Dalam kisah Musa dan
Khidhir, di saat Musa mendapatkan perintah untuk mencarinya dan dalam
perjalanannya bersama Khidhir, terdapat pelajaran yang sarat bagi yang sedang
menuntut ilmu. Kesungguhan dan bersusah payah dapat dilihat dari awal
perjalanan Musa a.s., bagaimana ia bertekad tidak akan berhenti untuk mencari
meskipun sampai habis waktu yang dimilikinya (18: 60), karena setiap kerja
keras dan kesulitan dalam mencari ilmu merupakan hal yang akan memudahkan dan
dengan ilmulah hati akan selalu hidup. Dan yang tak kalah penting, salah satu
isyarat lain yang terdapat dalam kisah tersebut adalah keberadaan teman/sahabat,
yakni kehadiran Yusya’ bin Nun yang dibawa Musa untuk menemani perjalannya.
Bersabar dengan
pengajarnya, atau secara umum bersabar untuk mengikuti segala bentuk proses
yang ditetapkan dalam mencari ilmu – pen., terutama mengenai sesuatu yang
disyaratkan oleh pendidik seperti untuk tidak mempertanyakan apa sebab sesuatu
hal sebagaimana Musa a.s. selalu bertanya kepada Khidir ketika mendapatinya
melakukan hal-hal yang tidak dapat diterimanya (lih.: 18: 71, 74 dan 77).
Hal penting yang paling
mendasar dalam kisah ini menyangkut segala sesuatu yang tidak dapat dinalar
dengan kemampuan akal manusia wajib untuk selalu disandarkan pada ketetapan
wahyu Allah Yang Maha Mengetahui hal-hal ghaib. Hal ini seperti mensikapi
kadar-kadar yang ditetapkan atas semua makhluk, sebagaimana dapat dilihat dari
berbeda-bedanya kadar rejeki, keadaan, kesehatan, kemiskinan, keturunan bahkan
hidup-mati, seperti halnya Khidhir yang bertindak atas kehendak Allah yang
berlaku tanpa mempertanyakan apapun meskipun itu bertentangan dengan apa yang
diketahuinya.
***
Sumber: Al-Tafsir
al-Maudhu’iy 1 – Jami’ah Al-Madinah, h. 260-262

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!