Ada yang mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan melawan
kematian. Barangkali yang dimaksudkan ungkapan tersebut bukanlah kematian dalam
arti yang sebenarnya, akan tetapi ketakutan akan kematian dari yang hidup
merupakan paradigma umum yang menghantui setiap orang. Segala sesuatu yang
berhubungan dengan kematian akan membuat orang bertindak dengan penuh kehati-hatian.
Ini merupakan salah satu hikmah diciptakannya kematian, karena dengan
kehati-hatian tersebut banyak orang yang terselamatkan dari “hidup yang tidak
hidup”, sebagaimana dituliskan seorang WS Rendra dalam sya’irnya.
| Al-Marhum (semoga dirahmati Allah) |
Akan tetapi ketakutan akan kematian juga dapat juga
menempatkan orang pada keadaan yang tidak baik atau bahkan pada kematian itu
sendiri. Dan, bukan dalam arti kiasan, banyak orang-orang yang menjumpai
kematiannya di saat ia mati-matian melawan kematian. Kita dapat menyebutnya
sebagai sikap negatif akan kematian, sebagaimana Allah menggambarkan:
يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ
أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ ۗ [٢: ٩٦]
“Masing-masing mereka menginginkan
agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan
menjauhkannya daripada siksa.” (QS. Al-Baqarah/2: 96)
Persoalan yang mendasar yang menempatkan, alih-alih
selamat dari kematian, yang justru celaka karena ketakutan akan kematiannya
adalah apa yang dilupakannya pertanggungjawaban setelah kematian. Orang yang
lebih mementingkan hidup di dunia (sebagaimana diungkapkan pada permulaan ayat
di atas), justru tidak akan mampu mensikapi kematian secara positif. Dalam
ruang lingkup duniawiyah, ia justru akan bertemu dengan banyak kesulitan dalam
hidupnya karena cara pandangnya tersebut. Betapa tidak, tanpa keimanan (akan
kehidupan setelah kematian), justru dirinya dibuat oportunis, hedonis dan
cenderung ‘rakus’ dalam memperoleh kesenangan dan bukannya sikap kehati-hatian.
Dengan mudah kita dapat membayangkan betapa banyaknya hal-hal buruk yang akan
menimpa seseorang tanpa kehati-hatian.
Dalam istilah keberagamaan kita mengenal istilah
ketakwaan, kata yang secara harfiah memiliki arti kehati-hatian, sebagai satu
pilihan jalan yang akan menyelamatkan. Ketakwaan
di dalam Al-Quran (lih. QS. 3: 102) dihubungkan dengan kematian dalam
keislaman, yang diperintahkan untuk dilaksanakan dengan sebenar-benarnya oleh
orang yang beriman. Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya orang-orang
yang memiliki kehati-hatianlah (baca: bertakwa) yang dapat menghadapi kematian
dengan selamat (baca: berislam).
Kehati-hatian datang dari ketakutan akan kematian, akan
tetapi tidak semua bentuk ketakutan akan kematian dapat mendatangkan sikap
kehati-hatian yang dapat menjauhkan seseorang dari kebinasaan. Menjaga
kesehatan merupakan sikap kehati-hatian dan secara umum hal itu dilakukan dalam
kerangka “menghindari” kematian. Akan tetapi paradigma “menghindari” kematian
bukanlah hal yang dapat dibenarkan karena setiap jiwa (yang hidup) pasti
menjumpai kematian (lih. QS. 3: 185). Hal ini merupakan salah satu dari sudut
pandang yang keliru dari manifestasi ketakutan akan kematian.
Sementara itu Rasulullah s.a.w. memberi petuah, sebagai bentuk kehati-hatian yang seyogyanya terjaga
dalam setiap orang, beliau mengatakannya menjelang hari-hari kematiannya:
"لَا يَمُوْتُنَّ أَحَدُكُم إِلَّا وَهُوَ يَحْسُنُ الظَّنَّ
بِاللهِ" (رواه مسلم)
“Janganlah kalian mati kecuali dengan memiliki prasangka
baik kepada Allah.” (Riwayat Muslim).
Prasangka baik merupakan kunci kebaikan seseorang. Tanpa keimanan
yang kokoh, bukan hanya prasangka buruk yang dapat dilontarkan seseorang kepada
Allah SWT, bahkan sikap mengingkari (kufur). Allah juga telah memberi
ketetapan bahwa Dia akan mengikuti prasangka seorang hamba kepada-Nya.
Rasulullah s.a.w. mengatakan:
"إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ "
قيل: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قال "يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ اْلمَوْتِ
ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ" (رواه أحمد
والترمذي وبن حبان والحاكم)
“Apabila Allah
menghendaki seorang kebaikan seorang hamba, Dia akan menggunakannya.” Ditanyakan
kepada beliau, “bagaimanakah Allah mempergunakannya?” Rasulullah s.a.w.
menjawab, “Allah akan menolongnya mengerjakan amal sholeh sebelum kematiannya
dan kemudian diambil (nyawanya) dalam keadaan tersebut.” (Riwayat Ahmad,
At-Tirmidzi, Ibn Hibban dan Al-Hakim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!