Memberi nama yang baik untuk anak sangat dianjurkan oleh
Rasulullah s.a.w. dan sebagai bagian dari sunnahnya sebaiknya dilakukan
menjelang pelaksanaan aqiqah. Tidak jarang orang tua yang terkesan tidak begitu
‘peduli’ dengan nama yang baik untuk buah hatinya. Ungkapan ‘apalah arti sebuah
nama’ memang terkesan logis ketika seseorang mendapati seolah tidak adanya
relevansi nama dengan keadaan seseorang. Jika saja demikian, maka kemudian jika
seseorang tidak memiliki nama sama sekali akan sama nilainya dengan memiliki
nama. Katakanlah seperti sebuah kursi, tak ada yang membuatnya berbeda dengan
atau tanpa diberi nama (identitas diri) kecuali ada sifat yang diperlukan untuk
identifikasi dan hanya sebatas nomor saja.
Dan sebaliknya, boleh jadi ada nama-nama yang diberikan
pada seorang anak oleh orang tuanya tanpa diketahui makna atau arti sama
sekali. Boleh jadi, alih-alih mengikuti penilaian bahwa nama tidak berpengaruh
apa-apa pada anaknya, sang orang tua memberi nama yang tidak berarti sama
sekali.
Nama adalah harapan, doa dan cita-cita. Bahkan, jika itu
tentang pilihan, nama adalah pencitraan identitas atau bahkan identitas itu
sendiri. Nama yang baik, bahkan di saat orang melihat fakta bahwa sang pemilik
nama justru mencerminkan hal-hal yang bertentangan dengan namanya sendiri, pada
titik tertentu justru berperan penting dalam mengembalikan atau memberi harapan
baru padanya.
Rasulullah s.a.w. berkata:
إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللهِ
عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ (رواه مسلم
وغيره)
“Sesungguhnya nama-nama yang paling dicintai Allah adalah
abdullah dan abdurrahman.” (Riwayat Muslim dan perawi lainnya)
Pada nama ‘abdullah’ dan ‘abdurrahman’ terdapat makna
yang sangat agung mengingat nisbat tersebut mengukuhkan hakikat dan tujuan
kehidupan seorang anak. Penghambaan kepada Allah, dari kata abd, adalah
pilihan terbaik yang akan menjadi jalan hidup seseorang. Sangat penting untuk
diingat, bahwa dalam jalan penghambaan – (baca: Islam), seyogyanya dapat
membuat seseorang menafikan ‘jalan-jalan’ lain, mengingat firman Allah berikut:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٦: ١٥٣]
“dan
bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia,
dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
agar kamu bertakwa.” (Al-An’am/6: 153)
Dengan demikian, beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan
dalam memberi nama anak/bayi:
a.
Diutamakan menggunakan nama dengan nisbat kepada Allah,
nisbat penghambaan lebih baik, dengan merangkaikan nama pada lafazh Jalalah
(Allah) atau mengambil dari Asmaul Husna. Dan penting untuk dihindari, yaitu
menggunakan nama yang mengandung makna syirik/kufur, seperti dengan nisbat kata
“abd” pada hal-hal selain Allah, seperti “abdunnabi”, “abdul
ka’bah” dan sebagainya. Akan tetapi nisbat kepada Allah juga harus
dihindari dengan nisbat yang tidak mengagungkan Nama Allah seperti nama “abul
hakam”.
b.
Memilih nama yang baik secara umum (tidak berarti harus
dari bahasa Arab), karena nama adalah do’a untuk anak dan setiap bahasa sudah
tentu memiliki arti yang mengarah pada makna kebaikan.
c.
Menghindari nama yang mengagungkan kepentingan diri atau
mengagungkan diri, atau nama-nama yang dapat memancing datangnya cacian atau
olok-olok.
Nama dengan nisbat pada Asma Allah;
Sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah s.a.w., nama yang
dinisbatkan kepada Allah SWT adalah nama yang paling disukai oleh Allah. Nama
“abdullah”, sebagai contoh, adalah pengukuhan sesorang bahwa ia adalah hamba
Allah yang tidak lain merupakan tujuan dan subtansi penciptaan. “Abdullah”
mencerminkan identitas yang sebenarnya tentang seseorang dan sebagai harapan
nama tersebut dapat menuntunnya pada tujuan dari hidup yang sebenarnya, yang haqq
dan sebagai pengakuan sendiri kepada Sang Khalik.
Memberikan nama dengan nisbat kepada Allah merupakan doa
dan harapan agar sang anak senantiasa berada dalam fitrohnya. Hal ini sangatlah
penting untuk diperhatikan, mengingat peringatan Rasulullah s.a.w. tentang
peran orang tua yang secara umum diasumsikan sebagai kesalahan pertama dalam
memalingkan anak dari fitrohnya. Fitroh adalah beragama Islam yang dasar
keyakinannya penghambaan kepada Allah dan menafikan selain-Nya (tauhid). Fitroh
adalah satu-satunya pilihan karena ia merupakan kodrat penciptaan dan tidak ada
sesuatu yang lain yang dapat menggantikannya.
Allah SWT berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ
اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا
يَعْلَمُونَ [٣٠: ٣٠]
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum/30: 30)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!