Jodoh dan Istikharah

Jodoh adalah pilihan sekali seumur hidup. Kira-kira demikian salah satu alasan yang paling mengemuka kenapa dalam banyak orang yang sangat serius atau kesulitan dalam memilih pasangan hidup. Barangkali ada yang memiliki cara pandang yang berbeda, akan tetapi hal tersebut tidak serta merta dapat menempatkan persoalan pilihannya menjadi lebih mudah. Dan di sisi lain, dengan cara pandang yang manapun, ‘ketidakseriusan’ dalam memilih pasangan hidup boleh jadi merupakan sumber malapetaka yang akan didapatkan seseorang dari pasangannya.

Apa yang dimaksud dengan ‘serius’ dalam memilih pasangan hidup, bukanlah dalam pengertian bahwa hal itu sangat pelik, besar, dan memberatkan. Secara mendasar seseorang sudah dikatakan cukup serius dengan pilihannya apabila ia cukup tahu bahwa apa yang dipilihnya baik untuk dirinya. Maka yang menjadi persoalan kemudian adalah yang seperti apakah yang terbaik itu.
Rasulullah s.a.w. telah memberikan tuntunan tentang bagaimana memilih pasangan hidup, yang boleh jadi  setelah seseorang cukup memahami tuntunan tersebut dan menetapkan pilihannya, yang merupakan satu cara yang terbaik yang harus ditempuh. Namun, dengan pilihan yang didapatkan dengan kriteria-kriteria dan kelebihan yang dimilikinya, apakah serta merta menafikan yang disunnahkan Rasulullah s.a.w. mengenai berbagai urusan kehidupan, yakni shalat  istikharah?

Ada sudut pandang yang kurang tepat dalam menempatkan salah satu sunnah Rasulullah yang satu ini, yakni barang hal itu cenderung dilakukan orang ketika dihadapkan dengan kebingungan dalam memilih apakah itu merupakan satu pilihan, dua atau lebih. Oleh karena itu, ketika seseorang merasa cukup yakin dengan calon yang dimilikinya, seringkali melewatkan sholat istikhoroh.
Allah SWT berfirman:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ [٣١: ٣٤]
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Luqman/31: 34)

Bahwa seseorang meyakini kebaikan dari sesuatu dengan berpegang pada segudang kriteria yang melekat padanya adalah hal yang cukup wajar. Akan tetapi, patut diingat, tak ada sesuatupun yang dapat menjaminnya dari mendapatkan kebaikan atau apa yang akan diperbuat/terjadi dengannya keesokan hari, maka yang seharusnya tetap dilakukan seseorang adalah sunnah Rasulullah s.a.w., yakni sholat  istikharah.
__
Jadi, baik seseorang merasa cukup yakin dengan pasangan yang akan/telah dipilihnya maupun mengalami kebingungan, maka yang seharusnya dilakukan seseorang adalah sholat istikharah. Karena, sebagaimana tertuang dalam do’a istikharah tersebut, kita mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengetahui dan memiliki karunia yang tiada tara, untuk dipilihkan, ditakdirkan, dimudahkan pada hal yang baik untuk agama kita, kehidupan kini dan kelak saat kembali kepada-Nya. Karena Allah SWT telah berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [٢: ٢١٦]
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah/2: 216)




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!