Amalan di Bulan Sya'ban

Sya’ban, bulan ke-delapan pada hitungan kalender Hijriyah, memanglah tidak termasuk bulan haram, atau bulan dengan ibadah khusus seperti Ramadhan. Dalam istilah Jawa (termasuk Sunda), bulan ini juga disebut dengan nama Ruwah/Rewah. Sehingga ada beberapa tradisi yang biasa dilakukan masyarakat jawa dan itu disebut Rewahan, seperti halnya tradisi memperingati Isra Mi’raj dengan istilah Rajaban. Di dalam syari’at Islam memang tidak terdapat ibadah khusus berkenaan dengan bulan Sya’ban sendiri, apakah pada sebagian atau secara keseluruhan. Namun bulan Sya’ban bukannya tidak memiliki kekhsususan (istimewa) dalam hal sudut pandang syar’i.
__
Bahwa ibadah memiliki cakupan luas dan setiap orang dapat meraih keutamaannya dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan dan segala potensi yang dimilikinya. Akan tetapi apabila menyangkut ibadah mahdhah, ibadah yang secara ditetapkan dengan pewahyuan dengan sifat langsung kepada Allah SWT, maka hendaklah kita berhati-hati agar tidak terjerumus pada perkara yang dibuat-buat. Salah satu kaidah ulama ushul dalam menetapkan ibadah, menjelaskan bahwa:

الأصل في العبادات الحظر والمنع حتي يقوم دليل على الأمر أو التكليفُ
“Hukum asal dari ibadah itu terlarang/batal kecuali jika terdapat dalil yang memerintahkan atau menetapkannya.”

Senada dengan apa yang disebutkan dari Aisyah r.a., Rasulullah s.a.w. berkata:

من عمل عملاً ليس علي أمرنا فهو رَدٌّ (مسلم)
“Barangsiapa yang melakukan satu amalan (ibadah) yang tidak termasuk urusan (yang datang dari) kami, maka hal itu tertolak.” (Riwayat Muslim)

Diantara kekhususan bulan ini, diungkapkan dalam suatu hadits berikut. Usamah bin Zaid r.a. berkata: “Aku bertanya; ya Rasulullah, aku tidak mendapati engkau berpuasa seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Maka Rasulullah s.a.w. berkata:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ (رواه أبو داود، والنسائي وصححه ابن خزيمة)
“Itu adalah bulan yang kebanyakan orang berbuat lalai atasnya, antara Rajab dan Ramadhan, dan bulan itu adalah saatnya diangkat amal perbuatan ke hadapan Tuhan semesta alam, dan aku lebih suka ketika amal perbuatanku diangkat aku dalam keadaan berpuasa.” (Riwayat Abu Dawud dan Nasai, dishahihkan oleh Ibn Huzaimah)

Hadits ini menunjukkan bahwa Sya’ban merupakan sesi akhir pembukuan amalan tahunan sebelum dibuka lembaran baru dengan bulan Ramadhan yang merupakan bulan yang paling mulia sebagai pembuka catatan amal baru. Sebagaimana secara umum ditetapkan sebagai satu ukuran kebaikan seseorang di akhir hidupnya (husnul khatimah), Rasulullah secara khusus mencintai keadaan terbaik di akhir sesi amalan tahun tersebut – di bulan Sya’ban – dalam keadaan yang terbaik pula yaitu dengan berpuasa.
Aisyah r.a. berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ، وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ  (ومسلم)
“Rasulullah s.a.w. berpuasa sehingga kami mengatakan ia tidak berbuka, dan beliau berbuka (tidak berpuasa) sehingga kami mengatakan ia tidak berpuasa. Dan tidak pernah aku mendapati Rasulullah menyempurnakan puasa secara penuh selama satu bulan kecuali di bulan Ramadhan, dan aku tidak mendapatinya yang lebih banyak berpuasa di dalamnya kecuali di bulan Sya’ban.” (Riwayat Muslim)

_
Adapun mengenai malam Pertengahan Sya’ban (Nishfu Sya’ban), yang disebutkan “disunnahkan” untuk menghidupkan malamnya dan berpuasa di siang harinya, tidak ada dalil shahih yang dapat dijadikan dasar dalam hal mengkhususkan amalan tertentu pada malam atau tanggal pertengahan dari bulan Sya’ban. Beberapa riwayat tentang itu mendapat catatan khusus dari para ahli hadits sebagai hadits munkar atau dha’if. Dalam hal ini pula, mengkhususkan amalan pada satu malam dengan maksud untuk meraih kemuliaan bulan Sya’ban tampaknya cukup bertentangan dengan apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w. sendiri dengan apa yang dilakukan beliau sebagaimana diungkapkan dalam hadits dari Aisyah r.a. di atas.
Maka secara umum, apabila kita hendak mengisi Sya’ban dengan amalan utama tidaklah harus mengkhususkan satu amalan tertentu pada waktu tertentu saja. Selain dengan memperbanyak puasa sunat, sebagaimana Rasulullah s.a.w. mendambakan keadaan yang terbaiknya dalam melakukan amal soleh, maka seyogyanya kita pun lebih banyak lagi melakukan amal soleh dengan harapan dapat menghiasi sesi akhir pembukuan amal sholeh yang baik yang dihadapkan kepada Allah SWT.

Wallahua’lam


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!