Shalat sebagai Syi'ar dan Pokok Keislaman

Shalat merupakan pokok yang terpenting di dalam Islam setelah syahadat. Ia merupakan kewajiban yang berlaku bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan dan berlaku dalam keadaan bagaimanapun. Apakah dalam keadaan aman atau ketakutan, sehat atau sakit, mukim atau dalam perjalanan, dalam seluruh keadaan apapun shalat tetap difardhukan dalam hal jumlah dan tata caranya.

Nabi Ibrahim a.s., sosok yang memiliki ketaatan luar biasa bahkan di saat ia mendapat perintah untuk menyembelih anaknya sendiri, dari doa-doa yang dituturkannya adalah agar ia dan keturunannya dijadikan orang yang tetap mendirikan shalat. Dalam hal ini, kita yang kadar ketaatan dan keilmuan jauh dari kedudukan beliau, kadang-kadang dan tidak sedikit di antara kita yang tidak pernah sama sekali meminta seperti apa yang diminta Ibrahim.
Karir, kehidupan yang mapan, kelas pergaulan sosial, gaya hidup atau bahkan justru hanya berupa kesenangan mengikuti hawa nafsu, di zaman yang sarat dengan fitnah ini – naudzubillah – justru seringkali menjadi hal-hal yang diperjuangkan dengan sekuat tenaga dan dilakukan dengan mengabaikan shalat. Bahkan dalam suatu habitat pergaulan masa kini, ada kelompok yang suka mencemooh orang yang shalat atau teman-temannya sendiri yang masih melakukan shalat.
Shalat tidak menyita banyak waktu, tidak menuntut kepayahan yang luar biasa dan sama sekali tidak meminta biaya ‘sama sekali’, akan tetapi tidak jarang orang yang merasa tidak memiliki waktu untuknya, tidak cukup tenaga untuk melangkahkan kaki ke masjid atau mushalla dan bisa jadi dihinggapi ketakutan akan mendapat kerugian.

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [١٩: ٥٩]
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam/19: 59)

Shalat adalah beban kewajiban yang melekat pada setiap orang, tanpa kecuali. Namun sebenarnya shalat bukanlah beban berat yang akan menyulitkan atau membuat orang kepayahan karenanya. Akan tetapi sering terjadi gagal paham pada pribadi kita, dengan melihat shalat sebagai sesuatu yang memberatkan, sehingga dihinggapi keengganan atau bahkan berani melupakannya sama sekali. Karena alasan kesibukan shalat bisa jadi dipandang mengganggu aktivitas. Karena alasan kerja keras shalat bisa jadi diabaikan karena merasa terlalu letih. Karena stress berat bisa jadi shalat ditinggalkan, atau hal-hal lainnya yang seringkali memberatkan orang untuk tetap shalat. Padahal, sebagaimana Rasulullah s.a.w. menegaskan kepada Bilal bin Rabbah r.a., shalat tidaklah demikian adanya. Beliau mengatakan:

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا (أبو داود)
“Ya Bilal, dirikanlah shalat. Kita akan merasakan ketenangan (relaksasi/refreshing) dengannya.” (Shahih, Riwayat Abu Daud)

Shalat adalah tolok ukur kualitas hidup, karena dengannya segala kebaikan hidup akan terwujud dan secara hakiki kelak di saat dihisab. Shalat adalah pencapaian, sebagaimana dicatat dalam perjalanan Rasulullah s.a.w. itu ditetapkan dengan Isra Mi’raj yang sebelumnya beliau dan para shahabatnya mendapat ujian yang sangat berat. Shalat adalah cahaya, karena dengannya orang akan mampu memilah mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, dan menjaga dirinya dari melakukan perbuatan keji dan munkar. Shalat adalah manifestasi kebaikan yang akan menyingkirkan hal-hal buruk yang melekat pada setiap jiwa,  yang diciptakan dengan nafsu amarah dan nafsu muthmainnah, dan menumbuhkan segala kebaikan yang terdapat pada dirinya.
Di dalam hadits berikut Rasulullah s.a.w. menggambarkan satu perumpamaan tentang shalat, beliau mengatakan:

«أَرَأيْتُمْ لَو أَنَّ نَهراً بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَومٍ خَمْسَ مَرّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟» قَالُوا: لا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ. قَالَ: «فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ، يَمْحُو الله بِهِنَّ الخَطَايَا». (متفق عليه، عن أبي هريرة)
Bagaimana pendapat kalian apabila di depan pintu rumah kalian terdapat sungai yang dengan seorang dari kalian mandi sebanyak lima kali setiap harinya, apakah akan tertinggal pada dirinya kotoran (daki)?” Para shahabat berkata, “tidak akan tersisa dari daki sedikitpun.” Rasulullah s.a.w. berkata, “demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, dengannyalah Allah akan menghilangkan kesalahan-kesalahan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!