahkan diri sebagaimana terdapat pada tindakan sujud. Sebagai
pilihan, ibadah mengacu pada pilihan manusia untuk bertindak sebagaimana
diperintahkan. Dari sudut pandang makhluk (manusia) sebagai abd, kata
tersebut memiliki pengertian yang beragam. Abd dalam hukum melekat pada
kedudukan seseorang sebagai hamba sahaya (mis. QS. 2: 178). Abd dalam
keberadaan semua makhluk di hadapan Allah secara umum (lih. QS. 19: 93). Abd
dilihat dari sifat tindakan dan orientasinya, mengungkapkan keshalehan dalam
beribadah kepada Allah (lih. QS. 17: 3), atau mengungkapkan keburukan untuk manusia
yang diperbudak dunia atau hal-hal lain yang bersifat duniawi seperti yang diistilahkan
dalam hadits dengan ungkapan budak uang (عَبْدُ الدّرهمِ).
Di dalam Al-Quran perintah
beribadah sering dihubungkan dengan penciptaan dan dalam satu ayat ditegaskan
bahwa ibadah kepada Allah adalah tujuan dari penciptaan itu sendiri (lih. QS.
51: 56). Substansi perintahnya adalah pengesaan (tauhid) dengan keislaman (QS. 98:
5) yang dalam ayat lain disebut sebagai fitroh (kita dapat mengistilahkan sebagai
kodrat penciptaan) yang tidak akan dapat tergantikan.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ
اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا
يَعْلَمُونَ [٣٠: ٣٠]
“...
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum/30: 30)
Sampai di sini kita
dapat menyimpulkan bahwa beribadah adalah kenisbian dalam hidup seseorang dan
penolakan atas ibadah akan membuatnya berada di luar kodrat penciptaannya
sendiri. Diibaratkan seperti makan sebagai asupan nutrisi dan kebutuhan tubuh
secara lahir, ibadah mencakup seluruh kebutuhan (baca: keharusan) yang berlaku
baik secara fisik maupun psikis (lahir batin). Namun sebagaimana ditegaskan
ayat di atas, justru kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Perintah secara umum
lebih cenderung dipahami sebagai tuntutan (demand), yang dinisbatkan pada
sumber perintah dengan sudut pandang kepentingan (manfaat) pada pemberi
perintah. Akan tetapi berbeda dengan perintah Allah, ibadah justru bertujuan
untuk menciptakan kemaslahatan makhluk dan sama sekali tidak memberi manfaat
kepada Allah. Ada kecenderungan manusia yang memandang bahwa ibadah hanya
semata-mata “keinginan” Tuhan, sehingga muncul kecenderungan untuk menolak
untuk beribadah. Ibadah kemudian dinilai sebagai kesia-siaan, tidak berguna dan
buang-buang harta.
Namun sebaliknya, ada juga
yang cenderung memahami ibadah secara tidak tepat dengan meyakini sifat
kausalitas secara zhahir saja sehingga ada yang cenderung melaksanakan ibadah
tertentu dengan menjadikan orientasinya pada hal tertentu saja seperti
kekayaan, kesehatan dan lain sebagainya. Shalat dhuha sebagai contoh, dengan
disandarkan kepada satu perkataan Nabi yang berhubungan dengan rejeki,
dilakukan sebagian orang untuk meraih kesuksesan dalam usaha. Atau shalat
secara umum, saat didapati bahwa didalam shalat terdapat hikmah (baca: manfaat)
untuk kesehatan, orang kemudian melakukannya untuk tujuan tersebut seolah-olah
shalat adalah olah raga sehingga ia terluput dari substansi shalat yang
sebenarnya. Oleh karena itulah Al-Quran di sisi lain bahwa dari sebagian
orang-orang yang mengerjakan shalat justru mendapatkan celaka karenanya (QS.
107: 4).
Maka ditegaskan oleh
Rasulullah s.a.w. bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang dapat merasakan
kebaikan ibadah:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ:
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ
يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي
الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
(رواه البخاري ومسلم)
“Tiga hal yang apabila
terdapat pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman. (Yaitu)
hendaknya ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari hal-hal selain keduanya;
tidaklah ia mencintai seseorang/sesuatu hal kecuali bahwa kecintaannya didasari
dengan karena Allah; dan hendaknya ia membenci kembali pada kekufuran sebagaimana
membenci untuk dilemparkan ke dalam api (neraka).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!