Shalat itu tiang agama.
Maka barangsiapa dapat mengukuhkannya sungguh ia telah mengukuhkan agamanya.
Dan sebaliknya, bagi orang yang tidak dapat mengukuhkannya sesungguhnya ia
telah merusak bangunan keberagamaannya. Demikian gambaran dari Rasulullah
s.a.w. ketika menjelaskan kedudukan shalat di dalam Islam. Banyak riwayat
hadits lain yang menjelaskan kedudukan shalat dalam keberagamaan dan shalat
sendiri disebutkan sebagai urusan yang dijadikan pembeda antara seorang mukmin
dan seorang kafir.
Tegaknya agama pada
pribadi seseorang adalah terpenuhinya tugas keberagamaan. Shalat merupakan
tolok ukur dan sekaligus jaminan selamatnya keberagamaan seseorang. Dalam satu
ayat ditegaskan bagaimana shalat akan membentuk pribadi yang jauh dari maksiat
secara total, dalam arti yang terkandung oleh dua pengertian prilaku hina/keji
(fahsya’) dan jahat (munkar), dalam firman Allah SWT:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ
الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
[٢٩: ٤٥]
“Bacalah
apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (At-Taghabun/29: 45)
Namun seringkali muncul
pertanyaan, bahwa seringkali ada orang yang shalat justru perilakunya
bertentangan dengan agama. Sebut saja gambaran seseorang yang tidak pernah
tertinggal shalatnya bahkan selalu berjama’ah, shalat-shalat sunatnya tidak
tertinggal dan bahkan barangkali dikenal umum lebih dari sekedar ahli shalat,
ia adalah seorang tokoh agama atau dikenal sebagai alim ulama, tetapi ternyata dari
sudut pandang yang berbeda ia justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
Islam. Bukankah shalatnya akan menghalangi dia dari berbuat hal-hal buruk atau
jahat?
Secara lahiriah
seseorang dapat memiliki kesan ahli shalat bahkan lebih dari sekedar ahli
shalat. permasalahan seperti ini rupanya telah mengemuka pada masa hidup
Rasulullah s.a.w., ketika itu seseorang mengadukan tentang perilaku seorang
lainnya yang tampak sebagai ahli shalat akan tetapi pagi harinya ia mencuri.
Rasulullah s.a.w. mengatakan:
إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ (رواه أحمد)
“Sesuangguhnya apa yang
dia katakan (dalam shalatnya) itu akan mencegahnya.” (Riwayat Ahmad;
diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dan Al-Bazzar)
Jawaban Rasulullah
s.a.w. menegaskan bahwa bukan persoalan shalatnya yang tidak dapat mencegahnya akan
tetapi bagaimana seseorang dalam melakukan shalatnya tersebut apakah ia telah
memenuhinya dengan segala ketentuan yang melekat pada shalat itu sendiri. Artinya,
bahwa apabila seseorang tetap/selalu melakukan kemaksiatan padahal shalatnyapun
tidak pernah tertinggal adalah indikasi bahwa ia tidak mendirikan shalatnya
dengan sebenar-benarnya.
***
Dalam beberapa riwayat
yang dinukil oleh Ibnu Katsir, yang secara umum merupakan riwayat-riwayat
mauquf dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan Hasan, bahwa bukanlah itu shalat bagi
orang shalatnya tidak dapat mencegahnya dari berbuat keji dan munkar. Ibnu
Katsir juga menukil perkataan Abu Al-‘Aliyah, bahwa setidaknya ada tidak hal
pokok yang melekat pada shalat, yaitu: ikhlas, takut dan dzikir. Keikhlasan akan
mendorong pada kebaikan, takut (kepada Allah) akan mencegah perbuatan yang
dilarang dan dzikir (bacaan Al-Quran) mendorong (pada kebaikan) dan sekaligus
mencegahnya (dari kemunkaran).
Oleh karena itu, justru
di dalam Al-Quran sendiri ada kelompok orang yang dilaknat meskipun mereka
melaksanakan shalat. Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ؛ الَّذِينَ
هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ؛ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ؛ وَيَمْنَعُونَ
الْمَاعُونَ [١٠٧: ٤-٧]
“Maka
celakalah bagi orang-orang yang shalat; (yaitu) orang-orang yang lalai dalam
shalatnya; orang-orang yang berbuat riya; dan enggan (menolong dengan) barang
yang berguna.” (Al-Ma’un/107: 4-7)
Selanjutnya mari kita bermuhasabah, dalam hal segala usaha atau pekerjaan yang kita lakukan, apakah shalat kita merupakan cerminan kekhusyu'an yang tidak lain hanya bertujuan kepada Allah dengan idaman perjumpaan dengan-Nya. Ataukah, sementara di balik kerendahan sujud, kita justru lebih mengidam-idamkan untuk memiliki BMW i8 atau Chevrolet Camaro RS lebih dari keinginan untuk membantu saudara-saudara yang berkesusahan? Maka kepada-Nyalah kita memohon pertolongan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!