Apakah karena kita memiliki kendaraan terbaru, rumah mewah yang sangat besar atau memiliki pulau sendiri, atau bayangkan apa saja yang melekat pada diri kita sendiri saja - sehebat apapun itu - yang akan kita temukan hanyalah kekosongan atau bahkan penderitaan? Itu dapat dipahami dengan mudah terutama jika kita bayangkan tanpa kehadiran orang lain. Akan tetapi bagaimanapun, sekiranya keberadaan orang lain tak lebih dari eksistensi egoisme dan kesombongan, tentu tidak akan lebih baik dari kekosongan dan penderitaan tersebut. Ukuran kebaikan, kualitas hidup dan kebermaknaan itu sejatinya sangat sederhana dan tidak sulit bagi setiap orang untuk dapat mewujudkannya, sebagaimana dapat kita pahami dengan mudah dari kata-kata Rasulullah s.a.w.:
خَيْرُ النَّاسِ
أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (رواه القضائي)
“Sebaik-baiknya orang yaitu
orang yang banyak berguna untuk (sesama) manusia.” (Riwayat Al-Qadhaiy)
Berguna bagi orang lain,
suatu ungkapan yang dijadikan ukuran kebaikan seseorang dari Rasulullah,
ternyata dilihat pada urusan di luar dirinya (baca: orang lain).
Sementara itu ada banyak
ukuran yang dijadikan orang sebagai ukuran kebaikan, seperti berpenghasilan
tinggi atau memiliki aset kekayaan yang banyak, memiliki rumah mewah, mobil
mewah atau gelar-gelar kebesaran lainnya yang selalu dapat dibangga-banggakan.
Mengendarai Lamborghini terbaru, real estate, dikelilingi orang-orang yang
menyanjung, yang barangkali kemudian terkesan selalu terpuaskan dengan
keinginannya, banyak diidam-idamkan orang sebagai ukuran keberhasilan,
kebermaknaan atau bahkan tujuan hidup. Pada hasrat dan ragam cita rasa
demikian, secara umum cenderung menempatkan seseorang terputus dari “manusia
lain”. Atau, barangkali ada semacam kesadaran yang menempatkan orang untuk
mengasingkan diri dari orang lain untuk sesuatu yang dipandangnya sebagai
peribadatan.
Allah SWT berfirman:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا
بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ [٣: ١١٢]
“Mereka
diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang
kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia...” (Ali
Imran/3: 112).
Dua konsep dasar – hablun
minallah dan hablun minannas – yang lebih populer disebut
vertikal-horizontal, merupakan dua hal yang tidak jarang disikapi secara
terpisah. Kecenderungan salah satunya seringkali dilakukan dengan berbagai pembenaran
yang cukup menyesatkan. Bahwa substansi hidup adalah menyangkut Sang Khaliq,
bukan berarti dapat menafikan hubungan dengan sesama karena itupun merupakan
kehendak-Nya. Demikian pula sebaliknya, kesolehan “sosial” tanpa didasari
ketaatan kepada-Nya akan menjerumuskan seseorang kekaburan batasan atau membabi
buta sehingga cenderung menghalalkan segala cara.
Hubungan dengan sesama, hablun
minannas, merupakan satu ukuran untuk menilai kualitas hidup. Adalah tidak
terbayangkan apabila seseorang menilai kualitas diri hanya dengan melihat diri
sendiri, sehebat apapun itu. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w. ukuran iman
seseorang dilihat dari cara dia mencintai orang lain, dengan mengatakan:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ
لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (البخاري ومسلم
وغيرهما)
“Tidaklah beriman
seseorang dari kalian sehingga dia dapat mencintai saudaranya seperti ia
mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan perawi lainnya)
![]() |
| Gambar: m.pulsk.com |
Berbagi dengan sesama,
sebagaimana dituntut dalam bersedekah – lih. QS. 02: 267, adalah cara agar
orang lain juga dapat merasakan kenikmatan yang kita rasakan. Membantu
kesusahan, menolong orang yang menderita, dan sifat-sifat lain dalam hal
kebaikan sesial adalah cara agar orang lain tidak merasakan derita, rasa sakit
yang kita sendiri tidak suka dengan keadaan tersebut. Bahkan, dengan
menggunjingkan aib orang lain, Allah menyamakannya dengan sifat orang yang suka
memakan daging bangkai saudaranya sendiri (49: 12).
Di dalam surat Al-Ma’un,
Allah menegaskan bagaimana sebenarnya sifat orang yang tidak mau berbagi,
menolong atau memberi manfaat kepada orang lain sebagai orang yang mendustakan
agama (atau, dalam penafsiran disebut mendustakan hari akhir). Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
؛ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ؛ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ
الْمِسْكِينِ [١۰٧: ١-٣]
“Tahukah
kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim; dan
tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.” (Al-Ma’un/107: 1-3)
Dan di akhir surat,
setelah sebelumnya dijelaskan bahkan orang-orang yang melakukan shalatpun
celaka, jika ia ternyata selalu enggan untuk menjadi bermanfaat untuk orang
lain. Firman-Nya:
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ [١٠٧: ٧]
“dan enggan (menolong
dengan) barang berguna.” (Al-Ma’un/107: 7)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!